DPRD Batam

Harga Santan Tembus Rp 46 Ribu per Kg, DPRD Batam Minta Ada Antisipasi, Disperindag Anggap Biasa

AriraNews.com, Batam – Pantau harga bahan pokok Komisi II DPRD Kota Batam melakukan sidak ke Pasar Mitra Raya, Batam Center, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Selasa (4/3/2025).

Anggota Komisi II DPRD Kota Batam, Gabriel Sianturi mengatakan harga untuk daging dan sayuran sampai saat ini masih stabil. Namun, yang melonjak harga santan. Santan murni saat ini berkisar Rp 46 ribu per kilogram. Sedangkan santan campur Rp23-25 ribu per kilogram. 

“Hal ini dikarenakan kelapa yg beredar di Batam dari beberapa daerah di luar Kepri. Begitu juga dengan telur ayam, kita masih bergantung penuh dari Medan,” kata Gabriel.

Ketua Komisi II DPRD Batam, Muhammad Yunus Muda, menyebut perlu adanya kerja sama antara Pemerintah Kota (Pemko) Batam dan pihak terkait agar ketersediaan bahan pangan tidak mengalami kendala. Potensi kelapa di Batam yang sebenarnya bisa dimanfaatkan lebih maksimal untuk memenuhi kebutuhan santan di daerah tersebut. 

Juara 1 Pria Merdeka Trail Run Jalur Ekstrim Panbil Nature Capai Garis Finish Hanya dengan Waktu 42 Menit!

“Kalau kelapa ini, Batam sebenarnya punya potensi. Tinggal bagaimana pemerintah mengelolanya. Persoalannya, jika semua pasokan berasal dari luar daerah, kita akan rentan terhadap gangguan distribusi,” katanya.

Menurutnya, yang terpenting adalah langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan bahan pokok, termasuk sayur, telur, dan ayam. Pasar Mitra Raya sendiri ialah pasar kelas menengah ke atas, di mana daya beli masyarakat relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pasar tradisional lainnya di Batam. 

Sejauh ini, Yunus memastikan harga sembako masih dalam kondisi stabil, dengan stok pangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga Idul Fitri nanti. Dia tetap menekankan perlunya koordinasi lebih lanjut dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Batam untuk memastikan ketersediaan bahan pangan tetap aman. 

Dari hasil sidak ini, DPRD Batam berencana untuk membahas lebih lanjut strategi pengamanan stok pangan dengan Disperindag. Langkah ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan bahan pokok tetap terjaga dan harga tetap stabil selama Ramadan hingga Idul Fitri. 

Selain itu, DPRD juga mendorong pemerintah daerah agar lebih serius dalam memanfaatkan potensi lokal, khususnya dalam produksi kelapa dan bahan pangan lainnya, untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.

Sementara itu, Kabid Pasar Disperindag Batam, Elfasi, mengatakan kenaikan harga bahan pokok menjelang hari besar seperti Ramadan dan Idul Fitri merupakan fenomena biasa. Lonjakan harga, katanya, sering kali disebabkan oleh panic buying yang dilakukan oleh masyarakat. 

FJP Kepri dan Suksesnya Rally Wisata 2026, Perkuat Hubungan Batam-Johor dan Gerakkan Ekonomi Pariwisata

“Contohnya cabai, ketika mendekati puasa atau Lebaran, orang-orang membeli dalam jumlah lebih banyak untuk stok. Ketika mindset ini terjadi secara massal, permintaan naik, dan otomatis harga ikut naik,” ujarnya.

Mengenai santan, dia menyebut bahwa Batam selama ini bergantung pada pasokan kelapa dari daerah lain, seperti Bintan, Tembilahan, dan Dumai. Meski stok santan sebenarnya stabil, peningkatan konsumsi selama Ramadan membuat permintaan melonjak drastis. 

“Dalam kondisi normal, misalnya, kebutuhan santan di Batam sekitar 5 ton per hari. Tapi saat Ramadan, bisa meningkat hingga 7-8 ton per hari,” katanya.

Akan tetapi, masalah ketersediaan santan ini bukan baru terjadi di Ramadan tahun ini. Distribusi santan diketahui sudah terganggu sejak awal tahun 2025.

Untuk harga, santan murni saat ini berkisar Rp 46 ribu per kilogram. Akan tetapi, bagi masyarakat yang ingin alternatif lebih murah, tersedia santan dengan campuran air lebih banyak seharga Rp23-25 ribu per kilogram. 

Dari Standar hingga Pengaduan, PTSP BP Batam Tingkatkan Kualitas Pelayanan Publik

Terkait kebutuhan santan secara keseluruhan di Batam, Elfasi mengaku belum memiliki data pasti. Namun, pihaknya sedang mengupayakan kerja sama antardaerah guna memastikan kelangsungan pasokan bahan baku. 

“Kepri sendiri belum mampu memenuhi kebutuhan kelapa untuk produksi santan di Batam, sehingga kerja sama dengan daerah lain sangat diperlukan,” katanya

Ia juga mencermati perbedaan daya beli masyarakat di berbagai pasar di Batam. Di Pasar Mitra Raya, misalnya, harga yang lebih tinggi masih dapat diterima oleh konsumen. Sementara di pasar dengan segmen menengah ke bawah, konsumen cenderung mencari produk dengan harga lebih terjangkau. (ara)

Redaksi

Recent Posts

94 Karhutla Terjadi di Natuna hingga Agustus, Bupati Soroti Kebiasaan Bakar Lahan

Natuna, Ariranews.com — Sebanyak 94 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tercatat di Kabupaten Natuna,…

4 jam ago

Natuna Jadi Penerima Bantuan Hilirisasi Kelapa Terbesar di Kepri, Dapat 350 Hektare

Natuna, Ariranews.com — Kabupaten Natuna menjadi daerah dengan alokasi terbesar dalam program Hilirisasi Kelapa Dalam…

6 jam ago

Juara 1 Pria Merdeka Trail Run Jalur Ekstrim Panbil Nature Capai Garis Finish Hanya dengan Waktu 42 Menit!

AriraNews.com, Batam - Setelah sukses menggebrak Batam dengan event trail run pertama pada tahun 2024…

6 jam ago

FJP Kepri dan Suksesnya Rally Wisata 2026, Perkuat Hubungan Batam-Johor dan Gerakkan Ekonomi Pariwisata

AriraNews.com, Batam - Rally Wisata 2026 yang berlangsung selama dua hari, 21-22 Agustus 2026, di…

18 jam ago

Dari Standar hingga Pengaduan, PTSP BP Batam Tingkatkan Kualitas Pelayanan Publik

AriraNews.com, Batam - Peningkatan kualitas pelayanan publik terus dilakukan Badan Pengusahaan (BP) Batam melalui Pelayanan…

1 hari ago

Pemko Batam Galang Rp 2,3 Miliar untuk Korban Gempa NTT

AriraNews.com, Batam – Pemerintah Kota (Pemko) Batam menggalang bantuan bagi masyarakat terdampak bencana gempa di…

2 hari ago