Tol Trans Sumatra Rawan Begal

Avatar photo

Ariranews.com: Beberapa ruas Tol Trans Sumatera masih sepi. Kondisi ini memang rawan memicu kejahatan bagi pengguna jalan. Hal itu diakui Direktur Utama PT Hutama Karya Budi Harto. Namun, di sisi lain keberadaan tol ini perlahan mengangkat ekonomi kawasan Sumatera.

Dilansir dari CNBC Indonesia, Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat Djoko Setijowarno mengatakan dari sekian panjang Tol Trans Sumatera dari Utara dan Selatan, hanya ada ruas yang dianggap rawan yaitu tol bagian selatan di wilayah Mesuji dan Kayu Agung.

BACA JUGA:  Lantik Pengurus FPK 2025-2030, Bupati Iskandarsyah Tekankan Harmoni Jadi Kunci Investasi Karimun

Beberapa kejadian tindak kejahatan pembegalan kendaraan pernah terjadi di sana. Namun, sebaliknya di ruas lain atau sisi utara tak ada persoalan.

“Ini memang masalah sosial di sana, sebagai pembanding tol di Kalimantan juga sepi, tapi malah aman,” kata Djoko  kepada CNBC Indonesia, Kamis (26/11).

Djoko mengatakan selain masalah sosial dan keamanan, keberadaan Tol Trans Sumatera punya sisi positif bagi ekonomi. Pastinya mobilitas orang lebih mudah dan kecepatan waktu tempuh semakin cepat.

BACA JUGA:  Dari Kampus ke Ruang Siber: Pesan Meutya untuk 1.502 Lulusan Telkom University

Ia mengatakan waktu tempuh Jakarta-Palembang kini bisa diraih 8-10 jam, berbeda jauh dari sebelum adanya Tol Trans Sumatera yang harus ditempuh lebih dari 15 jam.

“Sekarang efek positifnya, Palembang dan Lampung mobilitas tinggi. Di Palembang kan nggak ada pantai, warga Palembang sering ke Lampung untuk ke pantai. Sebaliknya, warga Lampung sedikit mal, mereka ke Palembang yang lebih banyak mal-nya, cuma 3-4 jam, dulu sampai 10 jam,” katanya.

BACA JUGA:  PGN Catatkan Kinerja Positif di Q1 2026, Laba Naik dan Fokus Layani Domestik

Djoko mengatakan kini ekonomi perlahan menggeliat karena keberadaan Tol Trans Sumatera, antara lain muncul bisnis penyewaan mobil, bus AKAB berkembang, travel, dan wisata makin hidup.(emr)

sumber: CNBC Indonesia
foto: ilustrasi