Headline

Hikmah dari Kegagalan

Oleh: Mita Harianti
Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta

Pukul 16.30, sore yang indah untuk duduk bersantai di lapangan sepak bola Beji Timur nan hijau, Depok. Sore ini, lapangan sepak bola yang dikelilingi beberapa pepohonan dan pedagang kaki lima di pinggir lapangan itu ramai.

Warga sekitar dan para mahasiswa perantauan yang kos di sekitar wilayah ini tampak mengantre di gerobak dagang yang berada persis di sisi kanan lapangan. Ada yang membeli gorengan, minuman, sempol, tahu gejrot, dan aneka makanan lainnya. Namun, beberapa orang gagal mendapatkan makanan yang diinginkan, karena makanan tersebut sudah habis terjual.

Berbicara tentang kegagalan, semua orang pastilah pernah gagal dalam mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Ada yang gagal dalam mencapai kampus impian, ada yang gagal dalam meraih cita-cita, ada yang gagal dalam hubungan asmara, dan ada juga yang gagal lulus dalam suatu seleksi masuk ke peguruan tinggi.

Salah-satu dari kegagalan di atas pernah dirasakan oleh Laila, mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta Jurusan Teknik Elektro. Perempuan berhijab ini membagikan sepotong kisahnya yang pernah gagal ketika ia ditemui di bawah pohon rindang, sisi depan lapangan Beji Timur.

Laila menamatkan sekolah di SMAN 1 Kota Solok. Sekolah tersebut merupakan SMA favorit yang ada di Kota Solok. Lulus dari sana, Laila mecoba mendaftar masuk peguruan tinggi negri di Kota Padang dengan mangambil UNP dan UNAND sebagai kampus tujuannya. Namun, karena nilainya tidak mencukupi Laila ditolak. Laila sangat sedih, karena teman-temannya yang ikut mendfatar bersama dirinya dinyatakan lulus. Rasa gagal menghampiri diri Laila, karena selama bersekolah ia selalu mendapatkan peringkat sepuluh besar.

“Laila dulu itu bisa dibilang kalo rajin tidak rajin-rajin banget, tapi selalu sepuluh besar. Makanya Laila merasa gagal dan jatuh banget, hancur banget hidup itu rasanya dulu. Karena, emang tidak diterima di universitas yang Laila daftar,” katanya sembari menyeruput teh hangat yang ada di tangan sebelah kanannya.

Laila putus asa dan tidak tahu harus melakukan apa lagi. Dia mengambil jalan untuk pergi dari rumah agar bisa menghilangkan rasa sedihnya. Kampung Inggris, tempat untuk belajar bahasa Inggris, yang ingin ia datangi setelah mendapatkan informasi dari kakak kelasnya yang pernah ke sana.

Meskipun berat, Laila memberanikan diri untuk menyampaikan rencana tersebut kepada orang tuanya. Kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan dan kakaknya yang saat itu juga sedang berkuliah menjadi pertimbangan besar Laila. Apalagi, untuk pergi ke pulau Jawa, tentunya akan mengeluarkan biaya yang banyak.

Tapi, Allah memudahkan langkah Laila, ibunya memberi dia izin untuk pergi. Kampung Inggris saat itu ia anggap sebagai pelarian, karena di kampung halaman ia tidak sanggup dihujani pertanyaan-pertanyaan yang melukai hatinya.

“Bisa dibilang, Kampung Inggris itu dulu pelarian Laila. Jujur, karena emang tidak sanggup ditanya-tanya oleh orang ‘Di mana kuliah?’ terus menerus, itu rasanya sakit banget perasaan,” Laila mengerutkan alisnya dan dengan fasih mengingat kejadian itu.

Walaupun ada beberapa sanak keluarga yang menentang keinginan Laila untuk ke Kampung Inggris, tapi karena restu orang tuanya ia tetap pergi. Berangkat dengan mobil salah satu keluarganya dari Kota Solok menuju Surabaya selama sekitar 3 hari. Lalu, ia melanjutkan perjalanannya ke Pare yang jaraknya sekitar 2 jam dari Surabaya.

Selama di Pare, Laila belajar bahasa Inggris sesuai dengan materi yang diberikan. Empat bulan di sana, ia mendapatkan teman baru yang sampai sekarang masih berhubungan baik, mendapatkan pengalaman baru, dan dapat bercerita tentang pengalaman masing-masing. Cerita mereka berbeda-beda, dan Laila mengambil setiap hal positif dari cerita tersebut.

