Natuna,Ariranews.com – Bibit kelapa unggul asal Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, semakin diminati pelaku usaha perkebunan. Tingginya permintaan tersebut membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, sekaligus memperkuat posisi Natuna sebagai salah satu daerah pemasok bibit kelapa berkualitas di Indonesia.
Terbaru, sebanyak 80.000 butir bibit kelapa dikirim ke Lobam, Kabupaten Bintan, menggunakan KLM Sukses Bersama 88. Sebelum diberangkatkan, seluruh bibit dipastikan memenuhi persyaratan kesehatan oleh Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kepulauan Riau (Karantina Kepri) melalui Satuan Pelayanan Natuna.
Kepala Karantina Kepri, Hasim, mengatakan pengiriman tersebut merupakan yang ketiga sepanjang 2026. Seluruh tahapan pemeriksaan dilakukan sesuai prosedur karantina guna memastikan bibit yang dilalulintaskan bebas dari organisme pengganggu tumbuhan.
“Berdasarkan data aplikasi Best Trust, terdapat permohonan pengiriman sebanyak 80.000 butir bibit kelapa. Kami memastikan seluruh tahapan pemeriksaan berjalan sesuai prosedur agar bibit yang dikirim aman dan sehat,” ujar Hasim di Natuna, Selasa (4/8/2026).
Ia menjelaskan, pemeriksaan dilakukan berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan. Petugas memastikan bibit bebas dari Sexava nubila, Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) kategori A2 yang berpotensi menyebar ke daerah lain melalui media pembawa tanaman.
Selain itu, bibit juga dipastikan terbebas dari penyakit layu kelapa yang disebabkan oleh cendawan maupun bakteri. Berdasarkan hasil pemeriksaan, seluruh bibit dinyatakan memenuhi persyaratan karantina sehingga layak untuk dilalulintaskan ke daerah tujuan.
Menurut Hasim, bibit kelapa termasuk media pembawa berisiko tinggi karena merupakan tanaman tahunan dengan masa pembibitan yang cukup panjang, yakni sekitar sembilan hingga 12 bulan. Sementara itu, tanaman baru dapat menghasilkan buah setelah beberapa tahun.
“Dari bibit siap tanam hingga menghasilkan buah memerlukan waktu yang panjang. Karena itu kami mengawal setiap proses pengiriman agar bibit yang diterima di daerah tujuan dapat tumbuh dengan baik dan tidak membawa penyakit tanaman,” katanya.
Hasim menilai meningkatnya permintaan bibit kelapa menjadi sinyal positif bagi perekonomian Natuna. Selama ini daerah tersebut lebih dikenal sebagai sentra perikanan, namun berkembangnya usaha pembibitan kelapa membuka peluang usaha baru bagi masyarakat sekaligus mendukung pengembangan perkebunan kelapa di berbagai daerah.
Secara terpisah, Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Abdul Kadir Karding, menegaskan bahwa karantina tidak hanya berfungsi melindungi sumber daya hayati Indonesia dari ancaman hama dan penyakit, tetapi juga menjadi economic tools yang mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi dan ekspor nasional.
“Kami memastikan seluruh proses sertifikasi karantina berjalan cepat, transparan, akuntabel, dan bebas dari segala bentuk pungutan liar. Barantin siap menjadi mitra strategis bagi para eksportir untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di tingkat global,” tegas Karding.
Sebagai informasi, harga bibit kelapa jambul di Natuna saat ini berkisar Rp3.000 per butir. Tingginya permintaan diharapkan mampu mendorong lahirnya sentra-sentra pembibitan baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat produktivitas perkebunan kelapa nasional.
(Dod)




