Penggunaan QRIS di Kepri Meroket, hingga September Nominal Transaksi Capai Rp 7,7 T

Avatar photo
Kepala Perwakilan BI Kepri, Rony Widijarto P.

AriraNews.com, Batam – Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada triwulan III 2025 melanjutkan kinerja yang solid dengan pertumbuhan sebesar 7,48% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya tercatat sebesar 7,14% (yoy).

Secara kumulatif, perekonomian Kepri hingga triwulan III 2025 tercatat tumbuh 6,60% (ctc). Pertumbuhan ekonomi di Kepri mempertahankan posisi tertinggi di Sumatera dan memberikan kontribusi sebesar 7,07% terhadap PDRB Pulau Sumatera. Capaian ini juga lebih tinggi dibanding pertumbuhan Sumatera yang tercatat sebesar 4,90% (yoy).

Dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia turut mendukung peran digitalisasi sebagai katalisator dalam perputaran roda ekonomi di antaranya dengan menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Data Bank Indonesia Perwakilan Kepri mencatat, hingga September 2025, volume dan QRIS telah mencapai 64,94 juta transaksi atau tumbuh sebesar 181, 93% (yoy) dan nominal transaksi sebesar Rp 7,71 triliun atau sebesar 140,62% (yoy). Selain itu transaksi QRIS Cross Border Thailand, Malaysia, dan Singapura turut menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan sejak implementasi.

BACA JUGA:  Warga Laguna Tahap 2 Curhat ke Taba Iskandar saat Reses, Air Sering Mati dan Jalan Becek

Di tengah pertumbuhan ekonomi yang solid tersebut, inflasi di Kepri tetap stabil. IHK (Indeks Harga Konsumen) Kepri pada Oktober 2025 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,36% (mtm), lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang tercatat inflasi sebesar 0,64% (mtm). Secara tahunan inflasi Kepri tercatat sebesar 3,01% (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 2,70% (yoy). Berdasarkan kelompok pengeluaran, Inflasi di bulan Oktober 2025 terutama didorong oleh Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya yang mengalami inflasi 3,88% (mtm) dengan andil sebesar 0,27% (mtm). Inflasi pada kelompok ini utamanya disebabkan oleh kenaikan harga pada komoditas emas perhiasan seiring dengan berlanjutnya ketidakpastian geopolitik. Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang mengalami deflasi 0,18% (mtm) dan andil deflasi 0,04 (mtm).

BACA JUGA:  Pengesahan Ranperda LAM Batam Tunggu Fasilitasi Gubernur Kepri

Ke depan, perekonomian Kepri diyakini masih dapat tumbuh positif. Keberlanjutan ini didukung oleh pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Kawasan Industri (KI), dan Proyek Strategis Nasional (PSN), serta didukung oleh meningkatnya mobilitas masyarakat pada akhir tahun. “Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan pelaku usaha terus menyiapkan langkah-langkah terukur untuk mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi bersama Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED),” kata Kepala Perwakilan BI Kepri, Rony Widijarto P, dalam pers rilis, Kamis (7/11/2025).

BACA JUGA:  Warga Sambau Antusias Sambut Reses Taba Iskandar, Datang Bawa Bukti Bukan Janji

Sementara itu, inflasi turut diprakirakan akan tetap terjaga dalam rentang sasaran inflasi melalui penguatan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Berdasarkan pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) hingga akhir Oktober 2025, pengendalian harga pangan yang perlu menjadi fokus utama adalah cabai merah keriting, cabai rawit merah, dan cabai merah besar. Bank Indonesia bersinergi dengan stakeholders terkait dalam menjaga stabilitas Inflasi pangan bergejolak di antaranya dengan program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang mencakup strategi 4K yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif. (ara)