AriraNews.com, Batam – PT Pertamina Patra Niaga mengajukan penambahan delapan unit mobil tangki BBM untuk memperkuat distribusi bahan bakar minyak (BBM) di Kota Batam, Kepulauan Riau. Langkah ini dinilai mendesak seiring meningkatnya permintaan masyarakat dan bertambahnya jumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Saat ini, distribusi BBM di Batam ditopang 13 unit mobil tangki dengan total kapasitas 248 kiloliter (KL). Pertamina mengoptimalkan armada tersebut untuk menjaga pasokan ke SPBU, namun peningkatan kebutuhan membuat kapasitas distribusi harus kembali diperkuat.
Jr. SPV II Fuel Receiving & Storage, Fongky Ocotodiano A, mengatakan penambahan armada telah diajukan untuk mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan BBM, termasuk akibat pembangunan SPBU baru di Batam.
“BBM ke SPBU, dengan 248 KL, dengan unit mobil tangki 13, itu bisa kita optimalkan. Akan tetapi, mengingat bertambahnya permintaan masyarakat, demand-nya semakin tinggi, kita sudah bersurat juga, pimpinan kita sudah menyampaikan untuk dilakukan penambahan armada,” kata Fongky, Senin (14/9/2026).
Dari 13 mobil tangki yang beroperasi saat ini, sebanyak delapan unit memiliki kapasitas 16 KL dan seluruhnya merupakan armada milik sendiri atau all in. Sementara lima unit lainnya berkapasitas 24 KL, terdiri atas tiga unit all in dan dua unit sewa.
Menurut Fongky, seluruh armada yang tersedia terus dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan SPBU. Ketika permintaan meningkat, satu mobil tangki bahkan dapat melakukan pengantaran hingga empat kali perjalanan pulang-pergi dalam sehari, khususnya untuk tujuan yang memiliki jarak relatif dekat.
“Kalau demand tinggi itu bisa sampai dengan empat kali mobil itu bolak-balik, tapi dengan jarak yang relatif lebih dekat. Misalkan, kita menggunakan jalan utama yang ada protokol, insya Allah jaraknya tidak terlalu memakan waktu,” ujarnya.
Fongky menegaskan, optimalisasi armada dilakukan agar kebutuhan BBM di SPBU tetap terpenuhi dan mata rantai pasokan kepada masyarakat tidak terputus.
“Kita berupaya semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan dari SPBU-SPBU yang ada, agar tidak memutus mata rantai kebutuhan dari masyarakat. Dan itu menjadi prioritas,” katanya.
38 SPBU Reguler, Armada Dinilai Semakin Berat
Kebutuhan penambahan armada semakin penting seiring pertumbuhan jaringan SPBU di Batam. Saat ini terdapat sekitar 38 SPBU reguler, sementara pembangunan SPBU baru masih berlangsung.
Fongky menyebut secara keseluruhan terdapat 21 unit armada yang dibutuhkan untuk mendukung distribusi, sehingga pihaknya mengajukan tambahan delapan unit.
“Total keseluruhannya 21. Kita ajukan 8 unit,” katanya.
Penambahan tersebut ditujukan untuk mendukung pertumbuhan jaringan penyaluran BBM, terutama apabila jumlah SPBU terus bertambah.
“Untuk mensupport ini kan ada penambahan SPBU, ada pembangunan SPBU baru, atau nanti skemennya akan meningkat, maka kita harus menyediakan dengan sebuah yang mencukupi,” ujarnya.
Menurut Fongky, dengan jumlah armada yang tersedia saat ini, beban distribusi akan semakin berat apabila pembangunan SPBU terus meningkat.
“Kalau dengan armada yang saat ini 13 unit saja ini tidak akan mampu, karena di situ sudah banyak, ada 38 SPBU yang regular. Saat ini sedang ada pembangunan lagi SPBU,” katanya.
Ia menilai pertumbuhan pembangunan SPBU juga menunjukkan meningkatnya aktivitas perekonomian di Batam. Kondisi tersebut perlu diikuti dengan penyesuaian kapasitas distribusi agar rantai pasok energi tetap terjaga.
