Gaya Hidup

Mengenal Alam dan Budaya Kaum Jakun, Suku Asli Malaysia di Taman Negara Endau-Rompin Johor

AriraNews.com, JOHOR – Forum Jurnalis Pariwisata (FJP) Kepulauan Riau berkesempatan mengunjungi Taman Negara Endau-Rompin di wilayah Mersing, Johor, Malaysia, dalam program yang digelar Tourism Johor. Kegiatan tersebut menjadi pengalaman berharga karena tidak hanya menyuguhkan keindahan alam taman nasional, tetapi juga memperkenalkan kehidupan masyarakat adat Kaum Jakun yang masih mempertahankan kearifan lokal mereka.

Kunjungan ini diikuti peserta dari berbagai media di Batam, Johor, serta rombongan Gaya Travel. FJP Kepri bergabung bersama influencer dari Johor dan Kuala Lumpur atas undangan Tourism Johor dalam rangka mendukung kampanye Visit Johor 2026 dan Visit Malaysia 2026.

Taman Negara Endau-Rompin yang berada di wilayah Mersing merupakan salah satu dari enam taman negara di Johor dengan luas sekitar 48.905 hektare. Selama kegiatan berlangsung, peserta didampingi Nature Guide Adlil Ikram Bin Sharuddin yang menjelaskan berbagai informasi mengenai kawasan konservasi yang menjadi salah satu destinasi ekowisata unggulan di negara bagian tersebut.

Nature Guide Andik Idris mengenalkan secara singkat mengenai sejarah, fungsi konservasi, serta kekayaan hayati yang dimiliki Taman Negara Endau-Rompin.

Sebelum memasuki kawasan taman nasional, peserta mendapat pemaparan dari Nature Guide Andik Idris mengenai sejarah, fungsi konservasi, serta kekayaan hayati yang dimiliki Endau-Rompin. Menurut Andik, kawasan hutan lindung ini masih menjadi habitat berbagai satwa liar seperti harimau, gajah, beragam spesies ikan, serta aneka flora yang tumbuh alami.

Oakwood Grand Batam Hadirkan Buffet Premium dengan Lobster dan Ragam Hidangan Laut Nusantara

“Kami memperkirakan masih terdapat sekitar 35 ekor harimau dan 145 ekor gajah di kawasan ini,” ujar Andik.

Untuk memperdalam pemahaman peserta, rombongan diajak mengunjungi Nature Education and Research Centre (NERC) atau Visitor Center Selai. Di lokasi tersebut, peserta menyaksikan tayangan mengenai berbagai kegiatan penelitian dan konservasi yang dilakukan di kawasan taman nasional melalui fasilitas bioskop mini yang tersedia.

Peserta diajak mencoba sumpit, alat berburu kaum Jakun.

Petualangan kemudian berlanjut dengan aktivitas water tubing menyusuri Sungai Endau. Dengan menggunakan pelampung dari ban dalam mobil, peserta menikmati arus sungai yang jernih di tengah suasana hutan tropis yang masih alami.
Memasuki hari kedua, peserta menyusuri aliran sungai menuju hulu menggunakan perahu menuju Kuala Jasin, titik pertemuan dua sungai yang menjadi salah satu lokasi favorit di kawasan tersebut. Perjalanan sekitar 20 menit ditempuh sebelum peserta melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melalui jalur trekking.

Sepanjang perjalanan, peserta menemukan jejak kaki dan kotoran gajah yang menandakan masih aktifnya pergerakan satwa liar di kawasan tersebut. Setibanya di Kuala Jasin, hamparan pemandangan alam yang asri dan menenangkan menjadi suguhan utama bagi para peserta.

Nature Guide Adlil Ikram Bin Sharuddin menjelaskan bahwa nama Kuala Jasin memiliki kaitan dengan pengaruh bahasa Arab. “Sebutan Jasin dipengaruhi penyebutan dalam bahasa Arab yang diambil dari kata gasing. Pertemuan dua sungai ini membuat arus air berputar seperti gasing,” jelasnya.

Peserta menyusuri sungai Endau dengan cara Water Tubing.

Selama berada di kawasan taman nasional, peserta menginap di Visitor Center yang dilengkapi fasilitas chalet dan asrama untuk wisatawan maupun peneliti.

Grand Swiss-Belhotel Harbour Bay Batam Gelar The Wellness Edit 2026, Ajak Masyarakat Peduli Kesehatan Fisik dan Mental

Selain menikmati keindahan alam, peserta juga mendapat kesempatan mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat adat Kaum Jakun yang tinggal di Kampung Peta, sebuah perkampungan yang berada di dalam kawasan taman negara tersebut.

