Investasi Rp120 Triliun Percepat Transformasi Batam dari Kota Industri ke Hub Digital

Avatar photo
Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam saat memberikan keterangan pers usai kunjungan ke Kampung Nelayan Merah Putih, Sembulang, Kecamatan Galang.

AriraNews.com, Batam – Batam semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pusat ekonomi digital di Asia Tenggara. Sedikitnya 20 proyek data center dengan total nilai investasi lebih dari Rp120 triliun kini berkembang di kota tersebut, menandai pergeseran Batam dari basis industri manufaktur menuju kawasan strategis bagi investasi teknologi digital.

Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, mengatakan nilai investasi tersebut bahkan belum termasuk sejumlah proyek yang masih berada dalam tahap persiapan dan belum diumumkan kepada publik.

Menurutnya, investasi di sektor data center tidak hanya menghadirkan pembangunan fisik atau lapangan kerja langsung, tetapi juga menciptakan efek berganda (multi-layer effect) yang menggerakkan berbagai sektor ekonomi, mulai dari konstruksi, transportasi, perdagangan, jasa, hingga sektor informal.

“Investasi yang masuk sekarang sudah mencapai sekitar Rp120 triliun, termasuk sekitar 20 data center. Ada yang bertanya karena investasi ini tidak terlalu banyak menyerap tenaga kerja seperti industri manufaktur padat karya. Padahal dampak ekonominya jauh lebih luas,” ujar Amsakar, Kamis (8/7/2026).

Salah satu Data Center di Kawasan KEK Nongsa, Batam.

Ia menjelaskan, investasi di bidang teknologi informasi, cloud computing, dan ekonomi digital akan menciptakan kebutuhan baru terhadap tenaga kerja dengan kompetensi khusus. Karena itu, Batam perlu menggeser fokus pembangunan dari sekadar mengejar industri padat karya menjadi penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

BACA JUGA:  Catatan Buralimar: Perhelatan Kenduri Seni Melayu Batam Lebih dari Sekadar Pesta Rakyat

“Investasi teknologi informasi, IT, cloud, atau apa pun namanya yang masuk ke Batam akan memberikan multi-layer effect. Pertama tentu soal ketersediaan SDM. Akan ada pendidikan dan pelatihan bagi orang-orang tertentu untuk mengelola fasilitas tersebut,” katanya.

Amsakar menambahkan, manfaat ekonomi sudah mulai dirasakan sejak tahap pembangunan proyek. Aktivitas konstruksi mampu menyerap ribuan tenaga kerja sekaligus menggerakkan rantai pasok berbagai sektor usaha.

“Ketika pembangunan dimulai saja sudah banyak orang yang bekerja. Jadi tidak harus selalu melihat industri kecil atau industri padat karya. Yang harus kita lakukan sekarang adalah mempersiapkan SDM yang mampu memenuhi kebutuhan pasar kerja yang terus berkembang,” ujarnya.

Menurutnya, geliat investasi digital juga mendorong pertumbuhan sektor informal. Aktivitas ekonomi masyarakat semakin meningkat, terlihat dari berkembangnya pusat-pusat kuliner dan usaha mikro di berbagai kawasan di Batam.

“Kalau kita berjalan malam di beberapa titik strategis di Batam, kawasan Thamrin ramai, Bengkong juga luar biasa. Hampir di seluruh titik di Batam, sektor informal tumbuh dengan sangat subur,” katanya.

Amsakar menegaskan, keberhasilan investasi kini tidak lagi hanya diukur dari jumlah tenaga kerja formal yang terserap, tetapi juga dari dampak ekonomi yang ditimbulkan terhadap berbagai sektor.

BACA JUGA:  Tingkatkan Keandalan Listrik di Senjulung, PLN Batam Percepat Pembangunan Gardu Baru

“Perkembangan ekonomi memberikan multi-layer effect. Tidak hanya bicara soal tenaga kerja formal, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap sektor informal.”

Ia menyebut sektor transportasi, properti, konstruksi, perdagangan, jasa, pariwisata, hingga kuliner ikut memperoleh manfaat dari masuknya investasi tersebut.

“Sektor transportasi pasti hidup. Properti berubah, konstruksi berubah, perdagangan, jasa, pariwisata, kuliner, dan berbagai sektor kehidupan lainnya, terutama sektor informal, juga akan berkembang,” ujarnya.

Menurut Amsakar, Batam kini tengah memasuki fase transformasi industri. Dalam satu hingga dua tahun terakhir, struktur ekonomi mulai bergeser dari dominasi manufaktur menuju industri berbasis teknologi dan ekonomi digital.

“Beberapa saat terakhir ini relatif industri kita mulai bergeser. Dari manufaktur bertransformasi. Dalam satu sampai dua tahun terakhir sudah ada delapan investasi yang masuk,” katanya.

Transformasi tersebut berjalan seiring dengan membaiknya berbagai indikator ekonomi daerah. Pertumbuhan investasi terus meningkat, sementara angka kemiskinan dan tingkat pengangguran menunjukkan tren penurunan.

“Alhamdulillah perkembangan ekonomi kita baik. Pertumbuhan investasi terus melaju, angka-angka ekonomi lainnya juga tumbuh,” ujarnya.

Berdasarkan data yang dipaparkan, tingkat pengangguran terbuka di Batam turun dari sekitar 7,6 persen menjadi sekitar 7 persen. Sementara angka kemiskinan berhasil ditekan hingga turun sekitar 1,04 persen.

BACA JUGA:  Tak Perlu Keluar Rumah! CassMira Hadirkan Layanan Spa dan Pijat Profesional ke Rumah Anda

Meski demikian, tingginya arus migrasi masih menjadi tantangan dalam menekan angka pengangguran.

“Setelah kita membuka kesempatan kerja, angka pengangguran lebih banyak disebabkan oleh arus migrasi yang masuk. Begitu seseorang mendapatkan kartu pencari kerja atau kartu kuning, enam bulan kemudian datanya sudah masuk sebagai penduduk Batam dalam statistik, meskipun belum memiliki KTP Batam,” jelasnya.

Sementara itu, BP Batam mencatat sedikitnya 20 proyek data center kini berkembang di Batam dengan total investasi lebih dari Rp120 triliun. Nilai tersebut belum termasuk sejumlah proyek baru yang masih dalam tahap persiapan.

Besarnya investasi tersebut menandai perubahan posisi Batam di kawasan. Kota ini tidak lagi dipandang sebagai alternatif investasi, tetapi mulai diperhitungkan sebagai salah satu simpul penting infrastruktur digital di Asia Tenggara.

Di balik besarnya nilai investasi, data center menjadi fondasi utama ekonomi digital modern. Berbagai layanan berbasis cloud computing, kecerdasan buatan (AI), perbankan digital, perdagangan elektronik, media sosial, hingga berbagai aplikasi digital bergantung pada pusat data yang beroperasi selama 24 jam.

Dengan semakin banyaknya investasi digital yang masuk, Batam diproyeksikan berkembang tidak hanya sebagai pusat industri manufaktur, tetapi juga sebagai hub ekonomi digital yang menopang pertumbuhan teknologi di tingkat regional. (emr)