Usaha Dulu, Hasil Kemudian

Ilustrasi/Int.

Oleh: Sri Latifah Nasution, Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta

Usai menempuh beberapa jam perjalanan, bus kami pun sampai di lokasi bumi perkemahan. Capek dalam perjalanan terbayar dengan keindahan alam yang terhampar di depan mata. Bahkan teriknya matahari siang itu yang tepat di atas ubun-ubun tak terasa lagi. Ditambah senyum sumringah teman-teman lainnya menambah semangat kami untuk berpartisipasi dalam kegiatan Pramuka Tingkat 1 yang akan segera kami ikuti.

Tak berlama-lama, kami pun segera menurunkan barang-barang dan keperluan lainnya dari dalam bus dan membawanya ke lokasi perkemahan. Kami mendapatkan lokasi yang agak jauh dari lapangan utama. Tapi itu tak jadi masalah. Bagi seorang ‘Kepanduan’ tentunya tak ada kata-kata menyerah. Lagi pun lokasi tenda sudah ditentukan dari hasil undian saat pendaftaran, bukan pilih-pilih.

Semua barang sudah terkumpul di lahan tenda kami. Di sekitar area tenda kami sudah berdiri tenda-tenda milik sekolah lain yang beberapa sudah dilengkapi dengan pagar dan gapura di depannya.

“Tempat kita harus bagus dari mereka,” kata salah seorang temanku. “Tentu dong,” jawabku.

Segera kami bahu membahu mendirikan tenda. Sesekali teman laki-laki satu sekolahku datang mengambil barang yang terbawa ke area tenda putri. Beberapa kali tenda hampir rubuh karena ikatan pada pasak yang tidak seimbang juga tiang penyangga tenda yang bergeser. Selesai mendirikan tenda, beberapa dari kami segera membuat drainase di sekitar tenda, agar saat turun hujan tenda kami tidak kebanjiran, sementara beberapa lainnya membuat pagar beserta gapura, juga dapur kecil di halaman belakang tenda.

BACA JUGA:   7 Polwan Polda Kepri Ikuti Konferensi Polwan Sedunia

Selepas ashar, diadakan upacara pembukaan. Usai upacara juga dibuka perlombaan; Membuat Peta Perjalanan. Di mana setiap regu harus menyusuri lokasi yang sudah ditentukan oleh panitia. Lokasi yang pertama yang harus dilalui adalah hutan yang tidak terlalu lebat. Meskipun sudah ditentukan, tetapi penyusurannya tidak mudah. Panitia tidak secara gamblang menunjukkan arahnya, tetapi kami yang harus mencarinya. Rambu-rambu yang dibuat panitia bisa berupa rumput yang diikat, patahan ranting, tanda di tanah, dan lainnya.

Setiap area yang kami lalui harus dibuat petanya di secarik kertas yang diberikan oleh panitia. Bukan hanya petanya tetapi juga kisaran jarak dan derajat arah mata anginnya. Setiap regu memang diwajibkan untuk membawa kompas agar peta yang dibuat lebih akurat. Tidak sekali dua kali kami berselisih paham dalam membuat peta tersebut. Tetapi kami mencoba meyelesaikannya dengan baik.

BACA JUGA:   KBPP Polri Kepri Bagikan Ribuan Paket Sembako dan Gelar Donor Darah

Setelah berhasil keluar dari hutan, kami sampai di tepian sungai keruh yang tidak terlalu deras. Di seberang sana, ada dua panitia yang berdiri mengawasi peserta yang sudah lebih dulu menyeberang daripada kami. Segera kami menyusul regu tersebut sambil mengangkat tongkat pramuka ke atas kepada masing-masing. Ternyata sungai itu cukup dalam. Awalnya hanya sebatas pinggangku saja, kemudian semakin ke tengah air mencapai sebatas dada dan akhirnya aku tidak bisa mencapai dasar sungai lagi. Beruntung jarak ke tepian sudah tidak terlalu jauh lagi, jadi kami saling bantu agar bisa segera keluar dari sungai tersebut.

Setelah berhasil mencapai daratan, kami masih harus melanjutkan perjalanan lagi. Kami kembali melewati pinggiran hutan. Namun, kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya. Ada beberapa ekor sapi yang sedang memakan rerumputan di sana. Memang sapi-sapi tersebut diikat, tetapi ikatannya cukup longgar agar mereka bisa bergerak bebas.

Beberapa temanku hampir menangis karena takut. Mereka meminta agar kembali ke pos sebelumnya saja. Setelah menenangkan mereka, kami segera berjalan melewati sapi-sapi tersebut. Beberapa sapi ada yang melihat ke arah kami, ada juga yang mulai bergerak mendekati kami. Kami tidak berani berlari karena takut sapi tersebut kaget dan mengejar kami.

BACA JUGA:   Gubernur Ingatkan Pejabat Kepri yang Baru Dilantik, Tandatangani Pakta Integritas

Keluar dari hutan tersebut, kami lega luar biasa. Meski awalnya takut, tapi akhirnya kami menertawakan kelakuan kami tadi. Tawa kami terhenti saat temanku merogoh saku celananya dan mengeluarkan kertas yang sudah basah. Itu adalah kertas peta yang sudah kami buat. Kami lupa mengeluarkannya sebelum masuk ke sungai. Beruntungnya, kertas tersebut belum hancur, walaupun tintanya sudah mengembang dan tidak terbaca lagi. Kami membuka lipatan kertas tersebut dengan hati-hati dan menjemurnya di atas rerumputan yang terkena sinar matahari.

Kami tidak bisa menunggu kertas tersebut sampai benar-benar kering karena kami masih harus mengikuti jadwal kegiatan berikutnya. Di sisi kertas yang masih kosong, kami membuat kembali peta perjalanan kami dari awal. Di sini kami dituntut untuk tidak egois mengeluarkan pendapatnya karena kami adalah tim.

Selesai dengan urusan menggambar peta, kami segera menyerahkan peta tersebut kepada panitia yang sudah menanti di pos terakhir. Kami tidak peduli hasilnya nanti, apakah kami menang atau tidak, yang penting kami sudah berusaha dan bekerja sama semampu kami.(sn)