AriraNews.com, Batam — Jalanan di Perumahan Bida Asri I, Kelurahan Belian, Kecamatan Batam Kota, Kota Batam, sedikit basah pada Rabu (28/10/2026) pagi. Selama dua hari berturut-turut, Batam diguyur hujan. Kabut asap pun jauh berkurang. Di beberapa titik, langit biru mulai tampak.
Pagi itu, Ibu Jesica, berdiri di depan kompor gas, bersiap memasak untuk keluarga. Tangannya memutar knop kompor sambil menekan pemantik. “CLETEK!” Terdengar bunyi khas pemantik gas sekali saja. Seketika, kompor langsung menyala dengan sempurna. Api biru tampak berkobar stabil dan merata di atas tungku. Ia tersenyum puas, tak perlu mencoba berkali-kali. Sekali klik, langsung menyala!
Ibu Jesica tampak santai dan nyaman beraktivitas di dapur. Dengan wajah ceria, ia menyiapkan masakan untuk keluarga. Di dekat kompor terlihat regulator yang terhubung langsung dengan saluran jaringan gas rumah tangga (jargas) yang terpasang rapi di dinding. Tidak ada tabung gas yang terlihat di dapur. Pada dinding dapur juga terpasang petunjuk keselamatan penggunaan jargas sebagai pengingat agar penggunaan gas selalu aman.
Ibu Jesica tenang saat memasak. Tak perlu lagi repot mencari, membeli, atau mengangkat tabung gas. Tak perlu khawatir gas tiba-tiba habis di tengah proses memasak. Dengan jargas, pasokan gas mengalir melalui jaringan pipa, sehingga memasak menjadi lebih praktis, nyaman, dan efisien.
Ibu Jesica di antara 11.232 ribu pelanggan jargas di Batam. Jumlahnya terus bertambah seiring Batam menuju era baru sebagai kota pertama yang akan menggunakan jargas sepenuhnya pada 2030 mendatang. Target tersebut terus digesa Area PGN Batam. Sambungan baru ke dapur-dapur masyarakat bertambah tiap harinya.
Di tempat lain sekitar dua kilometer dari rumah Jesica, satu per satu pembeli datang ke Toko Roti Rayyan milik Dini Oktavia, di Blok C 11 Nomor 19, Perumahan Cendana, Kelurahan Belian. Dini melayani langsung para pembeli yang datang silih berganti. Berbagai jenis roti terpajang di rak, mulai dari rasa keju, cokelat, abon, kopi, hingga beberapa varian lainnya.
“Roti-roti ini setiap hari diproduksi,” kata Dini sambil menunjuk ke arah tatakan roti.
Dalam menjalankan usahanya, Dini dibantu sang suami. Di sela-sela melayani pembeli, perempuan berhijab itu sesekali memeriksa roti yang sedang dipanggang di dalam oven. Roti yang sudah matang dipindahkan ke wadah sementara untuk didinginkan sebelum dibungkus dengan plastik.
Di ruang produksi berukuran 4 x 3 meter itu terlihat dua oven berbahan bakar gas LPG. Enam tabung LPG bersubsidi ukuran 3 kilogram tersimpan di bawah oven. Menurut Dini, kebutuhan gas masih relatif terbatas karena usahanya tergolong kecil-kecilan dan pemakaiannya bergantung pada jumlah produksi.
Dini telah menjalankan usaha roti manis selama kurang lebih tiga tahun. Usaha yang awalnya dirintis dari rumah itu kini telah setahun beroperasi di lokasi yang ditempatinya sekarang.
Dalam sehari, Dini rata-rata mengolah 18 kilogram tepung untuk memproduksi roti. Jumlah tersebut bisa meningkat hingga 20 kilogram ketika pesanan sedang ramai. Seiring perubahan volume produksi, kebutuhan gas pun tidak selalu sama.
“Kalau rata-rata sekitar 18 kilogram tepung. Kalau lagi banyak pesanan, bisa sampai 20 kilogram,” ujar Dini.
Untuk memenuhi kebutuhan produksi, ia biasanya menghabiskan tiga hingga empat tabung LPG 3 kilogram dalam waktu dua sampai tiga hari. Dengan harga sekitar Rp22 ribu per tabung, pengeluaran bahan bakar menjadi salah satu komponen biaya operasional yang harus diperhitungkan.

Dini mengaku ketersediaan gas selama ini tidak selalu menjadi kendala karena ia masih memiliki akses ke agen LPG di sekitar tempat tinggalnya. Namun, situasinya bisa berbeda ketika pasokan sedang langka. Dalam kondisi tersebut, ia terpaksa membeli gas secara eceran dengan harga lebih tinggi, bahkan mencapai Rp25 ribu atau lebih per tabung.
Meski belum pernah mengalami kekosongan gas hingga harus menghentikan produksi, Dini menyambut positif rencana pembangunan jaringan gas bumi (jargas) yang kini mulai dikerjakan di wilayah tempat usahanya. Ia berharap kehadiran jargas dapat mempermudah kegiatan produksi, terutama dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar untuk operasional usaha.
“Bagus juga kalau nanti pakai jaringan gas. Jadi tidak perlu susah-susah mencari gas seperti tabung ini,” tuturnya.
Bagi Dini, jargas berpotensi menjadi alternatif yang memudahkan pelaku usaha kecil. Ia berharap tidak lagi bergantung sepenuhnya pada ketersediaan tabung LPG yang terkadang sulit diperoleh.
