TANJUNGPINANG, KEPRI – Pulau Penyengat di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), bukan sekadar gugusan pulau kecil yang menyimpan keindahan alam. Di balik pesonanya, pulau bersejarah ini menyimpan jejak panjang kejayaan Kesultanan Riau-Lingga, perkembangan agama Islam, serta peradaban Melayu yang pernah tumbuh dan berkembang di kawasan tersebut.
Sejarah itu kembali dikenang ketika rombongan jurnalis dari organisasi Pro Jurnalismedia Siber (PJS) berkunjung dan berziarah ke Pulau Penyengat, Jumat (6/11/2026) siang, atas undangan Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad. PJS sendiri baru saja menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III di Kota Batam 4–5 November 2026. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda pengenalan sejarah dan budaya Melayu kepada keluarga besar PJS.
Kedatangan rombongan disambut salah seorang tokoh masyarakat setempat, Raja Malik bin Raja Hamzah (53), yang kemudian berbagi cerita mengenai perjalanan sejarah pulau yang menjadi salah satu ikon kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau tersebut.

Salah satu lokasi yang menjadi perhatian rombongan adalah Masjid Raya Sultan Riau, bangunan bersejarah yang berdiri megah dengan warna kuning dan hijau yang khas. Masjid ini bukan hanya menjadi tempat ibadah umat Islam, tetapi juga saksi perjalanan sejarah dan kebesaran peradaban Melayu di Pulau Penyengat.
Sebelum menunaikan salat Jumat berjemaah, Raja Malik memberikan penjelasan singkat mengenai sejarah masjid yang hingga kini masih digunakan masyarakat untuk beribadah.
Menurut penuturannya, terdapat dua peristiwa penting yang dalam catatan sejarah Pulau Penyengat ditandai dengan seruan jihad fisabilillah. Pertama, ketika terjadi peperangan melawan Belanda. Kedua, saat pembangunan Masjid Sultan Riau, yang menggambarkan besarnya semangat kebersamaan dan pengorbanan masyarakat dalam mendirikan rumah ibadah tersebut.
Masjid Sultan Riau mulai dibangun dengan peletakan batu pertama pada 1 Syawal 1832, ketika Raja Abdurrahman Yang Dipertuan Muda Riau VII memegang kekuasaan.
Pembangunannya dilakukan melalui semangat gotong royong. Masyarakat dari berbagai kalangan menyumbangkan harta benda dan tenaga demi terwujudnya sebuah masjid yang kelak menjadi kebanggaan masyarakat Melayu.
Menariknya, kaum perempuan juga mengambil bagian langsung dalam proses pembangunan. Raja Malik menuturkan, berdasarkan kisah yang berkembang di tengah masyarakat, para perempuan bahkan pernah bekerja selama kurang lebih dua minggu dalam proses pembangunan masjid. “sementara kaum laki-laki bertugas berjaga,” katanya.
Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa pembangunan masjid ini bukan semata-mata proyek penguasa, melainkan hasil kebersamaan dan partisipasi seluruh lapisan masyarakat.
Keunikan putih telur sebagai perekat bangunan
Ada satu cerita yang membuat Masjid Raya Sultan Riau begitu terkenal hingga sekarang, yakni penggunaan putih telur sebagai salah satu bahan campuran perekat bangunan.
Raja Malik menjelaskan, putih telur dicampurkan dengan kapur dan tanah untuk memperkuat adukan bahan bangunan. Telur didatangkan dalam jumlah sangat banyak, bahkan menurut kisah yang diwariskan masyarakat, menggunakan berbagai jenis telur, tidak hanya telur ayam.
“Putih telur sebagai campuran kapur dan tanah penguat bangunan. Jadi bagian-bagian penting di masjid ini menggunakan putih telur sebagai perekatnya,” ungkap Raja Malik.
Ia juga menyampaikan bahwa menurut cerita sejarah setempat, seorang arsitek asal India turut memberikan masukan mengenai penggunaan putih telur sebagai bahan perekat dalam pembangunan masjid tersebut.
Keunikan ini menjadi salah satu daya tarik sejarah Masjid Sultan Riau. Di tengah keterbatasan teknologi konstruksi pada abad ke-19, masyarakat saat itu mampu membangun sebuah bangunan monumental melalui pengetahuan, kreativitas, dan semangat kebersamaan.
