Harga Sayuran Melonjak, Safrul Justru Panen Kemandirian dari Halaman Rumah

Avatar photo
Safrul menunjukkan berbagai jenis sayuran yang dia tanam di depan rumahnya. Sayuran tersebut dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

AriraNews.com, Batam – Di teras rumah sederhana Perumahan Bukit Raya, Blok D9 Nomor 2, Kelurahan Belian, Kecamatan Batam, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Kamis (19/3/2026) pagi, Muhammad Safrul tampak sibuk dengan aktivitas yang tak biasa.

Biasanya, di pukul 08.00 WIB seperti ini, ia sudah berpakaian rapi dan bersiap berangkat kerja. Namun, pagi itu terlihat berbeda. Dengan pakaian seadanya, berbaju kaos berwarna biru tua dan celana pendek hitam, ia terlihat duduk di antara ember-ember bekas yang berserakan, sebagian retak, sebagian kusam dimakan waktu.

Kedua tangannya tak berhenti bergerak, membongkar tanah dari dalam pot,  mencampurnya dengan kompos, dan kembali memasukkan ke dalam wadah-wadah yang akan ditanami kembali dengan berbagai jenis sayuran yang sudah disemai sebelumnya.

Safrul menunjukkan berbagai jenis sayuran yang dia tanam di sekitar teras rumahnya.

“Bayam ini sudah ada 80 batang yang sudah dipisah-pisahkan, kangkung ada puluhan batang, ada juga selada dan tomat cheri yang akan ditanami kembali,” kata Safrul sembari menanam bayam ke dalam pot yang sudah disediakan.

Tak hanya ember bekas, beberapa pot berwarna biru dan hitam juga terlihat tersusun rapi di rak kayu yang ia buat sendiri. Di sana sudah tumbuh berbagai jenis sayuran, ada sayuran yang siap dipanen, ada juga yang masih proses semai. Rumah Safrul tampak teduh dengan rindangnya pohon timun tepat di teras rumah. Pemandangan itu menarik perhatian setiap orang yang melintas di depannya.

BACA JUGA:  Bukan Pendaratan Darurat, Ini Penyebab Tertundanya Keberangkatan JCH Kloter 5 Batam

Dari aktivitas sederhana itulah, kisah ketahanan pangan keluarga Safrul mulai tumbuh. Sebagian kebutuhan pangan keluarga bisa dipenuhi. Bahkan bila hasil panen berlebih, tetangga sekitar juga merasakan manfaatnya.  

Lahir di Aceh pada 26 Desember 1976, Safrul tak pernah menyangka kebiasaan kecil mengutak-atik tanaman kini menjadi penopang dapur keluarganya.

Awalnya, kegiatan itu hanya untuk mengisi waktu luang dan hobinya. Namun ketika harga bahan pokok kerap melonjak, ia mulai melihat peluang.

“Minimal untuk kebutuhan rumah tangga dulu,” ujarnya sembari menghapus keringat di kening.

Hampir setahun berjalan, hasilnya mulai terasa. Sekitar seperempat kebutuhan sayur keluarga kini dapat dipenuhi dari pekarangan sendiri.

Seorang anak melintas di depan rumah Safrul yang ditanami berbagai jenis sayuran untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Tak berhenti di situ, saat panen berlebih, Safrul dengan senang hati membagikannya kepada tetangga. Baginya, ini bukan sekadar berkebun, tetapi juga tentang berbagi dan memberi contoh bahwa lahan sempit pun bisa produktif.

Dengan ruang yang terbatas, ia memanfaatkan apa saja yang tersedia. Seperti pot, ember bekas, hingga galon rusak. Barang-barang yang sebelumnya tak terpakai kini memiliki nilai baru.

Di dalamnya tumbuh berbagai tanaman. Di antaranya, selada, tomat, cabai, timun, bayam, kangkung, jeruk manis hingga daun katu yang bermanfaat bagi ibu menyusui.

Salah satu momen yang paling ia syukuri terjadi saat harga cabai melonjak hingga Rp100 ribu per kilogram. Di saat banyak orang mengeluh, Safrul justru menikmati hasil dari 28 pot cabai yang ia rawat. Setiap minggu, ia bisa memanen secara rutin.

BACA JUGA:  Peresmian Mako Bakamla Zona Barat di Batam, Amsakar: Keamanan Maritim Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah

“Alhamdulillah, waktu itu kami tak perlu beli cabai,” katanya.

Namun semua itu tidak didapat secara instan. Safrul membeli bibit, menyemainya dengan telaten hingga berusia 40–45 hari sebelum dipindahkan ke wadah tanam.

Tanah yang digunakan pun hasil racikan sendiri, campuran tanah beli, pupuk kimia, dan kompos organik dari sisa bahan dapur.

Di sela kesibukannya sebagai karyawan swasta di bidang mechanical plumbing untuk proyek pembangunan, ia tetap menyempatkan waktu untuk kebun kecilnya. Sesekali, ia merawat tanaman bersama sang istri.

Keempat anaknya pun tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan nilai kemandirian dan ketekunan.

Lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan keluarga, Safrul menyimpan harapan yang lebih luas. Ia ingin apa yang dilakukannya bisa menginspirasi lingkungan sekitar.

“Minimal ibu-ibu di lingkungan sini bisa memanfaatkan pekarangan rumahnya,” ujarnya.

Baginya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil dari satu ember bekas, satu tanaman, satu rumah.

Apa yang dilakukan Safrul sejatinya selaras dengan upaya yang lebih besar. Di tingkat regional, Bank Indonesia melalui Perwakilan Kepulauan Riau juga tengah memperkuat strategi ketahanan pangan.

Kepala Perwakilan BI Kepulauan Riau, Rony Widijarto, menegaskan bahwa tantangan utama wilayah kepulauan ini adalah ketergantungan pada pasokan pangan dari luar daerah, yang berdampak langsung pada stabilitas harga.

BACA JUGA:  Ascott Hotels Regional Batam Bersatu dengan Komunitas Lokal dalam "Aksi Bersih" Menyambut Hari Bumi 2026

“Pengamanan pasokan menjadi fokus utama untuk menekan inflasi,” jelasnya.

Untuk itu, BI Kepri meluncurkan berbagai inisiatif, salah satunya Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Program ini mendorong sinergi lintas sektor, termasuk penguatan urban farming dan pemberdayaan UMKM pangan.

Langkah tersebut menjadi penting, mengingat kondisi geografis wilayah kepulauan dengan biaya distribusi yang tinggi. Produksi pangan dari skala rumah tangga hingga komunitas menjadi kunci ketahanan.

Gerakan urban farming yang didorong BI Kepri pun menemukan refleksinya dalam apa yang dilakukan Safrul. Bedanya, ia telah memulainya jauh sebelum istilah itu populer dengan pendekatan sederhana dari pekarangan sendiri.

Di sisi lain, BI Kepri juga memperkuat sinergi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), menggelar bazar pangan murah, serta mendorong peningkatan produktivitas pangan lokal.

Upaya-upaya ini menjadi jembatan antara kebijakan makro dan praktik nyata di lapangan.

Di tengah ancaman kenaikan harga pangan dan ketergantungan pada pasokan luar daerah, langkah kecil seperti yang dilakukan Safrul terasa semakin relevan.

Ketahanan pangan, ternyata, tidak selalu harus dimulai dari skala besar. Ia bisa tumbuh perlahan di halaman rumah, dari tangan-tangan yang sabar, dan dari harapan yang tak pernah berhenti ditanam. (emr)