Meski tertarik, Dini mengaku belum mendapatkan informasi secara menyeluruh mengenai mekanisme pemasangan dan prosedur penggunaan jargas. Sejauh ini, ia baru mengetahui adanya pekerjaan penggalian untuk pembangunan jaringan gas di sekitar lokasi usahanya. Penjelasan lebih lanjut mengenai prosedur pemasangan dan skema biaya masih dinantikannya. “Karena di sini kami juga ngontrak,” ungkapnya, sambil tersenyum.
Dini ingin mengetahui terlebih dahulu ketentuan yang berlaku, termasuk perhitungan biaya pemakaian gas dan mekanisme pembayarannya, sebelum memutuskan untuk beralih dari LPG tabung ke jargas.
“Pengen juga sih masuk jaringan gas. Kita lihat nanti bagaimana prosedurnya, karena sampai sekarang belum tahu penjelasannya seperti apa,” katanya.
Bagi Dini, kehadiran jargas bukan sekadar menawarkan pilihan bahan bakar baru, melainkan juga membuka peluang untuk mendukung kelancaran usaha yang telah dirintisnya. Ia berharap informasi mengenai program tersebut segera disampaikan kepada masyarakat agar pelaku usaha kecil dapat memahami manfaat, prosedur pemasangan, serta biaya penggunaannya sebelum memutuskan untuk beralih.
Layanan Aman dan Mudah
Masuknya jaringan gas ke lingkungan Perumahan Cendana mulai membawa harapan baru bagi sebagian warga. Namun, di balik kemudahan yang diharapkan, masih ada masyarakat yang menyimpan kekhawatiran untuk beralih dari penggunaan LPG tabung ke jargas.
Darmi Yenti, warga Blok C Nomor 2 Tahap 4, Perumahan Cendana, termasuk salah satu warga yang telah mendaftarkan diri sebagai calon pelanggan jargas. Perempuan yang sehari-hari menjalankan usaha warung sembako di rumahnya itu mengaku telah masuk dalam daftar calon pelanggan setelah pendataan kembali dilakukan di lingkungan tempat tinggalnya. Itu dibuktikan, dengan telah dimulainya proses penggalian untuk pemasangan pipa ke rumah dan sebuah stiker dengan nomor ID Pelanggan Jargas tertempel di dinding warung. Di stiker juga tertulis kampanye “Rumah Ini Memilih Gaya Hidup Baru Modernisasi Pemakaian Gas”.
Bagi Darmi, kehadiran jargas menjadi alternatif yang patut dipertimbangkan. Apalagi, selama ini masih ada warga yang memilih menggunakan minyak tanah untuk memasak karena khawatir menggunakan gas. Sebagian lainnya beralih ke kompor listrik sebagai pilihan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Menurut Darmi, kekhawatiran tersebut tidak terlepas dari pengalaman maupun pemberitaan mengenai insiden yang melibatkan gas. Meski demikian, ia menilai ketakutan itu perlu disikapi dengan pemahaman yang lebih baik mengenai jaringan gas yang kini mulai masuk ke lingkungan mereka.
“Namanya gas, mungkin orang masih takut. Ada yang masih pakai minyak tanah, ada juga yang pakai kompor listrik karena takut menggunakan gas,” tuturnya.

Darmi mengingat bahwa rencana pemasangan jargas sebenarnya sudah pernah masuk dalam pendataan sebelumnya. Namun, saat itu banyak warga yang belum bersedia menjadi pelanggan karena masih diliputi kekhawatiran. “Beberapa tahun lalu sudah ada pendataan, tapi banyak yang gak mau dan dipindah ke perumahan lain,” ungkapnya.
Seiring waktu, pendataan kembali dilakukan melalui pengurus lingkungan dan petugas terkait. Warga yang berminat pun mendapat kesempatan untuk mendaftarkan diri.
Darmi mengaku telah beberapa kali mengikuti pendataan. Ia kembali memperoleh informasi mengenai pendaftaran ketika pengurus lingkungan menyampaikannya kepada warga, termasuk melalui tautan pendaftaran yang dibagikan.
Kini, namanya telah masuk dalam daftar calon pelanggan. Meski demikian, ia belum mengetahui secara terperinci biaya pemakaian, mekanisme pembayaran, maupun ketentuan layanan setelah jaringan gas terpasang.
Informasi yang diterimanya sejauh ini menyebutkan bahwa pemasangan secara serentak tidak dipungut biaya. Namun, ia belum mengetahui secara pasti apakah ketentuan tersebut juga berlaku bagi warga yang baru mendaftar setelah tahap pemasangan awal selesai.
“Katanya kalau yang serentak ini gratis. Kalau nanti sudah terpasang semua, lalu ada yang baru ingin memasang, katanya bisa berbayar. Tapi saya juga belum tahu pasti,” ujarnya.
Selain soal biaya, Darmi menilai teknis penggunaan jargas juga perlu menjadi perhatian, terutama bagi warga yang terbiasa menggunakan kompor portabel. Selama ini, LPG tabung dianggap praktis karena dapat dipindahkan sesuai kebutuhan. Ketika memasak di teras atau di luar rumah, misalnya, warga cukup membawa tabung beserta kompornya.
Kebiasaan tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam penggunaan jaringan gas. Darmi berharap nantinya tersedia solusi yang memungkinkan warga tetap leluasa memasak di lokasi berbeda di sekitar rumah tanpa merasa terbatas oleh titik pemasangan kompor.
Menurutnya, kegiatan memasak tidak selalu dilakukan di dapur. Dalam acara keluarga atau kegiatan warga, misalnya, masyarakat kerap memasak dalam jumlah banyak dan membutuhkan ruang yang lebih leluasa.
Karena itu, ia berharap penjelasan mengenai teknis penggunaan jargas dapat disampaikan secara menyeluruh, termasuk kemungkinan penyesuaian instalasi dengan kebutuhan rumah tangga.
