Ariranews.com, Natuna – Pasokan daging ayam ras ke Kabupaten Natuna melalui program tol laut tercatat sebanyak 30 ton. Distribusi dilakukan dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Natuna. Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 45 ton.
Kepala Cabang PT Sarana Bandar Logistik (PT SBL) Natuna, Anto Raswanto, menegaskan bahwa mekanisme pengangkutan logistik ke wilayah Natuna mengacu pada Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 53 Tahun 2020 tentang klasifikasi dan prioritas distribusi barang.
Menurut Anto, dalam regulasi tersebut, barang dibagi ke dalam tiga kategori utama, yakni barang pokok, barang penting, dan barang penting lainnya. Ketiga kategori ini menjadi prioritas dalam distribusi karena termasuk dalam skema subsidi pemerintah.
“Barang pokok meliputi beras, kedelai, cabai, gula, minyak goreng, tepung terigu, daging sapi, dan daging ayam ras. Sementara barang penting mencakup benih padi, pupuk, gas LPG, triplek, semen, hingga besi untuk kebutuhan konstruksi,” ujar Anto, Jumat (27/3/2026), di Pelabuhan Bongkar Muat Selat Lampa.
Selain itu, lanjutnya, terdapat kategori barang penting lainnya seperti air mineral dan berbagai kebutuhan penunjang lain yang juga masuk dalam prioritas distribusi.
Ia menjelaskan, kapal logistik yang beroperasi dalam skema tol laut memiliki kapasitas angkut hingga 115 kontainer. Apabila seluruh kuota barang subsidi telah terpenuhi dan masih tersedia ruang (space), maka kapal diperbolehkan mengangkut barang komersial.
“Jika masih ada ruang setelah barang subsidi terangkut, maka dapat diisi dengan barang komersial seperti kendaraan. Namun tarif yang berlaku adalah tarif komersial,” jelasnya.
Meski demikian, Anto menegaskan bahwa pengangkutan barang komersial bukan menjadi prioritas utama, melainkan hanya untuk memaksimalkan sisa kapasitas angkut.
Ia juga mengungkapkan bahwa pengangkutan barang komersial ke Natuna pernah dilakukan sebelumnya, di antaranya mobil operasional milik Basarnas serta material pembangunan seperti tower.
“Pernah kita angkut mobil operasional Basarnas dan material tower. Bahkan ada juga barang lain di luar sistem yang dapat diangkut selama masih tersedia ruang dan kebutuhan barang subsidi telah terpenuhi,” ungkapnya.
Namun, untuk pengiriman kali ini, Anto memastikan tidak terdapat muatan barang komersial dalam kapal yang beroperasi.
“Untuk saat ini tidak ada barang komersial yang diangkut,” tegasnya.
Dengan sistem tersebut, PT SBL memastikan distribusi logistik ke wilayah Natuna tetap mengedepankan kebutuhan pokok masyarakat, sekaligus menjaga efisiensi pemanfaatan kapasitas kapal dalam program tol laut. (Dod)








