Dalam upaya menekan angka pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, Kepolisian Resor (Polres) Natuna mengelar Focus Group Discussion (FGD) bersama pemerintah kecamatan, tokoh lintas agama, tokoh pemuda, insan pers, dan instansi terkait, Jumat (11/8/2023) di Ranai Square.
AriraNews.com, Natuna – Tingginya kasus pelecehan seksual anak di bawah umur, memang harus menjadi perhatian dari semua pihak, baik dari aparat penegak hukum, pemerintah daerah, ormas, tokoh masyarakat, tokoh lintas agama maupun orang tua, sudah semestinya terlibat dalam pengawasan.
Dalam upaya menekan angka pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, Kepolisian Resor (Polres) Natuna mengelar Focus Group Discussion (FGD) bersama pemerintah kecamatan, tokoh lintas agama, tokoh pemuda, insan pers, dan instansi terkait, Jumat (11/8/2023) di Ranai Square. FGD ini dibuka oleh Kasat Binmas Iptu Saidi Manalu yang mewakili Kapolres Natuna AKBP Nanang Budi Santosa SIK.
Dalam kesempatan itu, Kasat Reskrim Polres Natuna, Iptu Apridony mengatakan, kasus tindak pidana kekerasan seksual terhadap anak di wilayah Kabupaten Natuna sangat tinggi.
Selama 2022 saja, Polres Natuna sendiri telah menangani 4 kasus tindak pidana kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur.
“Untuk itu, hal ini harus menjadi perhatian kita bersama guna mencegah tidak kekerasan seksual ini, agar tidak terus meningkat lebih tajam lagi,” ujarnya.
Iptu Apridony juga menuturkan, di tahun 2023 per bulan Juli, pihaknya telah menerima 6 laporan tindak pidana yang sama.
Ia menambahkan, ada peningkatan kasus kekerasan seksual anak di bawah umur, kasus-kasus seperti ini tidak boleh terjadi lagi, maka dalam kesempatan FGD ini, dipergunakan sebaik mungkin untuk ditanggulangi secara bersama.
“Mari kita tingkatkan pengawasan kepada anak-anak kita, kita bangun mindset yang baik agar mereka terhindar dari para predator yang mengintai setiap saat,” ajak Apridony.
Sementara itu, Camat Bunguran Timur, Hamid Asnan menyambut baik upaya yang dilakukan Polres Natuna dalam rangka menekan angka pelecehan anak di bawah umur.
Menurutnya, melalui FGD ini merupakan forum yang sangat strategis, bersinergi bersama dalam menganalisa dan mengevaluasi permasalahan yang ada.
“Forum ini harus kita manfaatkan dengan baik, apalagi mirisnya sekarang yang menjadi pelaku adalah orang-orang terdekat, artinya ini harus menjadi atensi kita bersama karena kalau sudah anggota keluarga yang berbuat maka tidak ada lagi yang melindungi mereka,” ucapnya.
Hamid juga menambahkan, kekerasan perempuan dan anak akan membawa traumatik berkepanjangan bagi para korban.
“Karena kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak hanya menimbulkan dampak fisik juga dampak psikologis,” ujarnya.
Hamid Asnan juga mengajak aparat penegak hukum maupun instansi terkait dapat menyikapi persoalan ini dengan serius.
“Bagaimana kita menyikapi hal ini dengan penanganan yang berbeda, maka dari itu ada kearifan sendiri dalam penanganannya semacam upaya yang serius, yang tidak menganggu mental anak itu sendiri,” kata Hamid.(dod)
Ariranews.com, Natuna – Kolaborasi lintas instansi digagas Lanud Raden Sadjad (RSA) Natuna dalam menyiapkan kegiatan…
Ariranews.com, Natuna – Pemerintah Kabupaten Natuna menggandeng Bank Indonesia untuk menekan inflasi sekaligus mendorong percepatan…
AriraNews.com, Batam - Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menegaskan bahwa Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang…
AriraNews.com, Batam - Pemerintah Kota (Pemko) Batam terus memperkuat kapasitas guru Sekolah Menengah Pertama (SMP)…
AriraNews.com, BATAM – Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menegaskan pentingnya peran aparat dalam menjaga ketertiban…
AriraNews.com, Batam - Kota Batam kembali mendapat kepercayaan sebagai tuan rumah kegiatan berskala nasional. Dalam…