AriraNews.com, TANJUNGPINANG – Usai melaksanakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III di Kota Batam pada 4–5 November 2026, rombongan Pro Jurnalismedia Siber (PJS) melanjutkan perjalanan ke Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Jumat (6/11/2026) siang.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda pengenalan sejarah dan budaya Melayu kepada keluarga besar PJS. Kedatangan rombongan PJS ke pulau bersejarah itu atas undangan Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad.

Pulau Penyengat dipilih karena memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi perjalanan peradaban Melayu. Pulau yang dikenal sebagai salah satu pusat Kesultanan Riau-Lingga ini menyimpan beragam peninggalan sejarah, tradisi, serta warisan budaya yang hingga kini masih terpelihara.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan PJS berkesempatan melihat langsung sejumlah situs bersejarah, salah satunya Perigi Tua 2 yang berada tepat di depan Masjid Raya Sultan Riau, Kampung Jambat, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota.
Berdasarkan papan informasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, Perigi Tua 2 merupakan salah satu peninggalan sejarah yang menjadi bagian dari kekayaan cagar budaya di Pulau Penyengat.
Pada papan informasi tersebut dijelaskan bahwa belum diketahui secara pasti kapan sumur itu dibangun. Namun, sumur ini dikenal dengan sebutan Sumur Raja Men karena letaknya berdekatan dengan rumah Raja Muhammad Men.
“Mungkin banyak wisatawan yang melewatkan tempat ini, karena fokus pada Masjid Sultan,” kata Yudiar, salah seorang anggota PJS.
Keberadaan sumur tua ini menjadi saksi perjalanan kehidupan masyarakat Melayu pada masa lampau. Tidak sekadar berfungsi sebagai sumber air, Perigi Tua 2 juga menyimpan cerita tentang kehidupan sosial masyarakat dan lingkungan kerajaan pada zamannya.
Menariknya, hingga kini kondisi air di dalam sumur tersebut terlihat jernih. Beberapa pompa air juga tampak terpasang di bagian atas sumur, menandakan bahwa peninggalan bersejarah itu masih memiliki fungsi dalam kehidupan masyarakat sekitar.
Di tengah perkembangan zaman, keberadaan Perigi Tua 2 menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan megah atau benda-benda peninggalan kerajaan. Sebuah sumur tua pun dapat menyimpan cerita panjang tentang kehidupan, peradaban, dan kebudayaan masyarakat di masa lalu.
Bagi rombongan PJS, kunjungan ke Pulau Penyengat bukan sekadar perjalanan wisata. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat akar sejarah dan kebudayaan Melayu yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Kepulauan Riau.
Warisan sejarah seperti Perigi Tua 2 patut terus dijaga dan dilestarikan. Sebab, merawat peninggalan masa lalu bukan hanya tentang mempertahankan bangunan atau situs bersejarah, melainkan juga menjaga ingatan kolektif dan jati diri budaya agar tetap hidup serta dikenal oleh generasi mendatang.
Melalui kunjungan ini, diharapkan rombongan PJS dapat semakin mengenal kekayaan sejarah dan budaya Melayu, sekaligus turut mengambil bagian dalam menyuarakan pentingnya pelestarian warisan budaya melalui karya-karya jurnalistik. (emr)





