Mentari di Usia Pagi

Avatar photo
Ilustrasi/Int.

Oleh: Mita Harianti, Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta

Pukul 09.30 WIB, pagi yang amat cerah di Beji Timur, Depok. Langit menampakkan indah birunya dihiasi merah merekah senyum mentari. Aku melangkahkan kaki dari kos menuju Puskesmas Beji yang berjarak sekitar 300 meter. Di pagi yang cerah ini, puskesmas sudah ramai dikunjungi masyarakat setempat untuk memeriksakan kesehatan. Pun denganku, aku ingin mengobati perutku yang dari semalam sakit tak tertahan. Rasanya seperti diikat kencang dan membelit. 

Sesampainya di sana, seorang tukang parkir memberiku nomor antrean. Tidak disangka, nomor antrean yang kudapati sudah antrean ke-91. Selanjutnya, aku memilih duduk di bangku ketiga. Mengantre di belakang orang-orang yang sudah terlebih dahulu datang. Belum sampai 5 menit, seorang anak kecil memakai baju warna pink dan topi warna-warni kulihat batuk-batuk. Posisinya ada di depan meja petugas, usia anak itu sekitar 6 tahun. Di samping anak tersebut juga ada seorang ibu yang sedang menggendong bayi. 

Batuknya semakin bertubi-tubi, kulihat sang ibu mengurut pelan punggung anak tersebut. Tiba-tiba, anak itu muntah dan membuat orang-orang yang sedang mengantre melihat ke arah anak itu. Lalu, ibu tersebut membawa anaknya ke wastafel yang ada di sebelah kiri kursi antrean. Anak tersebut masih muntah-muntah dan terlihat lemas. Aku mendengar ibu-ibu di sampingku berbicara pelan kepada ibu yang lain. "Adek itu kayanya batuk kering, kerongkongannya gatal makanya muntah," bisik ibu-ibu tersebut.

Beberapa menit kemudian, anak tersebut sudah duduk di bangku antrean yang lain, lalu masuk ke dalam ruang konseling. Dari luar, aku masih bisa dengan jelas melihat anak itu muntah lagi. Tangan sang ibu seperti tidak jijik untuk menampung muntah anak kecil itu. Tanpa sadar, ternyata nomor antreanku sudah dipanggil petugas. Aku segera ke meja petugas untuk konsultasi tentang penyakitku. Sebentar saja, lalu aku mengantre di kursi lain untuk dilakukan pengecekan tensi darah dan berat badan.

Entah kenapa, kulihat kali ini puskesmas banyak dikunjungi oleh ibu-ibu yang ingin membawa anaknya berobat. Ada yang masih bayi, ada yang berusia 2 tahun, 3 tahun, sampai 8 tahun. Anak-anak itu beragam pula tingkahnya. Ada yang menangis, ingin pulang, tidak tenang, lari-larian, dan lain-lain. Namun, seorang ibu selalu bisa menenangkan anaknya. Membujuk penuh rasa sabar dan kasih sayang. Aku jadi teringat dengan ibuku yang sekarang berada jauh di pulau seberang, Padang. Aku berfikir bahwa sewaktu kecil aku pasti juga dirawat dan dijaga penuh dengan rasa sabar. 

Setelah namaku dipanggil untuk pengecekan tensi dan berat badan, aku berpindah lagi mengantre di poli umum. Anak kecil yang menjadi perhatianku tadi sudah tidak kulihat lagi. Kurasa, anak itu sudah pulang bersama sang ibu. Begitulah kasih sayang seorang ibu yang menjadi mentari saat usia diri masih pagi. Usia pagi yang belum tahu apa-apa, tapi ibu selalu menjadi penunjuk arah. Kasih ibu sepanjang jalan, kerna itu sejauh apapun kaki melangkah pulang ke pangkuan ibu selalu menjadi tujuanku.

Akhirnya, dokter selesai melakukan pengecekan penyakitku pagi ini. Kata dokter yang memeriksa, aku masuk angin biasa. Dokter memberiku resep obat untuk diminta ke apoteker. Aku mengantre lagi beberapa menit, setelahnya aku kembali pulang ke kosanku.(mh)
BACA JUGA:  Lantik Pengurus FPK 2025-2030, Bupati Iskandarsyah Tekankan Harmoni Jadi Kunci Investasi Karimun