Kuliner Sibunbun, Angkat Pisang Lokal Ke Pasar Global

Avatar photo
Faridah Hanum H, owner Kuliner Sibunbun saat mengikuti Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2025 di One Batam Mall, Batam Center, Kota Batam, Sabtu (23/8/2025).

AriraNews.com, Kundur – Nan jauh di sebuah desa kecil di Pulau Kundur, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), lahirlah sebuah usaha yang kini namanya makin dikenal: Kuliner Sibunbun.

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memproduksi keripik pisang tanduk ini lahir dari tangan dingin Faridah Hanum H, perempuan yang percaya bahwa usaha bukan sekadar mencari keuntungan, melainkan juga membawa manfaat bagi banyak orang. Visi FaridaH sederhana, namun dalam: menyejahterakan masyarakat sekitar melalui makanan. Dan mimpi itu, sedikit demi sedikit, kini mulai terwujud.

Sabtu pagi, 23 Agustus 2025, Faridah tampak tiba di One Batam Mall, Batam Center, sekitar pukul 11.00 WIB. Dengan sebuah tas ransel di punggung dan kantong plastik di tangan, ia memasuki area Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2025. Acara tahunan yang digelar Bank Indonesia Perwakilan Kepri ini menjadi panggung bagi para pelaku UMKM untuk menunjukkan karya terbaik, memperluas jejaring, sekaligus menembus pasar yang lebih besar.

Faridah tidak sendirian. Ia ditemani sang suami, Zulkarnain. Keduanya menempuh perjalanan panjang dari Kundur: naik kapal cepat ke Karimun Besar, lalu berganti feri menuju Batam. Total lebih dari dua setengah jam perjalanan laut, ditempuh hanya demi membawa produk olahan pisang hasil jerih payah mereka.

Faridah Hanum H bersama sang suami, Zulkarnain.

Raut lelah masih terlihat di wajah Faridah, yang hari itu mengenakan batik hitam bermotif bunga dengan jilbab putih gading. Namun kelelahan itu segera terbayar. Produk andalannya mulai dari keripik pisang tanduk, sang cakram, hingga sang mustofa ludes terjual.

“Alhamdulillah, banyak diminati,” ujar Faridah dengan senyum lega.

Dari Kapal Pesiar ke Dapur Desa

Ketekunan Faridah dalam usaha kuliner bukan muncul tiba-tiba. Perempuan kelahiran Medan, Sumatera Utara, 12 November 1976 ini, pernah menapaki jejak panjang sebagai pelaut. Selama lima tahun, dari tahun 2.000 hingga 2.005, ia bekerja di kapal pesiar dan yacht. Pengalaman itu membawanya berkeliling dunia, bertemu banyak orang, dan mengenal aneka budaya.

Sepulang dari laut, Farida menetap di Medan dan menekuni hobi membuat kue. Usaha kecil-kecilan itu menjadi pelarian dari rutinitas, sekaligus awal kecintaannya pada dunia kuliner.

Tahun 2018, jalan hidupnya membawanya ke Desa Prayun, Kecamatan Kundur Utara. Ia menikah dengan Zulkarnain, karyawan PT Timah, dan kini menetap di Kompleks Perumahan Timah yang jauh dari hiruk pikuk kota. Dari situlah Kuliner Sibunbun benar-benar bersemi.

Dengan bahan sederhana, pisang tanduk yang banyak ditemuinya di sekitar Kundur, Farida mulai membuat keripik. “Pisang tanduk ini punya rasa khas, gurih dan legit. Sayang kalau hanya jadi buah meja,” katanya.

Keripik pisang buatannya disukai banyak orang. Permintaan terus meningkat. Namun, tantangan muncul: pisang tanduk bukanlah hasil utama kebun di Kundur. Pulau itu lebih terkenal dengan duriannya, terutama “Durian Tanjung Batu” yang sudah melegenda.

