AriraNews.com, Natuna — Kondisi pipa transmisi dan jaringan distribusi air bersih milik PDAM Tirta Nusa Kabupaten Natuna saat ini dinilai kian memprihatinkan. Mayoritas pipa yang telah berusia tua dan belum berstandar nasional membuat jaringan air bersih sangat rentan mengalami kebocoran hingga pecah, terutama saat debit air meningkat pada musim penghujan.
Direktur PDAM Tirta Nusa Natuna, Zaharuddin, mengungkapkan bahwa sebagian besar pipa transmisi yang digunakan masih berupa pipa PVC biasa dengan usia produktif sekitar 15 tahun. Bahkan, untuk wilayah Kota Ranai yang bersumber dari Gunung Ranai, pipa tersebut telah digunakan sejak sebelum Natuna resmi menjadi kabupaten, sementara sebagian lainnya dipasang pada kisaran tahun 2004–2005.
“Kondisi pipa sudah tua, tekanan air berlebihan, kadang-kadang pecahnya sampai robek satu batang pipa,” ujar Zaharuddin saat ditemui di kantornya, Senin (29/12/2025).
Ia menjelaskan, hingga kini PDAM Tirta Nusa belum memiliki sistem pengaturan tekanan air (pressure control). Akibatnya, saat debit air tinggi, tekanan yang tidak terkontrol menjadi salah satu penyebab utama terjadinya kebocoran.
Selain itu, metode penyambungan pipa pada masa lalu juga tidak sesuai dengan standar teknis, untuk menekan tingkat kehilangan air, PDAM terpaksa melakukan perbaikan manual dengan berbagai rekayasa lapangan. Langkah tersebut diambil karena keterbatasan material, termasuk ketiadaan soket pipa standar yang dijual di Ranai.
“Kalau harus beli soket, di Ranai tidak ada. Jadi perbaikan manual ini sifatnya sementara, yang terpenting masyarakat bisa kembali teraliri air,” jelasnya.
Kebocoran tidak hanya terjadi di jaringan pelanggan, tetapi juga pada pipa transmisi yang berada di kawasan hutan. Untuk mencapai titik kebocoran tersebut, petugas harus menempuh perjalanan hingga tiga jam.
Kondisi ini menyebabkan volume air terbuang cukup besar dan berdampak pada gangguan distribusi air secara menyeluruh, terutama jika pipa transmisi utama yang mengalami kerusakan.
Zaharuddin menambahkan, wilayah Sungai Ulu dan Cemaga relatif jarang mengalami gangguan distribusi air karena jaringan pipa di kawasan tersebut telah menggunakan pipa HDPE yang memiliki usia produktif hingga 35 tahun.
“Salah satu kelemahan kami saat ini juga belum memiliki peta jaringan pipa. Banyak pipa yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat, bukan melalui APBD atau APBN. Saat terjadi kebocoran atau sumbatan, kami cukup kewalahan mendeteksi posisi pipa,” katanya.
Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, PDAM Tirta Nusa bersama Pemerintah Daerah terus mendorong solusi jangka panjang. Sejumlah proposal revitalisasi jaringan air bersih telah diajukan ke Balai Wilayah Sungai (BWS) Wilayah IV Sumatera dan terus dikawal oleh pemerintah daerah, dengan dukungan penuh DPRD Natuna, khususnya Komisi III.
Saat ini, rencana revitalisasi jaringan distribusi serta pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) telah masuk dalam pembahasan di tingkat kementerian. Berdasarkan informasi yang diterima, pembangunan IPA lengkap ditargetkan mulai terealisasi pada tahun 2026 atau paling lambat 2027.
Dalam usulan tersebut, PDAM juga mendorong agar sistem pengolahan air di Natuna menggunakan metode filtrasi, bukan bahan kimia, mengingat tingginya biaya operasional serta potensi risiko penggunaan bahan kimia.
Di tengah berbagai tantangan teknis dan keterbatasan anggaran, Zaharuddin menegaskan komitmen PDAM Tirta Nusa untuk terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
“Bukti komitmen kami adalah bekerja tanpa mengenal waktu. Siang atau malam, hujan atau panas, ketika ada gangguan kami langsung bergerak ke sumber masalah,” tegasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat yang terdampak gangguan air bersih agar tidak ragu menyampaikan pengaduan.
“Jangan bosan-bosan menyampaikan keluhan. Jika pengaduan belum tertangani, silakan langsung hubungi saya. Nomor saya aktif 24 jam, cepat atau lambat pasti saya balas,” pungkasnya. (Dod)