“Berarti kan dengan sebenarnya dari sisi perekonomian seperti yang dibangun tadi itu ada peningkatan yang signifikan. Maka kita harus menyesuaikan supaya supply chain-nya mencukupi,” ujarnya.
Didukung 20 Pompa Produk
Selain armada mobil tangki, sistem penyaluran BBM di Integrated Terminal Batam PT Terminal Batam juga didukung 20 unit pompa produk. Fasilitas tersebut digunakan untuk kegiatan penyaluran melalui mobil tangki, loading sales, bunker tug boat, serta transfer melalui jalur pipa Avtur.
Untuk pengisian BBM melalui mobil tangki, fasilitasnya terdiri atas filling shed area belakang dengan empat bay dan filling shed area depan dengan tiga bay.
Pada filling shed belakang, Bay 1 dan Bay 2 melayani Pertalite dan PX 92, Bay 3 melayani Pertalite, sedangkan Bay 4 melayani Balum Opt.
Sementara itu, filling shed depan terdiri atas Bay 5 dan Bay 6. Bay 5 melayani PX Turbo serta Biosolar B50/Dexlite, sedangkan Bay 6 melayani Pertadex, HSFO, dan Biosolar B50.
Terminal tersebut juga memiliki fasilitas penyaluran LPG berupa satu unit jembatan timbang berkapasitas 60 ton untuk mendukung kegiatan penyaluran LPG menggunakan mobil skid tank.
Untuk distribusi LPG, terdapat tujuh unit mobil tangki dengan total kapasitas 135 metrik ton (MT) serta sembilan unit skid tank.
Keselamatan AMT Tetap Jadi Prioritas
Di tengah peningkatan intensitas distribusi, Pertamina juga memastikan aspek keselamatan awak mobil tangki (AMT) dan kelayakan kendaraan tetap menjadi perhatian.
Untuk distribusi BBM, terdapat 38 AMT yang terdiri atas 21 AMT I dan 17 AMT II. Sementara untuk LPG terdapat 12 AMT, terdiri atas delapan AMT I dan empat AMT II.
Fongky mengatakan jam kerja AMT diatur selama delapan jam. Setelah itu, operasional dilanjutkan oleh pengemudi atau personel berikutnya untuk menjaga keberlangsungan pekerjaan sekaligus keselamatan awak.
“Dan kita selalu memperhatikan keselamatan dari AMT itu sendiri. Untuk jam kerja mereka itu selalu 8 jam. Jadi 8 jam mereka bekerja itu akan digantikan dengan driver yang lain untuk menjalankan objek itu sendiri,” jelasnya.
Sebelum armada beroperasi, dilakukan pemeriksaan atau Pre-Delivery Inspection (PDI) untuk memastikan kendaraan dalam kondisi layak. Pertamina juga menyediakan DCU khusus bagi AMT sebagai bagian dari dukungan terhadap keselamatan dan kesiapan personel.
Jaga Rantai Pasok Tetap Terhubung
Fongky menegaskan, penambahan armada bukan semata untuk meningkatkan kapasitas pengiriman, tetapi untuk memastikan rantai pasok BBM tetap berjalan seiring pertumbuhan kebutuhan energi di Batam.
“Mungkin kita memfokuskan di sini adalah menjaga supply chain-nya ini jangan sampai berputus ke SPBU. Insya Allah mudah-mudahan tidak ada kendala yang banyak,” katanya.
Hal tersebut disampaikan di Integrated Terminal Batam PT Terminal Batam, Jalan Raya Pelabuhan, Kelurahan Kabil, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Kepulauan Riau.
Selain distribusi melalui mobil tangki, kegiatan loading sales dan bunker juga dilayani melalui fasilitas jetty. Jetty 1 digunakan untuk Biosolar dan Pertadex, Jetty 2A untuk Biosolar dan Pertadex, sedangkan Jetty 3 melayani LSFO dan Biosolar.
Dengan mengoptimalkan 13 unit armada yang tersedia sembari mengajukan tambahan delapan unit, Pertamina Patra Niaga berupaya menyesuaikan kapasitas distribusi dengan pertumbuhan kebutuhan BBM di Batam. Penguatan armada tersebut diharapkan menjaga pasokan ke SPBU tetap lancar sekaligus memastikan kebutuhan energi masyarakat tidak terganggu. (emr)