Selain kemudahan penggunaan, keberlangsungan layanan juga menjadi perhatian Darmi. Ia berharap jaringan gas dapat beroperasi dengan aman dan lancar serta didukung penanganan yang jelas apabila sewaktu-waktu terjadi gangguan.
Baginya, masyarakat perlu mendapatkan kepastian mengenai layanan yang digunakan, termasuk kemudahan menyampaikan keluhan ketika terjadi gangguan.
Darmi berharap masuknya jargas ke Perumahan Cendana tidak hanya menghadirkan pilihan sumber energi baru, tetapi juga memberikan rasa aman dan nyaman bagi warga. Sosialisasi yang jelas, informasi biaya yang transparan, serta pelayanan yang responsif dinilainya penting agar masyarakat memahami manfaat jargas dan lebih yakin untuk menggunakannya.
Membantu Usaha, Menghemat Waktu
Kehadiran jaringan gas di sejumlah kawasan permukiman di Batam mulai dirasakan manfaatnya oleh pelanggan rumah tangga maupun pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kemudahan memperoleh pasokan gas tanpa harus mencari tabung LPG menjadi salah satu keuntungan yang dirasakan. Namun, biaya pemakaian dan kejelasan tagihan masih menjadi perhatian sebagian pelanggan.
Bagi Nuraini, pelaku UMKM kue yang tinggal di Perumahan Masyeba Indah, Kecamatan Batuaji, sekitar 20 kilometer dari Batam Center, jargas membantu menjaga kelancaran produksi. Sejak menekuni usaha kue pada 2024, ia terbiasa mengandalkan LPG 3 kilogram untuk memenuhi kebutuhan memasak dan memanggang.
Sebelum menggunakan jargas, Nuraini menghabiskan sekitar 10 hingga 15 tabung LPG 3 kilogram setiap bulan. Kebutuhan tersebut cukup besar untuk usaha yang kini tengah menghadapi penurunan penjualan. Jika sebelumnya pesanan bisa mencapai 500 kue dalam sekali produksi, saat ini ia terkadang hanya membuat sekitar 200 kue. Jumlah itu pun belum tentu seluruhnya terjual.
Di tengah kondisi tersebut, kenaikan harga bahan baku dan biaya operasional membuat Nuraini harus lebih cermat menghitung pengeluaran. Jargas yang mulai digunakannya pada 2025 sempat diharapkan menjadi solusi untuk menekan biaya produksi.
Namun, pengalaman awal menggunakan jargas justru membuatnya harus kembali menghitung pengeluaran. Pada bulan pertama, tagihan yang diterimanya mencapai lebih dari Rp500 ribu. Angka tersebut dinilai cukup berat ketika penjualan sedang lesu.
“Awal masuk jargas, coba pakai sebulan, bayar Rp500 ribu lebih. Sekarang campur gas LPG 3 kilogram, dan bayar jargas cuma Rp180 ribuan,” ungkap Nuraini.
Kini, ia mengombinasikan jargas dengan LPG 3 kilogram. Jika tabung LPG habis, ia terpaksa mengandalkan jargas sepenuhnya. Menurutnya, penggunaan kedua jenis gas tersebut menjadi pilihan untuk menyesuaikan kebutuhan produksi sekaligus mengendalikan biaya.
Untuk pemasangan awal, Nuraini juga mengeluarkan sekitar Rp520 ribu untuk membeli kompor dan regulator. Ia berharap biaya pemakaian jargas ke depan lebih terjangkau dan sebanding dengan pengeluaran menggunakan LPG bersubsidi.
Meski demikian, Nuraini mengakui jargas memiliki keunggulan yang sulit diabaikan, terutama dari sisi waktu dan kemudahan. Ia tidak perlu lagi keluar mencari tabung gas ketika persediaan habis. Bagi pelaku usaha yang bergantung pada kelancaran produksi, kepastian pasokan menjadi hal penting.
“Keunggulannya tidak perlu mencari-cari gas lagi, langsung bisa masak. Kalau sepenuhnya menggunakan LPG, khawatirnya terjadi kelangkaan, bisa berhenti produksi,” katanya.
Ia berharap pemerintah maupun PGN dapat mengevaluasi tarif agar penggunaan jargas benar-benar membantu pelaku UMKM. Sebab, menurutnya, pelanggan tetap dikenai biaya meskipun pemakaian sedang sedikit.
“Sekarang pakai tidak pakai, kita harus bayar Rp40 ribu plus administrasi,” ujarnya.
Pengalaman berbeda dirasakan Abdul Hamid, warga Perumahan Bida Asri 1, Batam Kota, yang telah menggunakan jargas sejak 2020. Baginya, manfaat utama jaringan gas terletak pada pengeluaran bulanan yang relatif lebih rendah dibandingkan sebelum beralih.
Jika dahulu ia mengeluarkan sekitar Rp150 ribu per bulan untuk kebutuhan gas, kini pengeluarannya berkisar Rp50 ribu hingga Rp90 ribu. Meski demikian, ia mengaku besaran tagihan dapat berubah dari bulan ke bulan.
“Kadang bulan ini murah, bulan besoknya lebih tinggi,” ujarnya.
Selama menjadi pelanggan, Hamid menilai layanan jargas berjalan cukup baik dan tidak mengalami perubahan berarti. Ia juga menempatkan keterjangkauan biaya dan keandalan pasokan sebagai dua hal terpenting dalam layanan tersebut.
Menurutnya, jargas memberikan kemudahan karena pelanggan tidak perlu lagi mengurus pembelian dan penggantian tabung LPG secara berkala. Namun, ia berharap pengelola menyediakan aplikasi khusus atau sarana informasi yang memudahkan pelanggan memeriksa tagihan bulanan.
