AriraNews.com, BATAM – Upaya menghidupkan aktivitas ekonomi di kawasan transmigrasi Pulau Batam, khususnya di wilayah Rempang, Galang, dan Balerang, mulai menemukan arah baru. Melalui pendekatan Model Desain Kelembagaan Ekonomi Kolaboratif, sejumlah pihak dari kalangan akademisi, pemerintah, pelaku usaha, hingga masyarakat setempat mulai bergandengan tangan untuk membangun ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.
Pertemuan terbaru antara Dr. Vishnu Juwono, S.E., MIA., dari Universitas Indonesia, anggota Panitia Kerja 14 Tim Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi RI—bersama tujuh perguruan tinggi nasional, menghasilkan rancangan awal model kolaborasi kelembagaan ekonomi untuk wilayah transmigrasi Rempang.
“Pendekatan yang kami gunakan adalah Pentahelix, melibatkan akademisi, korporasi, media, masyarakat lokal, dan pemerintah. Tujuannya untuk memastikan setiap sektor memiliki peran aktif dalam membangun pusat pertumbuhan ekonomi baru,” ujar Vishnu.
Dalam pertemuan lanjutan, tim juga berdialog dengan Sumantri Endang, CEO Fusion Adventure, yang dikenal sebagai pengusaha pariwisata, sekaligus pengurus DPD ASITA Kepulauan Riau. Ia menilai, model kolaboratif ini dapat menjadi motor penggerak ekonomi berbasis masyarakat, terutama dengan pengembangan desa wisata pesisir yang menonjolkan kearifan lokal.
“Tujuan utama proyek ini adalah membangun kekuatan ekonomi di tingkat akar rumput. Mobilitas ekonomi harus lahir dari partisipasi masyarakat itu sendiri,” ujar Sumantri.
Menurutnya, kawasan pesisir Rempang dan pulau-pulau sekitarnya memiliki potensi luar biasa untuk dikembangkan sebagai komunitas wisata bahari yang khas dan autentik.
Ia menjelaskan, desa wisata pesisir dapat dirancang dengan memadukan budaya dan keterampilan lokal, seperti kelas memasak makanan laut tradisional, pelatihan membuat jaring, memancing, hingga memasang perangkap ikan. “Wisatawan tidak hanya datang melihat, tapi ikut merasakan kehidupan masyarakat pesisir,” tambahnya.
Sumantri juga mengusulkan pembangunan guest house di tepi laut, di mana tamu bisa berinteraksi langsung dengan warga setempat, makan bersama, dan menikmati aktivitas harian penduduk. Fasilitas pendukung seperti restoran yang bersih dan layanan profesional menjadi kunci keberhasilan destinasi wisata semacam ini.
Ia menekankan pentingnya menyiapkan produk khas daerah sebagai daya tarik tambahan—mulai dari kerupuk gong-gong, sambal tempoyak, hingga sambal sotong—yang diproduksi oleh industri rumah tangga lokal.
“Pariwisata pesisir ini bisa menjadi model ekonomi kreatif baru di kawasan transmigrasi, asalkan didukung oleh regulasi lokal yang ramah industri pariwisata,” ucapnya. Ia mencontohkan, wisatawan mancanegara kerap mencari suasana santai khas pesisir seperti menikmati musik dan tarian lokal diiringi penduduk setempat.
Melalui Fusion Adventure, Sumantri berkomitmen mendukung keberhasilan program Transmigrasi Patriot yang digagas Kementerian Transmigrasi RI di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Fusion Adventure dengan senang hati berkontribusi lewat ide, transfer pengetahuan, dan keterampilan agar program ini tidak hanya sukses secara konsep, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat,” tutupnya. (ara)







