AriraNews.com, Batam – Angin laut yang lembut menyapu pesisir Pulau Belakang Padang, Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam, Rabu (19/11/2025) siang. Matahari menggantung condong, memantulkan kilau dari permukaan air yang memisahkan pulau kecil ini dengan Batam. Para penumpang yang baru turun dari boat pancung berjalan tergesa menuju pintu keluar pelabuhan. Di sanalah, berjejer becak-becak tua yang menjadi ikon wisata pulau tersebut.
Di antara becak yang catnya mulai pudar, seorang lelaki berusia 46 tahun duduk sambil menggenggam ponsel di tangannya. Sesekali ia menatap layar ponsel itu, hampir seperti seseorang sedang memelajari benda asing yang tiba-tiba datang dalam hidupnya.
Lelaki itu adalah Basirun, penarik becak yang sejak tahun 1990-an setia mengayuh pedal di jalan-jalan kecil Belakang Padang. Seperti orang yang lahir di pulau ini, hidupnya dekat dengan laut, angin, dan kendaraan roda tiga sederhana yang telah menjadi sahabatnya selama puluhan tahun.
“Kadang kalau dapat kerja di Batam saya kerja dulu,” ujarnya. “Berhenti kerja, narik becak lagi.”
Baginya, hidup selalu kembali ke titik yang sama ke becak, ke pulau kecil, ke rutinitas menunggu penumpang di depan pelabuhan.
Namun beberapa hari lalu, hidupnya sedikit berubah. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya menunggu penumpang tetapi juga mempelajari sesuatu yang selama ini dianggap milik kota besar: QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard), yang dikembangkan oleh Bank Indonesia. Yakni pembayaran digital menggunakan kode QR yang memastikan transaksi menjadi lebih mudah, cepat, aman, dan andal untuk semua metode pembayaran non-tunai.
Festival yang Menyisakan Jejak Digital
Perubahan itu datang dari Festival BERLAYAR (Bersama Rayakan Festival Digital Masyarakat Kepulauan Riau), yang digelar Bank Indonesia Perwakilan Kepri pada Sabtu (15/11/2025) di Lapangan Indera Sakti. Malam itu, pulau kecil yang biasa hening tiba-tiba dipenuhi lampu warna-warni, musik, dan riuh warga yang datang dari berbagai sudut kampung.
Namun festival itu bukan sekadar pesta rakyat. Ia adalah pintu pembuka sebuah gerakan baru mengajak masyarakat pulau untuk memahami dan memanfaatkan sistem pembayaran digital, khususnya QRIS.
Di sanalah Basirun dan beberapa penarik becak lainnya mendapat pelatihan singkat: cara mengaktifkan QRIS, cara menerima pembayaran, hingga cara memastikan transaksi masuk.
“Baru acara minggu kemarin itu aja. Baru diperkenalkan pakai QRIS,” kata pria yang tinggal di Kampung Jawa ini sambil tersenyum, mengingat kembali rasa kikuk pertama kali ia memegang ponsel sambil menunggu kode QR muncul di layar.
Baginya, teknologi bukan sesuatu yang dekat. Selama puluhan tahun, pembayaran tunai adalah satu-satunya cara ia menerima ongkos. Karena itu, ketika pertama kali melakukan transaksi QRIS, ada rasa khawatir.
“Selesai transaksi saya foto buktinya,” ujar Basirun, tertawa. “Takut tak masuk.”
Rasa ragu itu perlahan hilang ketika ia melihat semakin banyak orang terutama wisatawan yang lebih nyaman bertransaksi tanpa uang tunai. “Warung-warung kopi aja sekarang pakai QRIS,” katanya menunjuk deretan kedai kopi kecil di seberang pelabuhan.

Tidak hanya Basirun. Agus, 40 tahun, penarik becak lain, mengalami hal serupa. Ia sudah punya QRIS, tetapi belum benar-benar memahami aturannya.
“Katanya ada potongan-potongan. Itu yang belum saya banyak tahu,” ujarnya jujur.