Baginya, kemudahan memperoleh gas akan semakin terasa apabila dibarengi informasi biaya yang jelas dan mudah diakses. Dengan begitu, pelanggan dapat mengetahui pemakaian sekaligus memperkirakan pengeluaran setiap bulan.
Hal senada disampaikan Agam Philosopy, warga Bida Asri 1, Batam Kota, yang juga telah merasakan manfaat jargas. Ia mengaku sempat khawatir pada awal penggunaan, terutama karena gas dialirkan melalui jaringan di bawah tanah kawasan permukiman.
Namun, seiring waktu, kekhawatiran tersebut tidak terbukti dalam pengalaman pribadinya. Ia menilai penggunaan jargas sejauh ini berjalan baik, tanpa kendala berarti pada pasokan maupun tekanan gas untuk kompor.
“Awalnya memang ada kekhawatiran karena gas mengalir di bawah tanah. Tapi alhamdulillah, sejauh ini kekhawatiran itu tidak terjadi,” tuturnya. Agam telah menggunakan jargas sejak 2014.
Bagi Agam, kemudahan penggunaan menjadi manfaat yang paling terasa. Ia tidak perlu lagi repot mencari tabung LPG ketika membutuhkan gas. Hal tersebut turut membantu aktivitas sehari-hari, terutama kebutuhan memasak.
Meski demikian, persoalan tagihan masih menjadi pertanyaan baginya. Agam menuturkan bahwa pada beberapa kesempatan, tagihan awal bulan bisa meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan biasanya. Namun, pada bulan berikutnya, jumlah yang harus dibayar bisa kembali lebih rendah.
Perubahan tersebut membuatnya bertanya-tanya mengenai mekanisme perhitungan tagihan yang diterapkan pengelola.
“Untuk tarif, kadang yang menjadi pertanyaan kami, tagihan awal bulan ini tinggi, bisa dua kali lipat. Tapi nanti bulan depan dibayar lebih murah. Saya tidak tahu di PGN bagaimana kebijakannya,” ujarnya.
Agam mengaku tidak terlalu memperhitungkan perbandingan biaya secara terperinci dengan penggunaan LPG sebelumnya. Baginya, efisiensi waktu dan kemudahan memperoleh pasokan sudah menjadi manfaat tersendiri. Namun, ia berharap mekanisme penagihan dapat dijelaskan secara transparan agar pelanggan memahami perubahan jumlah pembayaran setiap bulan.
Pengalaman Nuraini, Abdul Hamid, dan Agam memperlihatkan bahwa manfaat jargas tidak hanya berkaitan dengan kemudahan memperoleh energi, tetapi juga dengan dukungannya terhadap aktivitas rumah tangga dan keberlangsungan usaha. Di sisi lain, keterjangkauan tarif, konsistensi tagihan, serta keterbukaan informasi menjadi faktor yang turut menentukan kenyamanan pelanggan.
Perluasan jaringan gas di kawasan permukiman juga menjadi perhatian pelaku usaha distribusi LPG. Dedi Suwadha, salah satu agen LPG 3 kilogram di Perumahan Cendana, Batam Kota, mengakui masuknya jargas berpotensi mengurangi kebutuhan LPG dari sebagian pelanggan rumah tangga.
Namun, ia menilai pasar LPG masih memiliki segmen lain yang tetap membutuhkan pasokan, terutama pelaku usaha makanan dan minuman.
Menurut Dedi, pelanggan yang menjalankan usaha rumah makan, warung pecel lele, hingga produsen kue dan jajanan masih menjadi bagian penting dari konsumennya. Karena itu, ia belum melihat pemasangan jargas sebagai akhir dari kebutuhan LPG di wilayah tersebut.
“Kalau untuk ibu rumah tangga, mungkin berkurang. Tapi pelanggan rumah makan, yang jualan kue, kemudian warung pecel lele, masih ada. Konsumen kami juga banyak yang memproduksi kue-kue jajanan,” katanya.
Meski demikian, Dedi mengaku hingga saat ini belum menerima sosialisasi resmi dari pihak terkait mengenai dampak perluasan jargas terhadap usaha pangkalan LPG. Ia juga belum memperoleh penjelasan mengenai kemungkinan perubahan peran pangkalan setelah jaringan gas beroperasi di lingkungan tersebut.
Menurutnya, masih ada peluang bagi pangkalan LPG untuk terlibat dalam ekosistem layanan jargas, misalnya melalui kemitraan sebagai agen pembayaran tagihan atau membantu pengurusan administrasi pelanggan.
Ia berharap PGN maupun pihak terkait membuka ruang komunikasi dengan para pelaku usaha distribusi LPG agar mereka memperoleh kejelasan mengenai peluang kemitraan maupun arah usaha ke depan.
“Kalau PGN mau bermitra, kami siap. Bisa menjadi mitra agen pembayaran atau membantu pengurusan administrasinya,” ujarnya.
Batam Kota Percontohan Jargas Nasional
Dari kawasan perumahan Bida Asri dan Puri Legenda, jaringan gas bumi (jargas) di Kota Batam mulai berkembang menjadi salah satu infrastruktur energi yang diproyeksikan mengubah pola konsumsi energi rumah tangga. Lebih dari satu dekade sejak jaringan gas rumah tangga mulai dibangun, Batam kini disiapkan sebagai proyek percontohan nasional untuk memperluas pemanfaatan gas bumi melalui jaringan pipa sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap LPG bersubsidi 3 kilogram.
PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) Area Batam menargetkan pengembangan jaringan gas secara bertahap hingga 2030. Ambisi tersebut bukan sekadar memperbanyak sambungan rumah tangga, melainkan juga membangun model pemanfaatan energi perkotaan yang terintegrasi, efisien, dan dapat diterapkan di kota-kota lain di Indonesia.
Area Head PGN Batam, Wendi Purwanto, mengatakan Batam memiliki peluang untuk menjadi kota pertama di Indonesia yang menerapkan jaringan gas bumi secara menyeluruh bagi kebutuhan rumah tangga.
“Batam diharapkan menjadi kota pertama di Indonesia yang sepenuhnya menggunakan jaringan gas bumi untuk kebutuhan rumah tangga, sehingga tidak lagi bergantung pada LPG subsidi 3 kilogram,” ujarnya.
Target tersebut menjadi bagian dari rencana pengembangan jargas dalam rentang 2026 hingga 2030. PGN menyiapkan pembangunan sambungan baru dalam jumlah besar, dengan sasaran awal memperluas jangkauan layanan ke kawasan permukiman yang selama ini belum terhubung dengan jaringan gas bumi.

Pengembangan jargas di Batam bukan program yang muncul dalam waktu singkat. Fondasinya telah dibangun sejak lebih dari satu dekade lalu, ketika PGN mulai mengerjakan proyek percontohan jaringan gas bumi untuk rumah tangga pada September 2013.
Jaringan awal tersebut menjangkau kawasan perumahan, antara lain Bida Asri dan Puri Legenda. Setelah melalui proses pembangunan, jaringan gas mulai diresmikan dan dialirkan kepada pelanggan pada awal 2014.
Pengembangan kemudian berlanjut melalui sejumlah skema pembangunan. Pada 2016, PGN Batam mendapat penugasan untuk membangun 4.001 sambungan rumah tangga melalui program jargas yang didanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Perbedaan skema pembiayaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengembangan jargas di Batam. Di satu sisi, pembangunan dilakukan melalui investasi jaringan secara mandiri. Di sisi lain, pemerintah mendorong perluasan akses gas bumi melalui program yang didanai negara.
Seiring waktu, jaringan yang semula menjangkau sejumlah kawasan perumahan terus berkembang. Bagi PGN, pengalaman pengembangan jaringan di Batam menjadi modal penting untuk memperluas layanan dalam skala yang lebih besar. Tantangannya kini bukan hanya membangun pipa dan sambungan baru, tetapi juga memastikan infrastruktur tersebut mampu menjangkau semakin banyak warga dengan layanan yang andal.
Untuk mempercepat perluasan jargas, PGN Batam menyiapkan penambahan sambungan rumah tangga secara bertahap. Wendi menyampaikan bahwa target awal pada 2026 adalah penambahan 10 ribu sambungan rumah tangga, dengan perluasan yang menyasar lima kecamatan.
Selain target tersebut, PGN juga menyiapkan pengembangan hingga 100 ribu sambungan rumah tangga tambahan yang direncanakan berlangsung mulai 2027 dan berlanjut sampai 2030.
Apabila rencana tersebut terealisasi sesuai target, jargas akan menjangkau jauh lebih banyak kawasan permukiman di Batam dibandingkan dengan cakupan saat ini.
Perluasan jaringan pada 2026 telah menyasar sejumlah kawasan perumahan, antara lain Cendana, Mediterania, Centra Melati dan Sakina, Kopkar PLN, Bukit Palem dan Villa Sugi Raya, Legenda Bali, Taman Pesona Indah, Pendawa Asri, Muka Kuning Indah I, Griya Sagulung Permai, Griya Permata, Parisa Indah, Aviari Garden 1 dan 2, Air Mas Plaza, Batu Aji Residence, serta Rexvin Residence.
Perluasan itu juga menyentuh kawasan Sagulung dan Batu Aji yang terus berkembang sebagai wilayah permukiman. Dengan bertambahnya sambungan, PGN berharap masyarakat memiliki alternatif sumber energi yang lebih praktis untuk kegiatan sehari-hari.
Meski demikian, angka target perlu dibedakan dari realisasi. Dalam data perkembangan pelanggan PGN Batam, jumlah pelanggan jargas tercatat berfluktuasi dalam beberapa tahun terakhir.
Tahun Jumlah pelanggan
2021 4.651
2022 5.868
2023 5.761
2024 5.692
2025 8.829
2026 11.232
Data tersebut menunjukkan jumlah pelanggan meningkat dari 4.651 pada 2021 menjadi 5.868 pada 2022. Jumlahnya kemudian turun menjadi 5.761 pada 2023 dan 5.692 pada 2024, sebelum meningkat menjadi 8.829 pada 2025 dan 11.232 pada 2026.
Salah satu alasan utama pengembangan jargas adalah potensi efisiensi anggaran subsidi energi. Berdasarkan proyeksi yang disampaikan Wendi, pengalihan kebutuhan energi rumah tangga dari LPG bersubsidi ke gas bumi melalui jaringan pipa berpotensi menghemat anggaran subsidi hingga Rp79 miliar per bulan di Batam jika target penggunaan jargas secara menyeluruh tercapai.
Area Manager Communication, Relations & CSR Sumbagut Pertamina Patra Niaga, Fahrougi Andriani Sumampouw, mengatakan rata-rata konsumsi LPG 3 kilogram di Batam mencapai sekitar satu juta tabung per bulan. Sepanjang 2024, konsumsi tercatat sekitar 14 juta tabung, kemudian meningkat menjadi 15 juta tabung pada 2025.