Faridah tak ingin menyerah. Ia tidak memilih mendatangkan bahan baku dari luar pulau, melainkan memberdayakan masyarakat sekitar. Ia mencari bibit pisang tanduk, lalu membagikannya ke petani dan warga yang berminat menanam. Ia berjanji akan membeli hasil panen mereka.

“Bagi saya, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Dengan membagikan bibit pisang, itu cara saya menebar kemanfaatan,” ujarnya.

Faridah Hanum bagikan bibit pisang tanduk pada masyarakat.

Awalnya, tak mudah. Tanah Kundur yang kaya bauksit dan keras membuat banyak bibit mati. Pisang tanduk butuh tanah lembap dan perawatan ekstra. Pohon yang tumbuh tinggi pun harus diberi penyangga agar tidak roboh.

Namun, perlahan usaha itu membuahkan hasil. Semakin banyak pohon pisang tumbuh di kebun warga. Rantai pasokan bahan baku mulai terbangun. Kuliner Sibunbun pun tak hanya berdiri di atas kerja keras Faridah dan keluarganya, tapi juga dengan kemitraan masyarakat desa.

BACA JUGA:  Terbentur Kuota, Nelayan Natuna Kesulitan Penuhi Kebutuhan Solar

Lahirnya Sibunbun

Setiap produk membutuhkan identitas, dan identitas itu terwujud lewat sebuah merek. Hal ini pula yang dipikirkan Faridah ketika hendak serius menekuni usahanya di bidang kuliner. Berhari-hari ia mencoba mencari nama yang pas, mudah diingat, sekaligus memiliki kedekatan emosional. Hingga suatu ketika, ingatannya melayang pada sosok seorang keponakan kecil yang selalu memanggilnya dengan sebutan akrab, Sibunbun.

Menurut Faridah, panggilan itu muncul dari kebiasaan sang keponakan yang menyebutnya sebagai “Bunda” atau “Ibu.” Namun karena lidah anak kecil, sebutan itu berubah menjadi Sibunbun.

“Kalau saya datang, dia langsung bilang ke mamaknya, ‘Mak, Sibunbun datang!’” kenang Faridah sambil tersenyum.

Dari situlah muncul ide. Nama sederhana itu terdengar unik, hangat, dan mudah melekat di telinga. Faridah kemudian menambahkan kata “Kuliner” agar lebih jelas menggambarkan usaha yang dijalankannya. Maka lahirlah brand Kuliner Sibunbun, yang kini semakin dikenal tidak hanya di daerahnya, tetapi juga di luar negeri.

Menempa Diri Lewat Pelatihan

Faridah menyadari bahwa membangun usaha tidak cukup hanya dengan semangat dan resep turun-temurun. Ia perlu membekali diri dengan ilmu, jejaring, dan pengalaman yang lebih luas. Karena itu, ia rajin mengikuti berbagai pelatihan, baik yang diadakan pemerintah maupun swasta.

Pada tahun 2024, Farida terpilih mewakili Provinsi Kepulauan Riau dalam Program UMK Academy Pertamina, sebuah ajang pembinaan yang memberi kesempatan bagi pelaku usaha kecil untuk naik kelas. Faridah juga masuk dalam UMKM binaan Bank Indonesia Perwakilan Kepri.

Tak hanya itu, Faridah juga aktif memperkenalkan produknya lewat berbagai pameran. Tak tanggung-tanggung, difasilitasi BI Kepri ia sudah tiga kali berpartisipasi dalam pameran internasional di Malaysia.

“Di Malaysia ikut pameran sudah tiga kali,” ujarnya dengan bangga.

Kerja keras Faridah tidak sia-sia. Produk Kuliner Sibunbun mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan. Saat ini produk hasil olahan pisang tanduk tersebut, seperti keripik pisang, sang cakram, dan sang mustofa sudah memiliki Sertifkat Halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal Republik Indonesia. Bahkan untuk produk Keripik Pisang Original telah memiliki Izin Edar Pangan Olahan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Hal tersebut sebagai bukti terhadap pemenuhan standar keamanan, mutu, dan gizi. Dengan telah terstandarisasi tersebut produk tersebut layak untuk diedarkan di dalam negeri dan ekspor. Merek Kuliner Sibunbun sendiri juga sudah terdaftar di Kementerian Hukum RI.

