Talkshow Perwara, Buralimar: Jangan Biarkan Hanya Hidup di Pelaminan

Avatar photo
Perwara Indonesia menggelar talkshow Pantun dengan menghadirkan beberapa narasumber.

AriraNews.com, Batam – Malam itu di Batam, ruang talkshow Perwara Indonesia tidak dipenuhi debat politik atau tren viral. Yang dibentangkan justru empat baris puisi lama bernama pantun .

Bidang Diklat dan Litbang Perwara menghadirkan tiga narasumber — yang pertama seniman-budayawan Bung Samson Rambah Pasir, yang kedua Kasmury seorang MC kondang yang juga guru,  Kasmuri spesialis acara melayu. Dan yang ketiga seorang tokoh adat dan juga MC Zarlis — untuk satu pertanyaan sederhana tapi berat: mengapa pantun masih harus diucapkan ketika kita memandu acara, rapat, bahkan resepsi di Tanah Melayu hari ini?

Jawabannya bukan nostalgia.

Ada tiga substansi yang mengemuka, dan ketiganya menyentuh sejarah, teknik, serta masa depan.

1. Melayu bukan sekadar etnis, pantun adalah jejak bangsanya

Samson membuka dengan peta ingatan: Melayu pernah dipahami sebagai bangsa bahari yang membentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Modernisasi, administrasi negara-bangsa, dan sensus kemudian menyempitkannya menjadi “suku” di pesisir Sumatera dan Kalimantan.

Penyempitan itu nyata secara politik, tapi tidak secara budaya. Pantun tetap hidup di Batam bukan karena orang Batam semua Melayu, melainkan karena pantun telah menjadi protokol sosial. Dalam pernikahan, tepuk tepung tawar, hingga festival budaya di Kepri, berbalas pantun adalah simbol kecerdasan dan kesantunan.
Lebih jauh, pantun bukan monopoli Melayu.

Narasumber kedua dan ketiga mengingatkan: Minangkabau memakai pantun dalam manjapuik marapulai dan batagak penghulu, Aceh punya panton, Betawi punya seloka, Dayak dan Banjar punya bentuk paralelnya. Artinya, yang kita sebut “warisan Melayu” sebenarnya adalah infrastruktur komunikasi Nusantara.

BACA JUGA:  Driver Online Bantu Wisatawan Mandiri, Surya Wijaya Dorong Driver Mendapatkan Pelatihan Kepariwisataan

Samson mengutip kalimat yang sering dinisbatkan pada Roland Barthes: “ketika sebuah karya selesai ditulis dan pengarang memutuskan menerbitkannya, maka saat itulah dia ‘mati’.”

Pantun adalah contoh paling terang. Penciptanya anonim, sudah tiada berabad lalu, tapi teksnya terus dihidupkan setiap kali kita membuka acara. Penulis mati, pantun hidup — itulah definisi warisan.

Pengakuan dunia menguatkan itu. Pada 17 Desember 2020, UNESCO menetapkan tradisi pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan, nominasi bersama Indonesia-Malaysia, warisan ke-11 Indonesia yang masuk daftar. UNESCO menyebut pantun penting bukan hanya sebagai alat komunikasi sosial, tapi sebagai panduan moral yang menekankan keseimbangan dan harmoni antarmanusia.

2. Pantun itu teknik, bukan bakat turunan

Narasumber kedua, MC sekaligus guru, membongkar mitos bahwa pantun lahir dari ilham. Ia mengajarkan anatomi yang bisa dilatih:

•  Sampiran (baris 1-2): bukan tempelan, melainkan radar suasana. Pilih citra alam lokal — “pulau penyengat”, “selat lampa”, “angin barat” — agar telinga audiens langsung mengenali tempat.

•  Isi (baris 3-4): pesan acara. Jika memandu pelantikan, isinya tentang amanah; jika resepsi, tentang doa.

•  Kaidah bunyi: a-b-a-b, tapi yang lebih penting adalah ekonomi kata. Pantun yang baik tidak menjelaskan, ia menyarankan.

BACA JUGA:  Investasi India di Batam Tembus Rp 258,6 Miliar

Karena ia guru, ia menekankan pedagogi: pantun harus dilatih dengan konteks, bukan hafalan. Murid diminta mengamati acara, mencatat tiga kata kunci, lalu merangkai sampiran yang senada. Ini yang membuat teknis “memantunnya demikian mantap” — bukan karena hafal 100 pantun, tapi karena paham pola.

3 . Pantun itu performatif, ia menghidupkan ruangan

Zarlis menutup dengan praktik. Sebagai tokoh adat dan cikgu, ia melantunkan pantun spontan di depan peserta. Efeknya langsung: tawa, anggukan, suasana cair. Inilah fungsi yang sering dilupakan peneliti teks: pantun adalah speech act.

Secara ilmiah, pantun bekerja
pada tiga lapisan:

A. Fatik: membuka kontak — salam yang tidak kaku.

B. Estetik: memberi keindahan — otak pendengar mendapat jeda dari bahasa birokrasi.

C. Etik: menyampaikan kritik atau nasihat secara tidak langsung, sehingga tidak mempermalukan.

Itu sebabnya pantun cocok untuk MC di Tanah Melayu. Ia bukan hiasan, ia alat retorika untuk menurunkan ego panggung dan menaikkan martabat audiens.

Dari panggung ke kurikulum:
Substansi yang ingin diwujudkan.

Harapan talkshow ini tegas: jangan biarkan pantun hanya hidup di pelaminan. Perwara Indonesia mendorong “pantun to school to campus”, mengusulkan pantun, gurindam, seloka, dan prosa Melayu menjadi ekstrakurikuler.

Gagasan ini sejalan dengan arah kebijakan kebudayaan. Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid saat penetapan UNESCO menyatakan pemerintah akan menyiapkan bahan ajar agar peserta didik tertarik belajar pantun, meski tidak sebagai mata pelajaran berdiri sendiri melainkan terintegrasi dalam bahasa Indonesia dan seni budaya.

BACA JUGA:  Amsakar Angkat Ekonomi Pesisir Melalui PLUT

UNESCO sendiri mencatat lebih dari 70% pantun tradisional berisi ungkapan cinta — bukan hanya romantis, tapi cinta pada keluarga, komunitas, dan alam — yang menjadikannya media pendidikan karakter yang alami.

Perwara, dengan jaringan MC, guru, dan budayawan, berada pada posisi strategis, mereka bukan hanya penjaga, tapi kurator hidup. Jika sanggar-sanggar dilibatkan, minta fatwa ke Lembaga Adat Melayu, komunikasi dengan komunitas budaya, seni, adat, serta stakeholder terkait , maka Batam bisa menjadi laboratorium nasional untuk menguji model pembelajaran pantun berbasis acara.

Warisan yang tidak menunggu museum dan
pantun bukan artefak yang harus diawetkan di etalase. Ia adalah teknologi sosial yang diciptakan nenek moyang agar kita bisa berbeda pendapat tanpa bertengkar, memuji tanpa menjilat, dan membuka acara tanpa membosankan.

Talkshow Perwara mengingatkan satu hal populer tapi sangat ilmiah: budaya bertahan bukan karena ditulis di buku, melainkan karena diucapkan kembali dengan konteks baru.
Seperti pantun penutup malam itu:
“ Buah mangga di belah belah, campur dengan gula aren. Jika perwara telah turun ke sekolah, warisan pantun semakin keren”.

Perwara Perfect

Batam, 14 Mei 2026
( Buralimar, Pembina Perwara Indonesia)