Namun meski belum hafal teknisnya, manfaatnya ia rasakan. Tidak perlu menyiapkan uang kembalian. Tidak perlu menunggu penumpang mencari dompet. Dan yang paling penting, uang langsung masuk ke rekening aman dari hujan, dari robek, atau dari kehilangan.
Di pangkalan becak itu, terlihat kontras yang unik: becak-becak tua berusia puluhan tahun, berdampingan dengan barcode QR yang dicetak rapi. Tradisi dan teknologi bertemu di titik paling sederhana ongkos perjalanan beberapa ribu rupiah.
Tentu saja, perubahan ini belum merata. Sebagian besar penarik becak adalah warga lanjut usia yang kesulitan menggunakan ponsel pintar. Namun, setidaknya ada beberapa yang telah memulai langkah pertama. Dan perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil.
Transformasi tidak hanya terjadi di pangkalan becak. Di warung kopi, kios sarapan, hingga kedai kecil di Belakang Padang, QRIS kini mulai terlihat di meja-meja kayu yang sebelumnya hanya menjadi tempat gelas kopi hitam dan rokok kretek.
Saat Festival BERLAYAR berlangsung, pembelian tiket boat pancung ke Belakang Padang dari Pelabuhan Rakyat Sekupang bahkan diwajibkan menggunakan QRIS di boat yang ditunjuk panitia. Meski setelah festival usai, pembayaran manual kembali digunakan, langkah itu menunjukkan satu hal: masyarakat pulau sudah diperkenalkan pada sistem pembayaran baru. Ongkos pulang-pergi masih Rp40 ribu, dibayar tunai. Tapi bibit digitalisasi sudah ditanam.
Mengapa Belakang Padang? Dalam sambutannya, Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Ardhienus, mengatakan bahwa pemilihan Belakang Padang sebagai lokasi festival adalah keputusan yang sangat sengaja.
Pulau ini menghadap langsung ke Singapura, beranda terdepan Indonesia di jalur perbatasan. Karena itu, ia punya potensi ekonomi dan pariwisata yang besar.
“BERLAYAR bukan hanya perayaan,” kata Ardhienus. “Ini gerakan perubahan menuju masyarakat digital yang cerdas dan berdaya.”
Ia menegaskan, BI ingin digitalisasi tidak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga di pulau kecil. Di tempat-tempat seperti Belakang Padang inilah teknologi dapat memberikan manfaat nyata memudahkan transaksi wisatawan, meningkatkan pendapatan pelaku UMKM, dan membuka peluang baru bagi ekonomi lokal.
BI Kepri mencatat pertumbuhan transaksi QRIS yang luar biasa: tahun 2024: 33,9 juta transaksi (tumbuh 117,34%), Akhir September 2025: 64,9 juta transaksi (tumbuh 181,80%), Nominal transaksi: Rp7,7 triliun (tumbuh 140,31%)
Pengguna QRIS juga meningkat: tahun 2024: 530.327 pengguna, September 2025: 552.780 pengguna. Angka-angka ini menunjukkan satu hal: masyarakat Kepri sedang bergerak menuju era baru transaksi digital.
Becak dan Harapan yang Pelan Tumbuh
Sore itu, setelah selesai bercerita, Basirun kembali menatap ponselnya. Ia mengecek aplikasi QRIS-nya sesuatu yang tak pernah ia bayangkan lakukan 10 tahun lalu. Atau bahkan seminggu lalu.
Digitalisasi mungkin datang perlahan di Belakang Padang. Tidak meledak sekaligus. Tidak menghapus tradisi. Tetapi ia menyusup pelan, memberi cara baru bagi masyarakat pulau untuk bertahan dan berkembang. Dan bagi Basirun, serta 79 penarik becak lainnya yang umumnya sudah berusia lanjut perjalanan menuju dunia digital dimulai bukan dari gedung besar atau kantor modern melainkan dari kursi becak yang becaknya.
Di Pulau Penawar Rindu itu, QRIS bukan sekadar kode. Ia adalah simbol bahwa perubahan bisa terjadi di mana saja, bahkan di sebuah becak tua yang setia menunggu penumpang di tepi pelabuhan. (ara)