“Semua produk yang dihasilkan, semuanya akan saya urus perizinannya dan saat ini sedang berjalan,” kata Faridah.

Dengan kualitas dan inovasi yang dilakukan, Faridah diganjar sejumlah penghargaan bergengsi. Di antaranya, Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) Kategori Inovasi Pangan Olahan Terbaik dari Bupati Karimun, serta UMKM Award 2024 dari Asosiasi Konsultan Pajak Publik Indonesia (AKP2I). Selain itu, masih ada deretan penghargaan lain yang meneguhkan posisi Kuliner Sibunbun sebagai salah satu UMKM berdaya saing tinggi di Kepri.

Faridah Hanum H saat menerima penghargaan Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) Kategori Inovasi Pangan Olahan Terbaik dari Bupati Karimun.

Bagi Faridah, prestasi tersebut bukan sekadar simbol, melainkan penyemangat untuk terus berinovasi dan menjaga kualitas. Ia berharap, Kuliner Sibunbun ke depan bisa menjadi produk kebanggaan daerah yang dikenal lebih luas, bahkan hingga pasar global.

Dukungan Sang Suami

Keberhasilan Kuliner Sibunbun tak lepas dari sosok Zulkarnain, suami Faridah. Sebagai karyawan PT Timah, ia mungkin tidak banyak terlibat langsung di dapur produksi. Namun, Zulkarnain selalu hadir sebagai penopang semangat.

Di saat hampir menyerah karena kesulitan modal, ia yang pertama kali menyemangati. Ketika bingung mengatur logistik dan distribusi, Zulkarnain turun tangan membantu mengangkut barang, menemani perjalanan jauh membawa produk ke pameran, hingga menjadi “asisten pribadi” yang setia di balik layar.

BACA JUGA:  Mardana Surya Karma Terpilih Aklamasi, Siap Selamatkan Takraw Karimun dari Kepunahan

“Kalau saya kerja di dapur, dan lagi libur dia yang bantu angkat-angkat. Kalau ada pameran, dia yang mengantar sampai selesai. Pokoknya, saya tak pernah benar-benar sendiri,” kata Faridah, tersenyum.

Zulkarnain membantu bagikan bibit pisang tanduk pada masyarakat.

Zulkarnain pun tak sekadar suami, tapi juga mitra sejati dalam usaha. Ia percaya bahwa keberhasilan istrinya adalah kebanggaannya juga. Baginya, mendukung Faridah bukan hanya soal keluarga, melainkan juga bentuk tanggung jawab untuk ikut membangun desa tempat mereka tinggal.

Kini, setiap kali melihat produk Kuliner Sibunbun terpajang di meja pameran atau ludes dibeli pelanggan, Zulkarnain selalu merasa haru. Dari dapur sederhana di rumah mereka, kini produk itu bisa menjangkau Batam, Malaysia, bahkan menembus pasar ekspor.

“Semua berawal dari niat baik. Saya hanya ingin istri bisa terus berkarya. Kalau dia bahagia, saya ikut bahagia,” ujar Zulkarnain singkat, namun penuh makna.

Inspirasi Banyak Orang

Kehadiran Kuliner Sibunbun tak hanya menjadi kebanggaan bagi Faridah pribadi, tetapi juga bagi PT Timah, tempat sang suami bekerja. Perjalanan usaha Faridah yang dirintis dari rumah, kini mampu memberi inspirasi bagi banyak orang, termasuk para istri karyawan perusahaan tersebut.

