AriraNews.com, ANAMBAS — Bupati Kepulauan Anambas Aneng meminta penanganan kekeringan di wilayahnya dipercepat melalui penguatan koordinasi lintas sektor dan distribusi air bersih berdasarkan skala prioritas.
Hal itu disampaikan Aneng saat memimpin Rapat Koordinasi Tindak Lanjut Status Tanggap Darurat Bencana Kekeringan di Kabupaten Kepulauan Anambas di Ruang Rapat Kantor Bupati Kepulauan Anambas, Pasir Peti, Kamis (17/9/2026).
Rapat digelar sebagai tindak lanjut penetapan status tanggap darurat bencana kekeringan sekaligus memperkuat koordinasi pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat.

Berdasarkan data penanganan, kebutuhan minimal air bersih atau air baku di wilayah prioritas mencapai 1.144.620 liter per hari. Sementara itu, kekurangan air saat ini diperkirakan mencapai 1.064.120 liter per hari.
Kondisi kekeringan paling terdampak berada di Kecamatan Siantan, Siantan Tengah, dan Siantan Selatan dengan jumlah penduduk terdampak mencapai 19.077 jiwa.
Setelah status tanggap darurat ditetapkan, BPBD Kabupaten Kepulauan Anambas telah mendirikan posko atau pos lapangan di setiap kecamatan. Posko tersebut berfungsi sebagai sarana pelayanan masyarakat, pemantauan kondisi serta koordinasi penanganan kekeringan.
Aneng meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), TNI/Polri, instansi vertikal, pemerintah kecamatan dan desa serta pihak terkait lainnya berkolaborasi memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
Menurut dia, kebutuhan air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus ditangani secara bersama-sama. Karena itu, seluruh sumber daya yang tersedia diminta dioptimalkan, termasuk kendaraan, mobil tangki, pompa, toren atau tangki penampungan serta sarana transportasi laut.
Aneng juga meminta BPBD terus memperbarui data kebutuhan air dan wilayah terdampak. Distribusi air, kata dia, harus dilakukan berdasarkan kondisi dan tingkat kebutuhan masing-masing wilayah.
Dalam rapat tersebut turut dibahas kondisi kekeringan dari aspek meteorologis, pertanian dan hidrologis. Hari Tanpa Hujan (HTH) menjadi salah satu indikator dalam pemantauan kekeringan meteorologis.
Berdasarkan pengamatan BMKG, hujan terakhir sebelum periode kering tercatat pada 26 Agustus 2026 dengan curah hujan 0,7 milimeter. Hujan kembali turun pada 14 September 2026 dengan curah hujan 14,6 milimeter sehingga memutus periode HTH yang berlangsung sekitar satu bulan.
Curah hujan di Kabupaten Kepulauan Anambas juga tidak merata. Wilayah Jemaja diprakirakan menjadi salah satu wilayah dengan curah hujan paling rendah.
Untuk Oktober 2026, curah hujan diprakirakan masih berada di bawah normal. Sementara pada November hingga Desember 2026, curah hujan diprakirakan berada pada kategori sedang hingga tinggi.
Karena itu, penanganan kekeringan akan tetap mempertimbangkan perkembangan curah hujan, prakiraan cuaca, distribusi hujan serta ketersediaan sumber air di masing-masing wilayah.
Selain distribusi air, rapat juga membahas dukungan anggaran penanganan tanggap darurat. Pemerintah daerah menilai kebutuhan anggaran harus didukung dengan administrasi dan pertanggungjawaban yang sesuai ketentuan, termasuk kelengkapan surat pertanggungjawaban (SPJ).
Persoalan sumber air juga menjadi perhatian. Pemerintah daerah diminta mengantisipasi kemungkinan hilangnya atau rusaknya sumber mata air yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat.
Terkait praktik jual beli air, diperlukan pembahasan dan koordinasi lebih lanjut agar kondisi kekeringan tidak mendorong ketergantungan terhadap jual beli air tanpa solusi jangka panjang. Pemerintah daerah didorong mencari langkah yang dapat menjamin ketersediaan air bagi masyarakat.
Sementara itu, di Desa Air Asuk, Kecamatan Siantan Tengah, ketersediaan air bersih masih terbatas. Salah satu fasilitas penampungan air berupa embung yang sebelumnya dapat dimanfaatkan masyarakat kini tidak lagi berfungsi secara optimal.
Pemerintah Kecamatan Siantan Tengah bersama pemerintah desa diharapkan melakukan pembenahan dan pemulihan fungsi embung tersebut agar kembali dapat menampung air dan membantu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Penanganan kekeringan selanjutnya akan difokuskan pada percepatan distribusi air bersih, khususnya di Kecamatan Siantan, Siantan Tengah dan Siantan Selatan, dengan dukungan sarana transportasi darat maupun laut serta koordinasi lintas sektor. (bbg)




