Seorang pelajar yang terdampar di atas lantai rumah, lelah berjalan kaki pulang sekolah. Dia mulai berdiri membereskan perlengkapan dan mengganti seragam sekolahnya. Duduk bersandar di tembok
rumah dan asik memainkan handphone miliknya. Tak lama dia teringat banyak pekerjaan rumah yang
diberikan oleh gurunya.
Panggil saja Nabila, siswi madrasah yang selalu menumpuk tugasnya. Jika guru memberikan tugas pasti dia mengerjakan saat ingin jatuh tempo. Tugas tersebut membuat dia stres, terutama di pelajaran hitung-hitungan. Bukan tidak bisa, tapi melihat angka saja sudah membuat pusing kepalanya.
Emosi dirinya kacau, ketika diajak berbicara sampai dia tidak tahu siapa yang mengajaknya berbicara.
Dengan suara kencang membentak orang yang mengajaknya berbicara. Suatu ketika dia mulai sadar dan mencoba untuk bertanya-tanya kepada dirinya, mengapa saya membentak orang lain tanpa dia
sadari?
Nabila mencoba mencari tahu mengenai hal tersebut di handphone miliknya. Dia menemukan cara untuk mengendalikan emosi yang tidak stabil pada dirinya dengan meditasi. Dia coba membaca dan mencari tahu lebih dalam tentang meditasi. Setelah rasa pensarannya terjawab, Nabila menemukan beberapa fakta unik mengenai meditasi ini.
Nyatanya, meditasi dapat menghilangkan stres dan mengatur emosi. Banyak dari sebagian orang menyesal karena tidak dapat mengendalikan emosi dengan baik. Emosi yang berlebihan tidak hanya
berdampak buruk bagi diri sediri saja, tetapi semua orag di sekitar terkena dampaknya.
Dari fakta itu, Nabila merasa memang benar menggambarkan dirinya. Tanpa pikir panjang Nabila mulai mencoba meditasi dengan mengikuti cara yang ada di handphonenya. Sudah seminggu lebih
dia menggunakan waktu senggangnya untuk bermeditasi antara 5-10 menit. Nabila mulai merasakan efek dari bermeditasi tersebut, membuat dirinya jauh lebih bisa mengontrol emosi dan tidak terlalu stres ketika ada tugas yang menumpuk.
Ternyata fakta unik lainnya yang ada di meditasi itu yang Nabila mulai rasakan. Kecemasan dan depresi akan tugas memang membuat emosi Nabila tidak terkontrol. Setelah bermeditasi dia mulai memahami kecemasan dalam pikirannya. Setiap bermeditasi Nabila semakin akrab dengan kecemasan dan akhirnya pikiran dapat dia kendalikan. Selain itu meditasi dapat memperkuat daya tahan tubuh sehingga tidak mudah terkena penyakit.
Terlalu banyak stres dapat membahayakan tubuh, karena terlalu banyak meningkatkan tekanan darah
yang membuat jantung bekerja lebih keras. Bahkan bisa memicu berbagai masalah jantung dan pembuluh darah, seperti stroke bahkan serangan jantung.
Kegiatan meditasi sebenarnya menjadi kebutuhan penting untuk memperkuat imunitas sekaligus menjaga kesehatan. Karena meditasi membuat diri kita rileks, meningkatkan antibodi dan mengurangi
stress sehingga tekanan darah tetap stabil.
Banyak orang yang takut akan meditasi, orang mengira meditasi merupakan suatu ritual keagamaan. Sehingga mereka tidak yakin akan dampak positif dari meditasi tersebut. Hal yang tidak diingat bahwa meditasi melatih pikiran untuk fokus pada satu objek, bukan mengosongkan pikiran. Banyak orang yang mengosongkan pikirannya sehingga salah dalam melakukan meditasi.
Seharunya meditasi lebih bayak diajarkan ke masyarakat, membuat negeri ini terhindar dari kejahatan criminal, bunuh diri dan banyak yang lainnya. Dari meditasi sendiri membuat orang merasa lebih enak dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya.
Tugas sekolah maupun kantor tidak akan menjadikan masalah saat pikiran bisa dikendalikan sebenarnya tujuan dari meditasi ini adalah membuang energi negatif pada diri seseorang dan
meningkatkan energi positif.
Rasa penasaran untuk berubah dari Nabila terpenuhi, membuat dirinya sekarang lebih mudah mengontrol emosinya. Dia berharap terus bisa mengendalikan emosinya dimanapun berada. Emosi tidak dapat membuat pekerjaan selesai. Emosi yang akan mengendalikan kita dapat berujung pada kematian. Jangan takut untuk mulai memperbaiki emosi dengan meditasi, jangan sampai meninggal karena bunuh diri atau yang lainnya. Setidaknya, kita dapat menikmati kehidupan kita dengan bahagia bersama orang di sekitar kita.(*)
Oleh: Achmad Sajidan, Mahasiswa
Politeknik Negeri Jakarta, Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, Prodi Penerbitan (Jurnalistik)