Faridah pernah diminta berbagi pengalaman dan pengetahuan seputar dunia usaha. Ia menjadi motivator yang mendorong para istri karyawan agar berani mencoba, berinovasi, dan memanfaatkan potensi di sekitar mereka. Dari cara memilih produk, menjaga kualitas, hingga strategi pemasaran, Faridah selalu terbuka untuk berbagi ilmu.

Produk Kuliner Sibunbun bersama produk UMKM lokal lainya juga pernah ditampilkan dalam bazar HUT PT Timah di Kundur. Kehadiran brand lokal ini bukan hanya menambah semarak acara, tetapi juga menunjukkan bagaimana peran keluarga besar PT Timah ikut berkontribusi membangun UMKM daerah.

Lebih dari itu, Faridah juga aktif membina para petani dan mendampingi UMKM rintisan di Pulau Kundur. Ia percaya, kesuksesan tidak akan berarti jika hanya dinikmati sendiri. Dengan saling membina dan berbagi pengalaman, ia berharap semakin banyak UMKM baru yang tumbuh dan mampu memperkuat ekonomi masyarakat di daerah.

“Kalau kita maju bersama, hasilnya akan jauh lebih besar. Karena setiap orang punya potensi yang bisa dikembangkan,” ungkap Faridah, yang merupakan Koordinator Komunitas UMKM dan Kreatif Pulau Kundur, tersebut.

Faridah mencoba mengembangkan produk kotak tisu yang dibuat dari batang pisang.

Ke depan tak hanya olahan buah pisang, tapi dia juga berencana mengembangkan produk lainnya, contohnya kerajinan tangan dari batang serta daun pisang. “Pisang ini semua bisa diolah. Banyak turunannya yang bisa dihasilkan. Daunnya bisa dibuat sebagai hiasan. Batangnya bisa diolah berbagai barang kerajinan dan kita sudah mencoba membuat kotak tisu,” ungkapnya.

Konsistensi, Inovasi, dan Sinergi

Apa yang dilakukan Faridah sejalan dengan tiga prinsip yang disampaikan Asisten Gubernur Bank Indonesia, Doddy Zulverdi, saat membuka Gelar Melayu Pesisir (GMP) 2025. Menurut Doddy, UMKM dapat tumbuh dan berkembang apabila mampu menjaga konsistensi, yakni melanjutkan apa yang sudah dikerjakan secara berkelanjutan. Selanjutnya, UMKM juga harus berani melakukan inovasi, agar produk yang dihasilkan sesuai dengan selera dan kebutuhan zaman. Terakhir, diperlukan sinergi dari berbagai pihak agar UMKM dapat melangkah lebih jauh.

Faridah sendiri membuktikan ketiga prinsip tersebut. Ia konsisten menjaga usahanya, melakukan berbagai inovasi pada produk, sekaligus membangun sinergi dengan masyarakat setempat, sehingga usahanya mampu berkembang hingga kini.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kepri, Riki Rionaldi, turut mengapresiasi kerja keras para pelaku UMKM. Menurutnya, di tengah banyak keterbatasan, UMKM tetap mampu tumbuh dan bersaing. Bahkan, ia menilai daya juang dan kreativitas pelaku UMKM sering kali melebihi ekspektasi pemerintah.

BACA JUGA:  Dispusip Natuna Akan Gelar Lomba Bertutur Tingkat SD, Dorong Literasi dan Lestarikan Cerita Rakyat

“Semua kendala, tantangan, dan hambatan yang mereka temui bisa diatasi. Dengan capacity building yang dimiliki, mereka mampu mencari celah agar tetap eksis, bertumbuh, dan mendapatkan keuntungan di tengah keterbatasan itu,” ungkap Riki, saat ditemui di Event GMP 2025.

Riki menambahkan, ekspor merupakan kasta tertinggi dari rangkaian pembinaan UMKM di Kepri. Namun, untuk mencapainya ada tiga tahapan yang harus dilalui lebih dulu, yakni subsistem, naik kelas, dan digitalisasi.

