AriraNews.com, Tanjungpinang – Di balik ukurannya yang relatif kecil, Pulau Penyengat di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), menyimpan jejak sejarah besar bagi peradaban Melayu. Pulau yang dahulu menjadi pusat pemerintahan dan pertahanan Kerajaan Riau-Lingga ini juga memiliki peran penting dalam perkembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi fondasi lahirnya bahasa Indonesia.
Sejarah panjang Pulau Penyengat tersebut diceritakan Raja Malik bin Raja Hamzah (53), tokoh masyarakat Pulau Penyengat, saat menyambut kedatangan rombongan jurnalis dari organisasi Pro Jurnalismedia Siber (PJS) yang berziarah ke pulau bersejarah itu, Jumat (6/11/2026).
Sambil mendampingi rombongan mengunjungi kompleks makam para tokoh penting Melayu, Raja Malik menguraikan perjalanan sejarah Pulau Penyengat, termasuk kisah tentang Engku Putri Raja Hamidah, permaisuri Sultan Mahmud Riayat Syah, yang makamnya berada di kompleks tersebut.

Raja Malik menjelaskan, Pulau Penyengat memiliki hubungan sejarah yang erat dengan Engku Putri. Pulau ini merupakan hadiah perkawinan atau maskawin dari Sultan Mahmud Riayat Syah kepada Raja Hamidah binti Raja Haji Fisabilillah, yang kemudian dikenal sebagai Engku Putri.
“Kalau Bapak dan Ibu bertanya kepada orang-orang tua atau masyarakat Pulau Penyengat, pulau ini dikenal sebagai pulau maskawin. Itu merupakan memori kolektif masyarakat yang terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi,” tutur Raja Malik.
Menurutnya, Pulau Penyengat yang dahulu merupakan pulau kosong kemudian dibangun menjadi kawasan permukiman dan pusat kehidupan kerajaan. Hadiah pernikahan tersebut bukan sekadar pemberian sebidang pulau, melainkan menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Kesultanan Melayu.
Pulau Penyengat sendiri memiliki luas sekitar empat kilometer persegi, dengan jumlah penduduk saat ini hampir 3.000 jiwa. Nama pulau diambil dari sejenis serangga penyengat yang ada di pulau ini. Meski kecil secara geografis, pulau ini pernah memainkan peranan besar dalam sejarah politik, pertahanan, kebudayaan, dan perkembangan intelektual Melayu.
Pusat Pertahanan Kerajaan Melawan Belanda
Raja Malik juga mengisahkan, Pulau Penyengat pernah menjadi salah satu pusat pertahanan utama Kerajaan Riau ketika terjadi peperangan melawan Belanda pada 1782–1784.
Jejak peperangan tersebut masih dapat ditemukan hingga sekarang. Di sejumlah kawasan perbukitan Pulau Penyengat terdapat benteng-benteng lama peninggalan abad ke-18 yang dahulu dilengkapi meriam dan berbagai persenjataan untuk menghadapi serangan musuh.
Benteng-benteng tersebut menjadi saksi bahwa pulau kecil ini pernah memiliki posisi strategis dalam mempertahankan kedaulatan kerajaan dari kekuatan kolonial Belanda.
Selain sebagai pusat pertahanan, Pulau Penyengat juga pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Riau, Lingga, Johor, dan Pahang. Wilayah kekuasaan kerajaan pada masa itu mencakup kawasan yang sekarang menjadi Kepulauan Riau, Singapura, Johor, hingga Pahang di Malaysia.
Namun, keutuhan wilayah kerajaan tersebut kemudian terpecah akibat kepentingan politik kolonial Inggris dan Belanda.
Raja Malik menjelaskan, peristiwa penting yang mengubah peta kekuasaan Melayu terjadi pada 1824 melalui Traktat London atau Treaty of London, sebuah perjanjian antara Inggris dan Belanda.
Perjanjian tersebut membagi wilayah kekuasaan kerajaan Melayu. Singapura, Johor, dan Pahang masuk dalam pengaruh Inggris, sedangkan Kepulauan Riau, termasuk Natuna dan pulau-pulau di sekitarnya, berada di bawah kekuasaan Belanda.
“Sejak itulah dunia Melayu mulai terpecah oleh kekuatan politik bangsa Eropa. Kerajaan yang sebelumnya bernama Riau, Lingga, Johor, dan Pahang kemudian hanya tersisa Riau-Lingga,” jelasnya.
