Wajah Baru Terminal Peti Kemas Batu Ampar, Dari Pelabuhan Konvensional Menuju Hub Internasional

Avatar photo
Direktur PT Batam Terminal Petikemas, Capt. Basori Alwi, di Pelabuhan Petikemas Batu Ampar, Batam.

AriraNews.com, Batam – Di atas rooftop sebuah gedung yang tengah dipersiapkan menjadi kantor PT Batam Terminal Petikemas (BTP) dan PT Batu Ampar Container Terminal (BACT), hamparan Terminal Peti Kemas Batu Ampar terlihat berbeda dari beberapa tahun lalu. Deretan alat bongkar muat modern berdiri di sepanjang dermaga. Truk-truk listrik hilir mudik mengangkut kontainer, sementara kapal peti kemas silih berganti bersandar. Dari titik itu, perubahan besar pelabuhan terbesar di Batam tampak jelas.

Transformasi Batu Ampar bukan lagi sekadar rencana. Perubahan itu kini berjalan seiring pengelolaan pelabuhan yang beralih ke manajemen profesional melalui kerja sama BP Batam dengan PT Batam Terminal Petikemas (BTP), yang bersinergi dengan PT Batu Ampar Container Terminal (BACT) sebagai operator terminal.

Direktur PT Batam Terminal Petikemas, Capt. Basori Alwi, menunjuk satu per satu fasilitas yang menjadi bagian dari modernisasi pelabuhan. Dermaga sisi utara kini membentang hingga sekitar 1.000 meter. Alur pelayaran telah dikeruk sehingga mampu melayani kapal-kapal berukuran lebih besar. Area penumpukan peti kemas telah mencapai 12 hektare dan masih akan terus diperluas untuk mengimbangi pertumbuhan arus barang.

Perubahan drastis terjadi di Pelabuhan Petikemas Batu Ampar. Operasional pelabuhan menggunakan alat-alat modern. Pelabuhan pun kini terlihat tertata rapi.

Modernisasi juga terlihat dari peralatan operasional. Saat ini Pelabuhan Petikemas Batu Ampar telah memiliki lima unit Ship to Shore (STS) Crane sebagai alat utama bongkar muat dari dan ke kapal. Di area penumpukan beroperasi sekitar 20 unit Rubber Tyred Gantry (RTG) beserta berbagai peralatan pendukung lainnya, termasuk 10 unit truk bertenaga listrik yang mulai digunakan untuk mendukung operasional yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

BACA JUGA:  Pendiri dan Pengurus Kalam Batam Sepakati Reorganisasi, Ketua Umum Diperpanjang hingga 2030

Didampingi Government Relations PT Batu Ampar Container Terminal, Restrimaya Susiwi, serta Manajer Operasi BTP, Wicaksono, Basori optimistis transformasi yang sedang berlangsung akan mengubah posisi Batu Ampar menjadi pelabuhan peti kemas berkelas internasional.

Perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari fisik pelabuhan, tetapi juga dari peningkatan kinerja operasional.

Government Relations PT Batu Ampar Container Terminal, Restrimaya Susiwi memaparkan langkah dan perubahan yang telah dilakukan di Pelabuhan Petikemas Batu Ampar.

Produktivitas bongkar muat peti kemas meningkat dari 18 box crane per hour (BCH) menjadi 24 BCH atau naik sekitar 33 persen. Kinerja penanganan kapal bahkan melonjak lebih dari tiga kali lipat, dari 12 box ship per hour (BSH) menjadi 40 BSH.

Efisiensi itu berdampak langsung pada waktu pelayanan kapal. Waktu putar kapal (vessel turnaround time) berhasil dipangkas dari rata-rata 20 jam menjadi hanya sekitar tujuh jam. Sementara waktu tunggu kapal (waiting time) turun dari 1,4 jam menjadi 0,6 jam. Bagi pelaku pelayaran, setiap jam yang berhasil dihemat berarti pengurangan biaya operasional sekaligus peningkatan daya saing pelabuhan.

BACA JUGA:  Ministry of Padel Hadir di Batam, Usung Konsep Lifestyle Hub Lengkap dengan Sauna dan Kolam Air Dingin

Menurut Basori, transformasi tersebut masih menjadi langkah awal. Dalam perjanjian konsesi selama 36 tahun, BTP memiliki kewajiban mengembangkan kapasitas Terminal Peti Kemas Batu Ampar hingga mencapai 1,6 juta TEUs per tahun pada 2029.

“Kewajiban kami dalam masa perjanjian konsesi 36 tahun bersama BACT adalah mengembangkan terminal peti kemas hingga mencapai volume 1,6 juta TEUs per tahun. Itu berarti kami harus memperluas area kerja sekitar 30 hektare. Studi pengembangannya juga sudah kami lakukan,” ujarnya.

Untuk mencapai target tersebut, perusahaan akan menambah enam unit STS Crane dan 20 unit alat bongkar muat lainnya. Pengembangan kawasan terminal juga akan dilakukan agar mampu melayani pertumbuhan lalu lintas peti kemas dalam jangka panjang.

Target 1,6 juta TEUs juga tidak hanya mengandalkan pertumbuhan ekspor dan impor Batam. BTP membidik pasar transshipment internasional dengan tambahan sekitar satu juta TEUs.

“Volume tambahan itu bukan berasal dari volume eksisting Batam. Kita harus mengambil pasar transshipment sekitar satu juta TEUs,” kata Basori.

Strategi tersebut dijalankan dengan menggandeng operator pelayaran internasional, termasuk SITC yang telah beroperasi sejak 2024. Ke depan, BTP berharap kapal-kapal utama milik perusahaan pelayaran dunia seperti CMA CGM, Maersk, maupun Wan Hai dapat menjadikan Batu Ampar sebagai pelabuhan singgah langsung.

BACA JUGA:  Belasan Anggota PWI Kepri Kompak Mundur

“Harapannya kapal-kapal yang sebelumnya sandar di Singapura bisa kita tarik ke Batam. Dengan begitu seluruh konektivitas ke Timur Tengah, Eropa, Australia hingga Amerika bisa langsung dilayani dari Batam,” ujarnya.

Optimisme itu bukan tanpa alasan. Setelah pengerukan alur pelayaran dan pendalaman kolam pelabuhan rampung, Batu Ampar diproyeksikan mampu menerima kapal-kapal dengan ukuran yang lebih besar. Posisi Batam yang berada di jalur perdagangan internasional pun menjadi modal untuk bersaing sebagai hub logistik baru di kawasan, berdampingan dengan Singapura dan Pelabuhan Tanjung Pelepas di Malaysia.

Saat ini Batam telah terhubung dengan 32 pelabuhan internasional. Jaringan tersebut terus diperluas menuju India, Timur Tengah, Eropa, Afrika, Australia, hingga Papua Nugini. Bahkan, setelah pengembangan tahap kedua selesai, BTP berharap layanan langsung menuju Amerika Serikat dapat terwujud tanpa harus melalui pelabuhan transit.

Transformasi Batu Ampar pada akhirnya bukan sekadar pembangunan dermaga, penambahan alat, atau peningkatan kapasitas terminal. Yang sedang dibangun adalah wajah baru pelabuhan Batam, dari terminal peti kemas yang melayani kebutuhan lokal menjadi simpul logistik internasional yang diharapkan mampu menarik arus perdagangan global masuk ke Indonesia. (emr)