“Ekspor ini gong sekaligus pekerjaan tertinggi,” ujarnya.

Untuk itu, sepanjang tahun 2025, Dinas Koperasi dan UKM Kepri terus melakukan pendampingan, pendataan, hingga capacity building terhadap 3.600 UMKM di wilayah tersebut. Dari jumlah itu, ada yang masih berstatus rintisan (startup), ada yang mulai naik kelas, masuk ke tahap digital, hingga akhirnya siap masuk ke level ekspor.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat sekitar 114 ribu UMKM di Kepri. Namun, di Sistem Informasi Data Terpadu (SIDT), jumlahnya tercatat belum sampai 100 ribu.

“Tahun ini kita merapikan data agar pelaku UMKM yang sudah berada di tingkatan tertentu bisa masuk dalam Sistem Data Tunggal Terintegrasi di bawah Kementerian UMKM. Secara nasional ini masih proses,” jelas Riki.

Hingga akhir 2025, pihaknya menargetkan sedikitnya 100 UMKM Kepri siap berorientasi ekspor.

Sementara, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri, Rony Widijarto P., menegaskan bahwa pihaknya akan terus mendorong pelaku UMKM agar semakin maju dengan menerapkan tiga prinsip tadi: konsistensi, inovasi, dan sinergi.

BI Kepri sendiri aktif mengembangkan kapasitas UMKM, baik melalui pelatihan maupun penguatan kelembagaan. Rony menekankan bahwa keberhasilan tidak bisa diraih sendiri, melainkan butuh kolaborasi dengan banyak pihak.

Selain itu, akses pembiayaan juga menjadi faktor penting.

“Kalau UMKM hanya mengandalkan dana CSR, hasilnya akan segitu-segitu saja. Mereka harus bisa mengakses pembiayaan dari perbankan,” tegasnya.

Menurut Rony, GMP merupakan salah satu cara efektif untuk mendorong UMKM agar mampu menembus pasar lebih luas, termasuk ekspor. Melalui pameran ini, produk UMKM dapat lebih dikenal, sekaligus membuka peluang bertemu dengan calon pembeli maupun lembaga keuangan.

Apalagi, UMKM Kepri memiliki potensi besar tidak hanya di pasar domestik, tetapi juga internasional, terutama negara-negara tetangga.

“Inovasi tidak boleh berhenti. Setiap tahun harus ada kebaruan-kebaruan,” pungkas Rony.

Bagi Faridah, perjalanan Kuliner Sibunbun baru saja dimulai. Ia sadar, jalan menuju pasar yang lebih luas termasuk ekspor tidaklah mudah. Tapi ia yakin, dengan konsistensi, inovasi, dan sinergi, mimpi itu bisa diraih.

Ia ingin suatu hari produk olahan pisang dari Kundur bisa dinikmati di mancanegara, bukan hanya sebagai camilan, tapi sebagai simbol bahwa dari desa kecil pun bisa lahir karya yang mendunia.

Lebih jauh, Faridah berharap usahanya ini kelak bisa diwariskan kepada generasi berikutnya. Ia ingin anak-anak dan masyarakat sekitar belajar bahwa usaha kecil bukanlah hal remeh, melainkan pintu menuju kemandirian dan kesejahteraan.

“Harapan saya, Kuliner Sibunbun bisa terus membawa manfaat, bukan hanya untuk keluarga saya, tapi juga untuk orang banyak,” ucapnya penuh harap.

Di balik setiap keping keripik pisang yang renyah, tersimpan doa dan cita-cita besar seorang perempuan desa. Dari Kundur, ia percaya: selagi ada tekad, mimpi bisa tumbuh dan bahkan bisa terbang jauh melampaui batas pulau.

“Saya ingin nantinya Pulau Kundur tak hanya terkenal dengan duriannya tapi juga terkenal dengan pisang tanduknya, karena sudah banyak yang menanam,” kata Faridah sambil tertawa lepas. (qori)