AriraNews.com, Batam – Pemerintah Kota Batam mempercepat pengembangan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Batam sebagai bagian dari upaya mengantisipasi pertumbuhan kendaraan pribadi dan potensi kemacetan di masa mendatang.
Pengembangan jaringan transportasi massal tersebut dinilai penting untuk memastikan masyarakat memiliki pilihan angkutan umum yang murah, aman, nyaman, dan dapat menjangkau berbagai kawasan permukiman di Kota Batam.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Trans Batam Dinas Perhubungan Kota Batam, Bambang Sucipto, mengatakan penyediaan transportasi umum merupakan salah satu kewajiban pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pemerintah melihat kebutuhan transportasi masyarakat akan terus meningkat seiring perkembangan kawasan dan pertumbuhan penduduk Batam.
Bambang menjelaskan, terdapat kajian di lingkungan Dinas Perhubungan yang menunjukkan pentingnya intervensi pemerintah terhadap sistem transportasi umum sejak dini. Jika pertumbuhan kendaraan pribadi dibiarkan tanpa diimbangi pengembangan angkutan umum, Batam dinilai berpotensi menghadapi persoalan kemacetan yang semakin serius dalam beberapa tahun ke depan.
“Kalau Batam ini dibiarkan tanpa ada intervensi angkutan umum, bukan tidak mungkin dalam kurun waktu lima tahun mendatang Batam akan seperti Jakarta,” katanya, Senin (7/9/2026).
Menurut Bambang, karakteristik Batam sebagai kawasan yang terus berkembang membuat pemerintah perlu mengantisipasi pertumbuhan jumlah kendaraan sejak sekarang. Ia menilai ketika masyarakat semakin banyak memiliki kendaraan pribadi, ruang jalan akan semakin terbebani dan pada akhirnya berpotensi menimbulkan kemacetan.
Karena itu, masyarakat perlu didorong untuk mulai beralih menggunakan transportasi umum.
“Orang sudah banyak memiliki kendaraan pribadi akhirnya terjadi kemacetan. Nah, itulah salah satu alasan kenapa masyarakat harus menggunakan angkutan umum,” ujarnya.
Transportasi Umum Jadi Ciri Kota Maju
Bambang mengatakan, kemajuan sebuah kota tidak semata-mata diukur dari banyaknya masyarakat yang memiliki kendaraan pribadi. Sebaliknya, salah satu indikator kota yang memiliki sistem transportasi baik adalah tingginya penggunaan angkutan umum oleh masyarakat.
Menurut dia, Batam ingin diarahkan menjadi kota maju dengan sistem transportasi perkotaan yang tertata dan mampu melayani mobilitas masyarakat secara efisien.
“Jadi Batam akan mengarah ke kota maju. Bagaimana sistem transportasi umumnya kita tata,” katanya.
Ia mencontohkan efisiensi penggunaan ruang jalan antara kendaraan pribadi dan bus. Sebuah mobil yang hanya membawa satu atau beberapa orang membutuhkan ruang jalan yang relatif besar. Sementara bus dengan ukuran lebih besar dapat mengangkut puluhan penumpang dalam satu perjalanan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penggunaan transportasi massal dapat meningkatkan efisiensi ruang jalan sekaligus mengurangi jumlah kendaraan yang beroperasi di jalan.
“Berapa efisiensi ruang jalan yang bisa kita efisienkan dengan menggunakan angkutan umum,” kata Bambang.
Selain persoalan kemacetan, pengembangan transportasi umum juga berkaitan dengan efisiensi penggunaan bahan bakar minyak (BBM). Pemerintah saat ini terus mendorong masyarakat agar menggunakan energi secara lebih efisien, termasuk melalui pengurangan penggunaan kendaraan pribadi.
Mendorong Masyarakat Lebih Aktif Bergerak
Pengembangan transportasi umum, menurut Bambang, juga memiliki manfaat lain yang tidak kalah penting, yakni mendorong pola hidup masyarakat yang lebih aktif.
Ia menilai kebiasaan masyarakat menggunakan kendaraan bermotor untuk perjalanan yang sangat dekat perlu secara perlahan diubah. Bahkan untuk menuju warung atau lokasi yang tidak terlalu jauh, sebagian masyarakat cenderung memilih menggunakan sepeda motor.
Karena itu, pemerintah ingin mengkampanyekan penggunaan transportasi umum sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih banyak berjalan kaki.
“Kalau seandainya kita dari rumah menuju ke halte itu butuh 100 sampai 200 meter, kita dipaksakan untuk berjalan, bergerak,” ujarnya.
Menurutnya, aktivitas berjalan menuju halte maupun dari halte ke tujuan akhir dapat menjadi bagian dari kebiasaan hidup yang lebih aktif.
Dengan demikian, penggunaan transportasi umum tidak hanya dipandang sebagai solusi mobilitas, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangun pola kehidupan perkotaan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Pengembangan Dilakukan Bertahap
Sebelumnya, Pemerintah Kota Batam melalui Dinas Perhubungan terus mendorong transformasi sistem transportasi perkotaan melalui pengembangan BRT Trans Batam.
Bambang mengatakan, pemerintah memilih BRT sebagai moda transportasi massal karena menyesuaikan dengan infrastruktur Kota Batam yang berbasis jaringan jalan.
Berbeda dengan LRT dan MRT yang menggunakan infrastruktur rel, BRT memanfaatkan jaringan jalan sebagai infrastrukturnya sehingga pengembangannya dapat dilakukan secara bertahap mengikuti perkembangan kawasan.
Salah satu momentum penting terjadi pada 2 Juli 2026, ketika layanan Trans Batam mulai terintegrasi hingga kawasan Bandara Internasional Hang Nadim. Integrasi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun konektivitas antarkawasan dan antarmoda.
Pengembangan Trans Batam selanjutnya tidak hanya berfokus pada penambahan armada dan rute. Pemerintah juga menyiapkan pembangunan lajur khusus BRT secara bertahap.
Konsep lajur khusus tersebut telah diterapkan di kawasan Bandara Hang Nadim dengan marka berwarna merah. Ke depan, konsep serupa direncanakan diterapkan pada koridor Trans Batam lainnya secara bertahap, menyesuaikan kondisi infrastruktur jalan.
Selain koridor utama, pemerintah juga menyiapkan layanan feeder untuk menghubungkan kawasan permukiman dengan jaringan utama BRT.
Pada 2027, pemerintah merencanakan peluncuran empat layanan feeder, di antaranya rute Dapur 12–Fanindo dan Dapur 12–Pasar Melayu, serta sejumlah layanan pengumpan di kawasan Tiban dan sekitarnya.
Pengembangan jaringan tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap transportasi massal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.
Bagi Pemerintah Kota Batam, percepatan pengembangan BRT bukan semata-mata penambahan rute atau armada. Kebijakan tersebut menjadi langkah antisipatif agar pertumbuhan kota tidak diikuti pertumbuhan kendaraan pribadi yang tidak terkendali.
Dengan memperkuat transportasi massal sejak sekarang, Batam diharapkan dapat tumbuh sebagai kota dengan mobilitas yang lebih tertata, penggunaan ruang jalan yang lebih efisien, serta masyarakat yang semakin terbiasa menjadikan angkutan umum sebagai pilihan utama dalam beraktivitas. (emr)