Bustan Al-Katibin, Taman Para Penulis Melayu
Di luar kisah peperangan dan politik kerajaan, Pulau Penyengat memiliki warisan yang jauh lebih besar bagi perkembangan peradaban bangsa, yakni tradisi intelektual dan kesusastraan Melayu.
Raja Malik menyebut Pulau Penyengat sebagai Bustan Al-Katibin, yang dimaknainya sebagai taman para penulis Melayu. Julukan tersebut menggambarkan kehidupan intelektual masyarakat Penyengat, terutama pada abad ke-19, ketika kegiatan menulis berkembang pesat.
Tradisi menulis di pulau ini tidak hanya menjadi kegiatan kalangan istana, tetapi juga berkembang di tengah masyarakat. Bahkan, sejumlah perempuan Melayu turut melahirkan karya-karya penting yang menunjukkan tingginya penghargaan terhadap ilmu pengetahuan dan kemampuan intelektual perempuan pada masa itu.
Salah satu tokoh besar yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah intelektual Pulau Penyengat adalah Raja Ali Haji, yang kini dikenal sebagai Pahlawan Nasional.
Melalui karya-karyanya, Raja Ali Haji bersama lingkungan intelektual Melayu di Penyengat berperan besar dalam mengembangkan dan memartabatkan bahasa Melayu.
Bahasa Melayu yang sebelumnya telah menjadi bahasa perhubungan atau lingua franca dalam perdagangan dan komunikasi antarkawasan, kemudian diperkuat kedudukannya melalui karya-karya kebahasaan.
Di Pulau Penyengat lahir berbagai karya penting yang membahas perbendaharaan kata, kamus, tata bahasa, sastra, serta kaidah penggunaan bahasa Melayu.
Kerja intelektual tersebut menjadikan bahasa Melayu semakin teratur, berkembang sebagai bahasa persuratan, dan memiliki kedudukan penting dalam dunia kesusastraan.
Dalam perjalanan sejarah berikutnya, bahasa Melayu kemudian diangkat menjadi bahasa Indonesia, bahasa persatuan sekaligus bahasa nasional bangsa Indonesia.
“Bahasa Indonesia yang kita gunakan sekarang memiliki jejak sejarah panjang. Bahasa Melayu dimartabatkan dan ditinggikan melalui kerja-kerja intelektual para tokoh di Pulau Penyengat, termasuk Raja Ali Haji,” ungkap Raja Malik.
Ziarah Sejarah, Mengenang Warisan Para Tokoh Melayu
Bagi rombongan jurnalis PJS, kunjungan ke kompleks makam Raja Ali Haji dan Engku Putri bukan sekadar kegiatan ziarah, melainkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat sejarah yang membentuk identitas kebudayaan bangsa.
Di kompleks makam tersebut, para jurnalis juga diperkenalkan dengan silsilah keluarga kerajaan dan sejumlah tokoh yang memiliki hubungan dengan sejarah Kesultanan Melayu, termasuk keluarga yang berkaitan dengan perkembangan kekuasaan Melayu di Singapura.
Penjelasan Raja Malik membuka kembali ingatan tentang besarnya peran Pulau Penyengat dalam perjalanan sejarah Nusantara. Pulau ini bukan hanya menyimpan makam para tokoh kerajaan, benteng pertahanan, dan peninggalan masa lampau, tetapi juga menjadi ruang lahirnya pemikiran dan karya intelektual yang pengaruhnya masih dirasakan hingga saat ini.
Pulau Penyengat mungkin hanya sebuah pulau kecil dengan luas beberapa kilometer persegi dan penduduk yang tidak mencapai 3.000 jiwa. Namun, sumbangannya bagi Indonesia jauh melampaui ukuran geografisnya.
Dari pulau inilah jejak kebesaran kerajaan Melayu, perjuangan menghadapi kolonialisme, tradisi kesusastraan, hingga proses pemartabatan bahasa Melayu dapat ditelusuri.
Sejarah Pulau Penyengat menjadi pengingat bahwa sebuah tempat tidak harus luas untuk memberikan pengaruh besar bagi perjalanan sebuah bangsa. Di pulau kecil inilah warisan intelektual Melayu turut meletakkan fondasi bahasa yang hari ini menyatukan seluruh rakyat Indonesia. (emr)





