Ariranews.com, Natuna – Pemerintah Kabupaten Natuna menyiapkan kawasan konservasi seluas 39 hektare di wilayah Mekarjaya sebagai langkah perlindungan terhadap Primata Kekah Natuna (Presbytis natunae) yang kini terancam mengalami penurunan populasi. Satwa endemik khas Natuna tersebut saat ini berstatus Vulnerable atau rentan berdasarkan penilaian konservasi internasional.
Langkah konservasi itu mengemuka saat Bupati Natuna Cen Sui Lan menerima audiensi sejumlah peneliti dan pegiat konservasi primata di Ruang Kerja Bupati Natuna, Selasa (19/5/2026). Pertemuan tersebut menjadi momentum penguatan sinergi antara pemerintah daerah, peneliti, dan komunitas lingkungan dalam menjaga kelestarian Kekah Natuna.
Dalam audiensi itu hadir primatologis dari Mandai Nature Singapore Dr. Andie Ang, Founder Bilaku sekaligus Direktur Politeknik Bintan Cakrawala Emilia Ayu Dewi K., peneliti flora Singapura Ng Bee Choo, serta perwakilan Yayasan Mantau Kekah Natuna Ahdiani.
Mereka melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan “Kekah Day” yang digelar pada 18 Mei 2026 di Desa Mekarjaya, Kabupaten Natuna. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga habitat primata endemik Natuna.
Selain itu, para peneliti juga menyerahkan dokumen Asian Langurs (Presbytis) Conservation Action Plan 2024–2034 dari International Union for Conservation of Nature sebagai acuan internasional dalam upaya konservasi primata langka di Asia.
Dalam pemaparan audiensi dijelaskan bahwa Kekah Natuna merupakan satu dari 20 jenis primata langur di Indonesia dan hanya ditemukan di wilayah Natuna. Satwa ini masuk kategori rentan karena jumlah populasi yang terbatas dan terus mengalami penurunan akibat ancaman terhadap habitat alaminya.
Pemerintah Kabupaten Natuna pun mengambil langkah konkret dengan menetapkan kawasan konservasi seluas 39 hektare di wilayah Mekarjaya. Kawasan tersebut diharapkan menjadi habitat perlindungan sekaligus pusat edukasi konservasi bagi masyarakat.
Bupati Natuna Cen Sui Lan mengatakan pelestarian Kekah Natuna merupakan tanggung jawab bersama karena satwa tersebut menjadi bagian penting identitas dan kekayaan hayati daerah.
“Kekah Natuna adalah warisan alam yang tidak dimiliki daerah lain. Jika tidak dijaga bersama, kita khawatir populasinya terus menurun. Karena itu pemerintah daerah berkomitmen memperkuat perlindungan habitatnya,” ujar Cen Sui Lan.
Ia menambahkan, upaya konservasi juga berkaitan erat dengan proses Natuna menuju Aspiring UNESCO Global Geopark. Menurutnya, biodiversitas menjadi salah satu pilar penting yang terus diperkuat selain geodiversity dan cultural diversity.
“Kami ingin Natuna dikenal bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga keseriusan dalam menjaga kelestarian biodiversitas, termasuk Kekah Natuna sebagai satwa endemik kebanggaan daerah,” tambahnya.
Pemkab Natuna juga terus menjalin kerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam serta berbagai komunitas lingkungan untuk memperkuat perlindungan habitat alami Kekah Natuna.
Kehadiran kawasan konservasi 39 hektare menjadi langkah awal yang strategis, namun keberhasilan pelestarian tetap membutuhkan pengawasan berkelanjutan dan keterlibatan masyarakat.
Jika dikelola secara konsisten, konservasi Kekah Natuna tidak hanya menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga berpotensi menjadi kekuatan baru pengembangan ekowisata dan pendukung utama Natuna menuju UNESCO Global Geopark.
(Dod)









