AriraNews.com, Batam — Badan Pengusahaan (BP) Batam menyiapkan Sekolah Terintegrasi Merah Putih di Rempang sebagai sekolah unggulan berkonsep boarding school yang akan dikelola pemerintah untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) berkualitas. Berbeda dengan sekolah umum, sekolah ini akan menerapkan seleksi kompetensi bagi calon siswa, merekrut tenaga pendidik secara khusus, serta menyediakan pendidikan dan fasilitas berasrama yang seluruhnya ditanggung pemerintah.
Kepastian itu disampaikan Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, saat menghadiri kegiatan Rempang Ceria Bersama Sekolah Terintegrasi Merah Putih di lokasi pembangunan sekolah, Rempang, Batam, Minggu (2/8/2026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, Kapolda Kepulauan Riau Irjen Pol. Asep Safrudin, jajaran deputi BP Batam, anggota DPD REI Robinson, perwakilan PT MEG, serta sejumlah tokoh masyarakat dan unsur Forkopimda.
Menurut Amsakar, pembangunan sekolah tersebut merupakan investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi unggul di Rempang dan wilayah hinterland. Karena itu, pemerintah tidak hanya membangun gedung sekolah, tetapi juga menyiapkan sistem pendidikan terpadu yang berorientasi pada pembentukan karakter, penguatan akademik, serta pengembangan kepemimpinan peserta didik.
“Semua anak-anak nanti akan tinggal di asrama. Di sini mereka belajar, berolahraga, berdiskusi, dan seluruh fasilitasnya menjadi tanggung jawab pemerintah,” ujarnya.

Ia menegaskan Sekolah Terintegrasi Merah Putih berbeda dengan Sekolah Merah Putih yang terbuka bagi seluruh peserta didik. Sekolah Terintegrasi Merah Putih diperuntukkan bagi siswa yang lolos seleksi berdasarkan kemampuan akademik dan kompetensi tertentu, meski anak-anak Rempang tetap akan memperoleh prioritas.
“Masuk ke Sekolah Terintegrasi Merah Putih harus melalui uji kompetensi. Ada kriteria-kriteria yang harus dipenuhi karena sekolah ini memang dirancang untuk membina peserta didik dengan kapasitas akademik tertentu,” kata Amsakar.
Untuk mendukung kualitas pembelajaran, nantinya juga akan dilakukan rekrutmen tenaga pendidik secara khusus. Menurutnya, sekolah tersebut membutuhkan guru-guru yang memiliki kompetensi dan kapasitas sesuai standar pendidikan yang akan diterapkan.
“Melihat ketersediaan tenaga pendidik saat ini, kami memang membutuhkan tenaga pendidik khusus. Karena itu akan dilakukan rekrutmen tersendiri. Orang-orang yang memiliki kompetensi dan kapasitas itulah yang nantinya menjadi tenaga pengajar di sekolah tersebut,” ujarnya.
Amsakar memastikan meski pembangunannya dilakukan swasta pengelolaan Sekolah Terintegrasi Merah Putih sepenuhnya berada di tangan pemerintah, bukan pihak swasta. Skema pengelolaannya masih akan dimatangkan melalui pembahasan antara BP Batam dan Pemerintah Kota Batam, termasuk koordinasi dengan Kementerian Pendidikan terkait dukungan beasiswa maupun tata kelola lembaga pendidikan tersebut.
“Yang mengelola ini adalah pemerintah. Nanti kami akan memfinalkan apakah melalui BP Batam atau Pemerintah Kota Batam. Yang pasti, sekolah ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah,” katanya.
Ia menjelaskan, kegiatan Rempang Ceria sengaja digelar untuk memperkenalkan rencana pembangunan sekolah sekaligus membangun optimisme masyarakat Rempang. Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi anak-anak untuk kembali merasakan suasana ceria setelah berbagai dinamika yang terjadi di kawasan tersebut.
“Selama ini seolah-olah Rempang digambarkan dalam suasana yang tidak baik. Hari ini kita melihat wajah-wajah ceria masyarakat dan anak-anak. Ini menjadi jawaban bahwa masyarakat Rempang sebenarnya hidup dengan semangat yang baik,” ujarnya.
Momentum kegiatan bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional dan menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Melalui kegiatan tersebut, BP Batam ingin menumbuhkan kembali semangat anak-anak sekaligus memperkenalkan sekolah yang diproyeksikan menjadi pusat pendidikan unggulan di wilayah hinterland.
Sementara itu, Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto, menjelaskan Sekolah Terintegrasi Merah Putih akan dibangun di atas lahan seluas 18,5 hektare. Kompleks pendidikan itu akan mencakup jenjang SD, SMP, dan SMA, serta dilengkapi berbagai fasilitas penunjang, seperti lapangan sepak bola, kolam renang berstandar olimpiade, lapangan basket, rumah ibadah berupa musala dan gereja, asrama siswa, rumah dinas guru, gedung serbaguna, serta fasilitas pendidikan lainnya.(emr)