Arsitektur dengan makna 17 rakaat salat
Dari sisi arsitektur, Masjid Sultan Riau memperlihatkan perpaduan gaya Eropa dan Timur Tengah. Hal tersebut terlihat dari bentuk kubah, menara, serta sejumlah ornamen bangunan yang menjadi ciri khas masjid bersejarah tersebut.
Masjid ini memiliki empat menara dan 13 kubah. Jika dijumlahkan, terdapat 17 bagian yang menurut penjelasan Raja Malik dimaknai sebagai simbol jumlah rakaat salat wajib umat Islam dalam sehari semalam.
Perpaduan arsitektur tersebut memperlihatkan keterbukaan peradaban Melayu pada masa itu terhadap pengaruh budaya dan pengetahuan dari luar, tanpa meninggalkan identitas keislaman yang menjadi dasar kehidupan masyarakatnya.
Hal menarik lainnya, bentuk asli bangunan masjid hingga kini tetap dipertahankan. Perbaikan yang dilakukan selama ini lebih banyak menyangkut pemeliharaan dan perubahan warna, serta penambahan sejumlah fasilitas untuk menunjang kenyamanan jemaah.
“Sebagai bangunan cagar budaya, masjid tersebut tidak boleh diubah bentuk aslinya secara sembarangan. Karena itu, setiap upaya pemeliharaan harus tetap memperhatikan nilai sejarah dan keaslian bangunan,” ungkapnya.
Pusat ilmu pengetahuan Islam dan perpustakaan Kutub Khanah
Tidak hanya menyimpan sejarah arsitektur, Masjid Sultan Riau juga menjadi bagian penting dari perjalanan perkembangan ilmu pengetahuan Islam di Pulau Penyengat.
Di dalam masjid terdapat berbagai peninggalan bersejarah, antara lain Al-Qur’an dan naskah-naskah tulisan tangan yang menjadi bukti tradisi keilmuan Islam pada masa Kesultanan Riau-Lingga.
Raja Malik juga menceritakan keberadaan perpustakaan lama yang dikenal dengan nama Kutub Khanah, yang diperkirakan telah berkembang sejak sekitar dekade 1880-an.
Perpustakaan tersebut dahulu menjadi tempat penyimpanan berbagai referensi keislaman dan ilmu pengetahuan. Koleksi bukunya didatangkan dari berbagai pusat peradaban Islam, seperti Makkah, Madinah, Istanbul, Turki, dan sejumlah kawasan Timur Tengah lainnya.
Menurut Raja Malik, ribuan buku pernah dikumpulkan untuk melengkapi koleksi perpustakaan tersebut. Namun, seiring perjalanan waktu, jumlah koleksi yang tersisa kini hanya beberapa ratus buku.
Keberadaan Kutub Khanah menjadi bukti bahwa Pulau Penyengat pada masa lalu bukan hanya dikenal sebagai pusat pemerintahan dan kebudayaan Melayu, tetapi juga berkembang sebagai pusat pendidikan, literasi, dan penyebaran agama Islam.
Menjaga warisan sejarah untuk generasi mendatang
Bagi masyarakat Pulau Penyengat, Masjid Sultan Riau merupakan lebih dari sekadar bangunan tua. Masjid tersebut menjadi simbol identitas, kebanggaan, sekaligus pengingat tentang besarnya semangat keagamaan dan kebersamaan masyarakat Melayu pada masa lampau.
Di usia hampir dua abad sejak pembangunan awalnya pada 1832, masjid ini masih berdiri dan menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Suara azan masih berkumandang, jemaah tetap berdatangan, dan aktivitas ibadah terus berlangsung di dalam bangunan yang sarat nilai sejarah tersebut.
Kunjungan rombongan jurnalis PJS pada Jumat itu pun menjadi kesempatan untuk menyaksikan secara langsung salah satu peninggalan penting peradaban Melayu di Kepulauan Riau.
Usai mendengarkan penuturan sejarah dari Raja Malik, rombongan kemudian menunaikan salat Jumat berjemaah di masjid bersejarah tersebut.
Di tengah lantunan doa dan suasana khusyuk ibadah, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan, gotong royong, ilmu pengetahuan, serta kecintaan masyarakat terhadap agama dan warisan leluhurnya.
Pulau Penyengat akhirnya bukan hanya menjadi tujuan ziarah sejarah, melainkan juga ruang belajar tentang bagaimana sebuah peradaban dibangun, diwariskan, dan dijaga agar tetap hidup bagi generasi yang akan datang. (emr)