Menurut Andik, Kampung Peta dihuni sekitar 90 keluarga dengan jumlah penduduk mencapai kurang lebih 300 jiwa. Pertemuan dengan masyarakat adat menjadi salah satu agenda yang paling menarik perhatian peserta karena memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat yang selama puluhan tahun hidup berdampingan dengan alam. Peserta diperkenalkan berbagai jenis jerat yang digunakan untuk berburu binatang, mulai dari jerat monyet, pelanduk, burung, harimau, hingga jerat gajah.

Ameng alias Low (70) salah seorang kaum Jakun dan Adlil Ikram, Nature Gaet, mengenalkan berbagai jenis jerat dan perangkap yang digunakan kaum Jakun untuk berburu di hutan belantara.

Salah satu tokoh yang memperkenalkan budaya masyarakat setempat adalah Ameng atau yang akrab disapa Low, pria berusia 70 tahun yang merupakan bagian dari suku asli di kawasan tersebut. Low menjelaskan bahwa masyarakat Jakun pada masa lalu hidup sepenuhnya dari hasil hutan. Meski kini kehidupan mereka semakin modern, berbagai pengetahuan tradisional tetap diwariskan dari generasi ke generasi.

Pengunjung dilarang membuang sampah sembarangan dan harus membawa kembali ke luar hutan.

Dalam kesempatan itu, Low memperagakan berbagai teknik berburu tradisional atau passive hunting yang dahulu digunakan masyarakat Jakun. Beragam jenis perangkap diperkenalkan kepada peserta, mulai dari jerat kaki untuk menangkap babi hutan dan rusa, kumbang berayun untuk monyet, Pento sebagai perangkap burung sungai, perangkap planduk untuk menangkap kancil, hingga Belantik yang dahulu digunakan untuk menjebak gajah.

Peserta juga diperkenalkan dengan sumpit, alat berburu tradisional yang masih menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat pedalaman. Suasana semakin meriah ketika beberapa peserta diajak mencoba simulasi penggunaan Belantik maupun sumpit yang dipandu langsung oleh Low.

Gebrakan Baru MICE Batam: Tiarma Convention by Wyndham Panbil Batam Hadir dengan Kapasitas hingga 3.000 Tamu
Peserta diajak ke sentra pembuatan kerajinan tangan kaum Jakun di Kampung Peta.

Meski tetap menjaga tradisi leluhur, kehidupan masyarakat Jakun di Kampung Peta terus berkembang. Berbagai fasilitas dasar, termasuk pendidikan, telah tersedia sehingga anak-anak dapat bersekolah tanpa harus meninggalkan kampung halaman mereka.

Kunjungan ke Taman Negara Endau-Rompin memberikan pengalaman berharga bagi seluruh peserta. Selain menikmati kekayaan alam yang masih terjaga, peserta juga memperoleh pemahaman tentang bagaimana masyarakat adat menjaga hubungan harmonis dengan lingkungan sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Perpaduan antara keindahan alam Endau-Rompin dan kekayaan budaya Kaum Jakun menjadi daya tarik tersendiri yang memperkaya khazanah wisata alam dan budaya Johor, sekaligus mendukung upaya promosi Visit Johor 2026 dan Visit Malaysia 2026.(emr)

Redaksi

Recent Posts

7 Penerima Tunjangan Beasiswa Jurnalis dan 4 Karya Terbaik CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship 2026

AriraNews.com, JAKARTA - PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) terus mendukung kemajuan industri pers…

40 menit ago

Oakwood Grand Batam Hadirkan Buffet Premium dengan Lobster dan Ragam Hidangan Laut Nusantara

Ariranews.com, Batam – Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai yang membentang dari Sabang hingga Merauke,…

4 jam ago

Temui BP Batam, ASITA Kepri Minta Tata Kelola Pariwisata Batam Diperkuat

AriraNews.com, Batam - DPD ASITA Kepulauan Riau mendorong pemerintah memperjelas regulasi pariwisata Batam, khususnya terkait…

5 jam ago

Aspirasi Bupati Natuna Dibawa ke Pusat, Ahmad Muzani Soroti Kesehatan hingga Infrastruktur

Natuna, AriraNews.com – Ketua MPR RI Ahmad Muzani mencatat sejumlah aspirasi pembangunan yang disampaikan Bupati…

9 jam ago

Harga Pangan Natuna Terpaut 20–30 Persen, Masalah Logistik Jadi Sorotan Ketua MPR

Natuna, Ariranews.com – Tingginya harga sejumlah kebutuhan pokok di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, mendapat perhatian…

9 jam ago

Ketua MPR RI Ahmad Muzani Kunjungi Natuna, Cen Sui Lan Dorong Perhatian Pusat untuk Daerah Perbatasan

Natuna, Ariranews.com – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), H. Ahmad Muzani, tiba…

12 jam ago