Hadapi Persaingan Ketat di Asia Tenggara, Asa Surya Wijaya untuk Pariwisata Kepri yang Lebih Berkelas

Avatar photo
Surya Wijaya.

AriraNews.com, BATAM – Di penghujung tahun  2025, Ketua Dewan Penasehat Asosiasi Pariwisata Bahari Indonesia (Aspabri) sekaligus Direktur Eksekutif Forum Jurnalis Pariwisata (FJP) Kepri, Surya Wijaya, mengajak seluruh pemangku kepentingan berkolaborasi demi kemajuan pariwisata Kepri di tahun depan. Pasalnya,  persaingan antar destinasi di kawasan Asia Tenggara, khususnya makin ketat.

“Kita punya tujuh kabupaten dan kota, punya banyak sekali destinasi yang menawan,” ujar Surya dalam diskusi santai bersama Forum Jurnalis Pariwisata (FJP) Kepri, Selasa (23/12/2025) pagi.

Namun, kata Surya masih banyak PR untuk membawa pariwisata Kepri layak untuk dikunjungi. Ia berbicara bukan hanya sebagai pengamat, tapi sebagai orang yang hampir setiap hari bersentuhan langsung dengan denyut pariwisata Kepri.

Kepri memang unik. Di wilayah yang didominasi laut, setiap pulau adalah cerita, setiap selat adalah peluang, dan setiap garis pantai adalah identitas. Mulai dari keelokan Natuna dan Anambas yang sering disebut-sebut sebagai “Maldives-nya Indonesia”, hingga magnet budaya dan sejarah Tanjungpinang dan Bintan. Belum lagi Batam yang merupakan pintu masuk terbesar wisatawan mancanegara ke Indonesia dari jalur laut.

BACA JUGA:  Li Claudia: Revisi RTRW Kepri Harus Menjawab Kebutuhan Riil Masyarakat Batam

Namun, di balik potensi yang begitu besar, Surya mengungkapkan satu ironi: banyak destinasi yang justru sulit dijangkau. “Dan akhirnya kita hanya tertuju kepada Batam dan Bintan,” katanya.

Dua daerah itu memang menjadi garda terdepan, tapi Kepri tidak hanya tentang hotel mewah dan pusat perbelanjaan.

“Wisatawan kini seperti diarahkan hanya pada dua pengalaman: tempat menginap dan tempat berbelanja,” lanjutnya. Padahal, esensi pariwisata bahari Kepri adalah perjalanan menyelam lebih dalam pada budaya Nusantara, laut yang berlapis warna biru zamrud, dan kekayaan tradisi masyarakat pesisir.

Bagi Surya, kondisi hari ini bukan alasan untuk menyerah. Justru menjadi pekerjaan rumah bersama — pemerintah, pelaku industri, komunitas lokal, hingga media. Infrastruktur, aksesibilitas, dan promosi adalah tiga tantangan utama yang masih mendesak untuk ditata.

“Harapannya, 2026 menjadi langkah baru,” tutur Surya penuh optimisme.

Tahun itu bukan sembarang tahun. Kepri berada tepat di beranda dua tetangga penting: Johor Baru (Malaysia) dan Singapura. Keduanya telah menetapkan target besar pada 2026, dengan strategi pariwisata agresif, integrasi transportasi, dan paket wisata regional yang semakin memikat wisatawan global.

BACA JUGA:  Diklat Orientasi Pegawai BP Batam Tanamkan Nilai Profesionalisme dan Integritas

“Kita harus ingat, 2026 adalah visi mereka,” kata Surya. “Banyak hal yang bisa kita pelajari dari mereka.”

Malaysia, misalnya, konsisten membangun konektivitas antarkota serta hubungan erat antara pemerintah pusat, daerah, dan sektor swasta. Sementara Singapura sangat piawai menciptakan pengalaman wisata berbasis inovasi dan acara internasional.

Kepri, yang letaknya hanya sepelemparan batu dari kedua negara itu seharusnya bisa memanfaatkan momentum ini, bukan justru tertinggal.

Menurut Surya, kunci utama kebangkitan pariwisata Kepri terletak pada kolaborasi. Bukan sekadar koordinasi biasa, tapi kerja bersama yang konkret antara provinsi dan tujuh kabupaten/kota.

“Begitu kami berharap pemerintah lebih aware dan lebih berkolaborasi bersama tujuh kabupaten dan kota,” ujarnya.

Kolaborasi itu harus mencakup pembangunan akses dan transportasi antarpulau; standardisasi layanan pariwisata dan pelaku industri lokal ; penguatan storytelling destinasi sebagai identitas bahari Nusantara ; hingga kampanye regional yang menampilkan Kepri sebagai pintu gerbang wisata Indonesia di Perbatasan.

BACA JUGA:  Dari Klepon ke Dessert Modern, Jelajahi Cita Rasa Baru di Kalaséra Oakwood Grand Batam

Jika tujuh daerah bergerak dalam satu irama, Surya yakin Kepri bisa menyusun ulang peta destinasi yang lebih berkelas dan berdaya saing internasional.

Surya pun menutup catatannya dengan sebuah harapan sederhana namun besar. “Semoga wisata di Kepri, susun destinasi kita jadi lebih baik.”

Harapan itu bukan mimpi. Kepri punya segalanya: laut yang memukau, budaya yang unik, kedekatan geografis dengan pasar wisata terbesar di kawasan, dan SDM yang siap tumbuh bersama industri. Yang dibutuhkan kini hanyalah keberanian untuk berbenah dan bekerja sama.

Ketika 2026 tiba, Kepri punya peluang besar untuk tampil bukan hanya sebagai alternatif liburan akhir pekan, tetapi sebagai ikon wisata bahari kelas dunia. Modalnya sudah ada tinggal bagaimana semua pihak menggarapnya dengan kesungguhan.

Dan seperti seorang nakhoda yang mengingatkan awak kapal sebelum memasuki samudra baru, Surya Wijaya telah menyuarakan arah. Tinggal bagaimana kita bersama mengambil alih kemudi. (*/emr)