Besarnya konsumsi tersebut menggambarkan skala kebutuhan energi masyarakat Batam sekaligus ruang yang tersedia untuk memperluas penggunaan gas bumi melalui jaringan pipa.
Namun, proyeksi penghematan Rp79 miliar per bulan masih bergantung pada realisasi perluasan sambungan, tingkat peralihan pelanggan, serta perhitungan subsidi yang dapat dihindari. Karena itu, angka tersebut merupakan potensi yang ditargetkan, bukan penghematan yang sudah terealisasi.
Wendi menegaskan bahwa pengembangan jargas tidak berarti LPG 3 kilogram akan dihapuskan secara nasional. Distribusinya tetap diperlukan untuk melayani wilayah yang belum terjangkau jaringan gas atau daerah yang lebih membutuhkan LPG tabung.
Dengan demikian, perluasan jargas di Batam diarahkan sebagai bagian dari penataan pemanfaatan energi agar sumber daya dan subsidi dapat digunakan secara lebih tepat sasaran.

Di luar kebutuhan rumah tangga, jaringan gas bumi telah menjadi bagian penting dari infrastruktur ekonomi Batam. PGN Area Batam mengelola jaringan pipa dengan panjang sekitar 273 kilometer yang memasok kebutuhan berbagai sektor, termasuk industri, pembangkit listrik, dan pelanggan rumah tangga.
“Sistem ini bukan sekadar pipa bawah tanah biasa. Ini merupakan jaringan utama yang sangat vital. Tidak boleh terganggu,” ujarnya.
Kekhawatiran terjadinya gangguan pasokan terjadi beberapa waktu lalu, di mana adanya aktivitas pematangan lahan di atas pipa gas utama di Stasiun Gas Panaran, Tembesi, yang menjadi urat nadi penyaluran gas untuk Batam dan Singapura. Aktivitas yang dinilai melanggar aturan tersebut kemudian dihentikan.
Dalam menjaga keamanan, gas yang dialirkan melalui jaringan utama terlebih dahulu diturunkan tekanannya dari sekitar 40 bar menjadi 16 bar sebelum didistribusikan kepada pelanggan. Karena itu, perluasan jaringan rumah tangga harus berjalan beriringan dengan pemeliharaan infrastruktur utama, pengawasan keselamatan, dan koordinasi lintas sektor.
Dalam data pemanfaatan gas bumi yang disampaikan PGN Batam, sektor pembangkit listrik menjadi pengguna terbesar, dengan konsumsi sekitar 89,84 BBTUD. Sementara itu, konsumsi sektor rumah tangga tercatat sekitar 0,19 BBTUD.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan gas bumi di Batam saat ini masih didominasi kebutuhan pembangkit listrik. Di tengah dominasi itu, pengembangan jargas rumah tangga membuka ruang bagi diversifikasi penggunaan gas bumi sekaligus memperluas manfaat infrastruktur yang telah tersedia.
Pemasangan Gratis
Wendi menjelaskan bahwa persyaratan pemasangan jargas relatif mudah. Pendaftaran dapat dilakukan secara kolektif atau jauh-jauh hari sebelum pemasangan dilakukan.
“Persyaratannya hanya KTP dan rekomendasi dari RT/RW setempat. Saat ini, PGN juga memberikan fasilitas pemasangan gratis dengan panjang instalasi hingga 15 meter,” ungkap Wendi.
Dari sisi biaya pemakaian, tarif gas bumi saat ini ditetapkan sebesar Rp10.000 per meter kubik (m³). Besaran tarif tersebut ditentukan oleh pemerintah.
Untuk pencatatan pemakaian gas, PGN menyediakan dua metode. Pertama, pelanggan dapat melakukan pencatatan meter secara mandiri melalui aplikasi PGN Mobile sehingga tagihan mengacu pada angka meter aktual. Kedua, pencatatan meter dilakukan setiap tiga bulan sekali dengan menggunakan sistem estimasi.
“Apabila terdapat selisih antara pemakaian berdasarkan estimasi dan pemakaian sebenarnya, baik berupa kelebihan maupun kekurangan perhitungan, penyesuaian akan dilakukan pada periode berikutnya,” katanya.
Sementara itu, pembayaran tagihan gas dapat dilakukan melalui berbagai kanal, mulai dari ATM bank, dompet digital (e-wallet), minimarket, lokapasar (e-commerce), PT Pos Indonesia, hingga Pegadaian. Beragam pilihan tersebut diharapkan dapat memudahkan pelanggan dalam memenuhi kewajiban pembayaran tagihan.
Selain pendaftaran dan pembayaran, aspek keselamatan juga menjadi perhatian PGN dalam memberikan layanan kepada pelanggan. Wendi menyampaikan bahwa tim PGN bersiaga selama 24 jam setiap hari untuk menangani kendala penyaluran gas maupun laporan kebocoran.
“Pelanggan yang mengalami gangguan layanan, mencium bau gas, atau menemukan indikasi kebocoran dapat menghubungi contact center PGN melalui nomor 135 untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut,” kata Wendi.
Dengan tersedianya prosedur pendaftaran, pilihan metode pencatatan meter, beragam kanal pembayaran, serta layanan pengaduan sepanjang waktu, pelanggan diharapkan dapat memanfaatkan jaringan gas bumi dengan lebih mudah dan tetap memperhatikan aspek keselamatan.
Masuk Prioritas Nasional
Rencana menjadikan Batam sebagai proyek percontohan jargas nasional juga memperoleh dukungan dari pemerintah pusat dan daerah. Pada 22 Desember 2025, Badan Pengusahaan (BP) Batam bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membahas pelaksanaan kebijakan jargas di Batam.
