Temu Tokoh Lintas Agama, Wakil Bupati Natuna: Implementasi Lebih Penting dari Dialog Formal

Avatar photo

AriraNews.com, Natuna – Wakil Bupati Natuna, Rodhial Huda membuka kegiatan dialog Temu Tokoh Lintas Agama Menuju Natuna Rukun, Damai, dan Berkemajuan yang digelar di Aula RM Sisi Basisir, Ranai, Selasa (29/11/2022). Kegiatan ini digelar oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Natuna.

Wakil Bupati Natuna, sekaligus Ketua Dewan Penasehat FKUB Natuna, Rodhial Huda saat membuka kegiatan dialog menuturkan, masyarakat Kabupaten Natuna patut bersyukur akan keharmonisan dan toleransi umat beragama di Natuna masih sangat tinggi.

BACA JUGA:  Wujud Kepedulian, Lanud RSA Natuna Berikan Layanan Kesehatan Gratis bagi Masyarakat Pesisir

“Hal ini tidak lepas dari peran serta para tokoh agama yang senantiasa memfokuskan upaya meningkatkan kualitas umat saling toleransi dan menjaga, menghargai nilai – nilai pelaksanaan peribadatan keagamaan,” ucapnya.

Rodhial Huda juga mengajak, seluruh masyarakat Kabupaten Natuna, untuk menjaga keutuhan dan kerukunan umat beragama yang telah terjaga selama ini.

“Tentunya kondisi ini harus kita jaga dan pelihara bersama, tidak hanya dari pemuka agama namun juga syi’ar kedamaian dan toleransi harus terus dihembuskan dalam nafas pembangunan menuju kemajuan yang mewujudkan kesejahteraan masyarakat,” ajaknya.

BACA JUGA:  Para pemangku kepentingan di Natuna serahkan baju pelampung ke nelayan

Menurut Rodhial Huda implementasi ke masyarakat lebih penting daripada dialog secara formal.

“Hari ini kita selalu menonjolkan toleransi secara formal, sebenarnya yang paling penting adalah pelaksanaanya di lapangan,” lugasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua FKUB Natuna, Umar Natuna mengatakan, bahwa dialog lintas agama diharapkan dapat membangun, memperkuat, dan memperkokoh kerukunan, kedamaian dan kemajuan hidup umat beragama.

BACA JUGA:  Kolaborasi Lintas Instansi, Aksi Bersih Pantai Sisi Serasan Gaungkan Gerakan Indonesia ASRI

“Kita berharap dengan adanya dialog ini mampu menghadirkan suasana rukun, harmonis dan damai, serta kemampuan kita bertoleransi sebagai umat beragama untuk mengantisipasi sumber konflik vertikal maupun horizontal. Karena, jika ada konflik internal umat beragama maka akan mudah memicu konflik global,” ujarnya.(dod)