Allah menyiapkan cerita yang begitu hebat. Selesai dari masa belajarnya di Kampung Inggris, ia diberi kesempatan untuk ke Bali, ke rumah pamannya, yang tidak pernah terpikirkannya sama sekali. Laila sangat senang bisa ke Bali, karena Bali itu bagi Laila yang orang Sumatra itu sangat jauh dan tidak terjangkau olehnya.

Setelah itu, Laila pulang ke Sumbar. Sampai di Sumbar, ia mencoba lagi mendaftar SBMPN dengan mengambil PNJ sebagai pilihan pertama dan PNP pilihan keduanya. Beberapa minggu kemudian, Laila kembali merasakan kegagalan yang pernah ia rasakan sebelumnya. Ia menangis lantaran namanya tidak ada di daftar nama yang lolos di PNP, pilihan keduanya.

Pagi itu, dengan perasaan yang hancur lebur, ia sampaikan ke ibunya. “Ibu, Laila tidak lolos lagi masuk peguruan tinggi di Padang, Bu,”. Lalu, ibunya menjawab. “Kasihan, Laila engga lolos lagi,”. Ayahnya pun menguatkan dirinya. “Semoga ujian esoknya lagi lolos. Aamiin,” urai Laila dengan raut wajah sedih yang tak bisa ia tutupi.

Siapa sangka, doa dari ayah Laila dijabah oleh tuhan. Sore harinya, Laila mendapatkan kabar bahagia ketika ia sedang berada di rumah temannya. Laila yang awalnya tidak lulus dipilihan kedua, ternyata dinyatakan lulus dipilihan pertama yaitu di Politeknik Negeri Jakarta. Ia mengucap syukur dan menangis bahagia. Dengan air mata yang masih membasahi pipi, Laila mengabari orang tuanya melalui telepon.

Langit tidak lagi mendung, Laila tidak lagi murung karena ia bisa lulus di PNJ. Setleah lulus dan hendak mengikuti seleksi masuk peguruan tinggi lagi, ibu Laila melarangnya untuk ikut. Karena, ibunya bilang beri kesempatan kepada yang lain. Apalagi, Laila sudah pernah merasakan gagal. Biarkan orang lain mencoba. Biar orang lain juga merasa senang.

Banyak hikmah yang Laila dapatkan setelah melewati semua itu. Laila yang dulunya keras kepala, sering melawan orang tua, dan apa yang ia mau harus ia dapatkan, kini tidak lagi. Mengingat perjuangan orang tua yang banyak berkorban untuknya. Sekarang, Laila merasa hatinya lebih lunak dan lebih peka pada lingkungan.

“Iya, kita memang gagal. Tapi, gagal itu bukan berarti berhenti. Kita gagal, tapi bakal lewat jalan lain. Benar kata orang, tidak satu jalan menuju kesuksesan. Entah jalan itu bercabang-cabang, tapi tujuannya tetap satu. Kita menuju sukses,” tutupnya sembari tersenyum kecil.(mh)

Redaksi

Recent Posts

DLH Natuna Terbitkan Imbauan, Sri Panglima Siap Tindak Pedagang yang Melanggar

Ariranews.com, Natuna – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Natuna menerbitkan surat imbauan terkait penataan dan…

4 jam ago

Danpuspomau Kunjungi Satpomau Lanud RSA Natuna, Tekankan Integritas dan Profesionalisme Prajurit

Ariranews.com, Natuna – Komandan Pusat Polisi Militer TNI Angkatan Udara (Danpuspomau) Daan Sulfi melaksanakan kunjungan…

6 jam ago

TelkomGroup Resmikan Kabel Laut Pukpuk: Jembatan Digital Pertama yang Menghubungkan Indonesia – Papua Nugini

AriraNews.com, Jakarta - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, melalui operating company PT Telekomunikasi Indonesia International…

12 jam ago

Investasi India di Batam Tembus Rp 258,6 Miliar

AriraNews.com, Batam - Badan Pengusahaan (BP) Batam terus memperkuat posisi strategisnya sebagai pusat investasi di…

13 jam ago

Dari Natuna, Danlanud RSA Ikuti Exit Briefing Pangkodau I Secara Virtual

Ariranews.com, Natuna – Komandan Lanud Raden Sadjad (Danlanud RSA) Marsekal Pertama TNI Onesmus Gede Rai…

18 jam ago

DPRD Natuna Beri Catatan Strategis untuk Pemerintah Daerah dalam LKPJ 2025

Ariranews.com, Natuna – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Natuna menggelar Rapat Paripurna dengan agenda…

1 hari ago