Pengembangan tersebut sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, yang menempatkan jaringan gas perkotaan sebagai salah satu indikator program prioritas nasional untuk mendukung ketahanan dan efisiensi energi.
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menyampaikan dukungannya terhadap percepatan implementasi jargas. Ia menekankan pentingnya menyelaraskan pengembangan jaringan dengan rencana tata ruang, pertumbuhan kawasan permukiman, dan pembangunan wilayah baru.
Menurutnya, integrasi jaringan gas antarwilayah dan antarsektor, mulai dari rumah tangga hingga usaha kecil dan industri, penting untuk meningkatkan efisiensi distribusi energi dan memperkuat daya saing Batam.

BP Batam dan Pemerintah Kota Batam juga menyatakan komitmen untuk mendukung program melalui penyelarasan kebijakan tata ruang, percepatan perizinan, serta fasilitasi lahan dan infrastruktur pendukung, dengan tetap memperhatikan keselamatan dan keberlanjutan.
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Elen Setiadi, menilai Batam memiliki potensi sebagai lokasi percontohan pengembangan jargas.
Karakteristik geografis Batam dinilai memungkinkan pengelolaan jaringan secara lebih terintegrasi. Dukungan calon pelanggan serta koordinasi pemerintah juga menjadi faktor penting agar pembangunan dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.
Penetapan Batam sebagai proyek percontohan berarti keberhasilan program nantinya tidak hanya dinilai dari jumlah sambungan yang dibangun. Model pelaksanaan, pengaturan tarif, keselamatan jaringan, kepastian layanan, dan koordinasi antarlembaga juga akan menjadi bagian penting yang dapat dipelajari untuk pengembangan jargas di kota lain.
Keterjangkauan Tarif dan Kepercayaan Pelanggan
Pengembangan jaringan gas bumi untuk rumah tangga di Kota Batam dinilai memiliki potensi strategis dalam meningkatkan efisiensi energi, menekan pengeluaran masyarakat, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Namun, keberhasilan program tersebut tidak cukup diukur dari panjang jaringan pipa atau jumlah sambungan yang dibangun. Manfaat ekonomi yang benar-benar dirasakan rumah tangga harus menjadi tolok ukur utama.
Pandangan itu disampaikan akademisi sekaligus Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Batam, Suyono Saputro, menanggapi rencana menjadikan Batam sebagai proyek percontohan nasional pengembangan jargas. Program yang dikembangkan PGN tersebut ditargetkan terus diperluas hingga mencapai 114.000 sambungan rumah tangga pada 2030.

Menurut Suyono, jargas merupakan bagian dari upaya membangun sistem energi yang lebih efisien dan terintegrasi. Terlebih, Batam memiliki karakter sebagai kawasan industri dan perdagangan yang membutuhkan infrastruktur energi andal, baik untuk mendukung aktivitas ekonomi maupun memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Menurut pandangan saya, program jaringan gas rumah tangga di Batam merupakan program strategis yang perlu didukung karena berpotensi meningkatkan efisiensi energi, mengurangi beban pengeluaran rumah tangga, dan mendukung ketahanan energi nasional,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur harus diikuti dengan pembuktian manfaat ekonomi. Sebab, jumlah sambungan yang terpasang belum tentu menggambarkan tingkat pemanfaatan gas maupun besarnya penghematan yang diperoleh masyarakat.
“Ukuran keberhasilannya bukan sekadar jumlah pipa yang dibangun atau sambungan yang dipasang, melainkan berapa banyak rumah tangga yang benar-benar menggunakan jargas, berapa besar penghematan yang mereka peroleh, dan seberapa andal layanan yang diberikan,” katanya.
Suyono menjelaskan bahwa terdapat tiga dimensi utama yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi pengembangan jargas di Batam. Dimensi pertama adalah efisiensi ekonomi rumah tangga.
Penggunaan gas bumi melalui jaringan pipa menawarkan kemudahan karena masyarakat tidak perlu bergantung sepenuhnya pada pembelian dan penggantian tabung LPG. Sistem ini juga berpotensi membantu rumah tangga mengatur pengeluaran energi secara lebih terencana.
Namun, menurut Suyono, klaim penghematan tidak boleh hanya didasarkan pada asumsi bahwa gas bumi lebih ekonomis dibandingkan LPG. Perbandingan harus dilakukan menggunakan biaya aktual yang dikeluarkan pelanggan.
“Penghematan harus dibuktikan melalui perbandingan biaya aktual, termasuk tarif gas, biaya administrasi, biaya peralatan, serta biaya pemeliharaan jika ada,” ujarnya.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh mengenai manfaat jargas. Perhitungan juga perlu mempertimbangkan pola konsumsi setiap rumah tangga sehingga perbandingan antara penggunaan gas bumi dan LPG dilakukan secara proporsional.
Dengan demikian, keberhasilan program tidak berhenti pada tersedianya akses energi, tetapi juga terlihat dari manfaat finansial yang benar-benar diterima pelanggan.
Dimensi kedua adalah daya saing ekonomi daerah. Sebagai kawasan industri dan perdagangan, Batam membutuhkan sistem energi yang mampu mendukung kegiatan produksi, investasi, serta pertumbuhan kawasan permukiman.
Suyono menilai pengembangan infrastruktur gas dapat menjadi bagian dari pembentukan ekosistem energi yang lebih terintegrasi. Namun, ia menekankan pentingnya membedakan manfaat jaringan gas rumah tangga dengan jaringan gas yang melayani industri dan pembangkit listrik. Keduanya memiliki peran berbeda, meskipun sama-sama menjadi bagian dari sistem energi Batam.
