NATUNA,Ariranews.com – Bupati Natuna, Cen Sui Lan, merespons empat tuntutan yang diajukan Batu Gajah FC menyusul protes terhadap kepemimpinan wasit dalam pertandingan Turnamen Sepak Bola Piala Bupati Natuna 2026. Menindaklanjuti persoalan tersebut, Bupati menyatakan akan segera memanggil Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) serta panitia pelaksana untuk meminta klarifikasi.
Langkah tersebut disiapkan setelah Pemerintah Desa Batu Gajah secara resmi menyampaikan surat keberatan sekaligus mosi tidak percaya terkait pertandingan melawan Al-Athar FC di Lapangan Tunas Harapan Baru, Selasa (27/10/2026). Bupati menegaskan, penyelenggaraan turnamen harus menjunjung kejujuran, sportivitas, dan perlakuan yang adil bagi seluruh peserta.
Respons itu disampaikan Cen Sui Lan saat menerima kunjungan Kepala Desa Batu Gajah, Kurniawan Sindro Utomo, di ruang kerjanya, Jalan Batu Sisir Bukit Arai, Kecamatan Bunguran Timur, Kamis (29/10/2026).
Cen Sui Lan mengatakan, Piala Bupati Natuna sejak awal dirancang sebagai ajang silaturahmi masyarakat, pembinaan generasi muda, sekaligus wadah untuk mencari bibit atlet sepak bola potensial dari daerah.
“Sejak awal saya menekankan bahwa Piala Bupati Cup ini adalah wadah silaturahmi, pembinaan pemuda, sekaligus ruang untuk menjaring bibit-bibit atlet berprestasi dari Natuna. Saya tidak menginginkan adanya ketidakjujuran dalam kegiatan ini. Seluruh pihak harus diperlakukan secara adil,” ujar Cen Sui Lan.
Sebagai tindak lanjut, ia akan berkoordinasi dengan Dispora dan panitia pelaksana untuk mengetahui duduk persoalan serta meminta penjelasan mengenai keberatan yang disampaikan Batu Gajah FC.
Empat Tuntutan Batu Gajah FC
Sebelumnya, Batu Gajah FC mengajukan surat protes tertulis dan mosi tidak percaya melalui surat Pemerintah Desa Batu Gajah Nomor 400.4/212/DBG-UP1/X/2026 tertanggal 28 Oktober 2026.
Dalam pengaduannya, Batu Gajah FC mempersoalkan sejumlah keputusan wasit yang dinilai merugikan tim, dugaan benturan kepentingan, serta informasi yang mereka lampirkan terkait dugaan praktik suap dan pengaturan pertandingan.
Atas persoalan tersebut, mereka mengajukan empat tuntutan kepada panitia dan pihak terkait.
Pertama, meminta investigasi menyeluruh serta sidang kode etik dengan memanggil wasit yang bertugas dan manajer Al-Athar FC untuk dimintai klarifikasi.
Kedua, meminta pertandingan dinyatakan batal dan Al-Athar FC didiskualifikasi dari turnamen.
Ketiga, meminta sanksi terhadap wasit, mulai dari skorsing hingga pemberhentian tetap apabila terbukti melakukan pelanggaran kode etik.
Keempat, meminta ganti rugi finansial atas kerugian yang diklaim dialami Batu Gajah FC.
Seluruh tuntutan tersebut merupakan sikap dan permintaan pihak Batu Gajah FC yang masih memerlukan pemeriksaan serta keputusan dari pihak berwenang.
Kades Batu Gajah Harapkan Ada Penyelesaian
Kepala Desa Batu Gajah, Kurniawan Sindro Utomo, menyatakan pihaknya mendukung langkah administratif yang ditempuh manajemen dan official Batu Gajah FC. Menurutnya, penyampaian protes melalui surat resmi merupakan upaya agar keberatan tim dapat ditindaklanjuti melalui mekanisme yang berlaku.
Ia menjelaskan, pihak tim sebelumnya telah berupaya berkomunikasi dengan perangkat pertandingan untuk meminta penjelasan mengenai sejumlah keputusan di lapangan. Namun, upaya tersebut belum menghasilkan penyelesaian yang diharapkan.
“Sebagai orang tua di desa, kami tentu berusaha menahan diri di pinggir lapangan agar tidak memicu emosi berlebih dari para pemain. Kami sangat menjaga agar jangan sampai terjadi perselisihan yang dapat merusak nama baik desa, kecamatan, terutama event kebanggaan kita bersama, Bupati Cup,” kata Kurniawan.
Ia berharap panitia dan pihak terkait dapat memeriksa laporan beserta bukti pendukung yang telah disampaikan, sehingga persoalan tersebut memperoleh penyelesaian secara objektif dan transparan.
Menurutnya, evaluasi terhadap penyelenggaraan pertandingan penting dilakukan agar kompetisi sepak bola di Natuna ke depan semakin baik dan seluruh tim mendapatkan kesempatan bertanding dalam suasana yang menjunjung sportivitas.
Kini, tindak lanjut Dispora dan panitia pelaksana menjadi perhatian dalam penyelesaian polemik tersebut. Klarifikasi dari seluruh pihak diharapkan dapat memberikan kejelasan atas tuntutan Batu Gajah FC sekaligus menjaga kepercayaan peserta terhadap penyelenggaraan Piala Bupati Natuna 2026.
(Dod)