“Batam merupakan kawasan industri dan perdagangan yang membutuhkan infrastruktur energi yang andal. Pengembangan infrastruktur gas dapat mendukung ekosistem energi yang lebih terintegrasi, meskipun manfaat jargas rumah tangga perlu dibedakan dari manfaat jaringan gas untuk industri dan pembangkit,” jelasnya.
Dalam perspektif ekonomi daerah, pengembangan jargas rumah tangga perlu dilihat sebagai salah satu komponen pembangunan infrastruktur perkotaan. Manfaatnya tidak hanya berkaitan dengan kemudahan memasak, tetapi juga dengan efisiensi layanan energi dan kualitas hidup masyarakat.
Akan tetapi, dampak terhadap perekonomian Batam secara keseluruhan tetap perlu dinilai berdasarkan data. Evaluasi tersebut diperlukan agar kontribusi jargas terhadap efisiensi ekonomi daerah tidak sekadar menjadi asumsi, melainkan dapat diukur melalui indikator yang jelas.
Dimensi ketiga adalah ketahanan dan diversifikasi energi. Bagi Suyono, jargas dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperluas pilihan sumber energi domestik dan mengurangi ketergantungan pada LPG.
Namun, manfaat tersebut sangat bergantung pada keberlanjutan operasional jaringan. Ketersediaan pasokan gas, keandalan distribusi, standar keselamatan, serta kualitas pelayanan menjadi faktor yang menentukan keberhasilan program dalam jangka panjang. Karena itu, pemerintah dan PGN perlu memastikan pembangunan jaringan berjalan beriringan dengan kesiapan sistem operasional.
“Pemerintah perlu memperkuat koordinasi dan memastikan kebijakan yang mendukung, sementara PGN harus menjaga keterjangkauan tarif, keselamatan, keandalan pasokan, serta kualitas pelayanan,” tegasnya.
Menurut Suyono, keterjangkauan juga menjadi aspek penting karena program jargas menyasar kebutuhan dasar masyarakat. Perluasan jaringan harus diikuti pelayanan yang dapat diandalkan agar pelanggan tidak hanya memperoleh sambungan, tetapi juga merasakan manfaatnya secara berkelanjutan.
Sementara itu, evaluasi berkala diperlukan untuk mengetahui apakah perluasan jaringan sejalan dengan peningkatan jumlah pengguna aktif, kualitas layanan, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Hasil evaluasi tersebut juga dapat menjadi dasar penyesuaian kebijakan maupun strategi pengembangan pada tahun-tahun berikutnya.
Sebagai Ketua ISEI Batam, Suyono berpandangan bahwa pengembangan jargas perlu disertai kajian independen untuk mengukur dampak ekonomi dan efektivitas program.
Kajian tersebut dapat mencakup perbandingan biaya energi sebelum dan sesudah menggunakan jargas, tingkat pemanfaatan sambungan, keterjangkauan tarif, kualitas pelayanan, serta dampak program terhadap pengeluaran rumah tangga.
Selain itu, evaluasi dapat mengidentifikasi kendala yang dihadapi pelanggan, termasuk persoalan teknis, akses jaringan, dan kesinambungan pasokan. Dengan pendekatan berbasis data, pengembangan jargas dapat diarahkan sesuai kebutuhan masyarakat dan kondisi ekonomi daerah.
“Sehingga pengembangan jargas di Batam tidak hanya menjadi proyek infrastruktur, tetapi benar-benar menjadi instrumen peningkatan kesejahteraan masyarakat dan efisiensi ekonomi daerah,” katanya.
Suyono menegaskan bahwa pada prinsipnya ia mendukung pengembangan jargas di Batam. Dengan target ekspansi hingga 2030, tantangan pengembangan jargas bukan hanya mempercepat pembangunan jaringan, melainkan memastikan setiap tahapan memberikan hasil yang nyata. Koordinasi pemerintah, kesiapan operator, serta evaluasi independen menjadi bagian penting untuk menjaga agar program berjalan sesuai tujuan.
Bagi Batam, peluang menjadi proyek percontohan nasional akan memiliki arti lebih besar apabila keberhasilan pembangunan infrastruktur dapat diterjemahkan menjadi pengeluaran energi rumah tangga yang lebih efisien, pelayanan yang andal, dan manfaat ekonomi yang dapat dibuktikan.
Pada akhirnya, sebagaimana ditekankan Suyono, keberhasilan jargas tidak cukup dilihat dari seberapa luas jaringan yang dibangun, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat yang menggunakannya.
Bagi PGN, tantangan berikutnya bukan hanya memastikan jaringan tersedia hingga ke rumah-rumah, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat agar jargas menjadi pilihan energi yang dapat diandalkan.
Apalagi, target pengembangan hingga 2030 membutuhkan dukungan banyak pihak, mulai dari pemerintah pusat, BP Batam, pemerintah daerah, PGN, Pertamina, hingga masyarakat dan pelaku usaha.
Jika target tersebut tercapai, Batam berpeluang menjadi rujukan nasional dalam pengembangan jargas perkotaan. Pengalaman Batam dapat memberikan gambaran mengenai cara mengintegrasikan jaringan gas ke kawasan permukiman yang berkembang pesat, sekaligus menyeimbangkan kebutuhan rumah tangga, industri, dan pembangkit listrik.
Bagi Batam, proyek percontohan ini bukan hanya tentang mengganti LPG tabung dengan gas yang mengalir melalui pipa. Lebih jauh, program tersebut menjadi ujian bagaimana infrastruktur energi dapat mendukung pertumbuhan kota, meningkatkan efisiensi pemanfaatan subsidi, dan menghadirkan layanan yang aman, terjangkau, serta berkelanjutan bagi masyarakat.(emr)





