AriraNews.com, BATAM — Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap ruang udara Cengkareng kembali berpotensi memengaruhi operasional penerbangan di Bandara Internasional Hang Nadim Batam, Senin (7/9/2026).
Berdasarkan pengumuman resmi pengelola Bandara Soekarno-Hatta yang disampaikan melalui media sosial, operasional penerbangan di bandara tersebut ditutup hingga pukul 18.00 WIB. Penutupan tersebut masih menunggu perkembangan kondisi abu vulkanik serta pengumuman resmi selanjutnya.
Kondisi itu berpotensi memberikan dampak terhadap penerbangan dari dan menuju Hang Nadim, mengingat Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng merupakan salah satu tujuan utama penerbangan dari Batam.
Namun, hingga Senin pagi, belum terdapat pengumuman resmi dari PT Bandara Internasional Batam (BIB) terkait perubahan operasional penerbangan di Bandara Hang Nadim akibat kondisi tersebut.
Sebelumnya, pada Minggu (6/9/2026), PT BIB menyatakan terus melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan cuaca dan kondisi abu vulkanik bersama seluruh stakeholder penerbangan.
Direktur Operasional PT BIB, Anton Marthalius, mengatakan keselamatan penerbangan menjadi dasar utama dalam setiap keputusan operasional di Bandara Hang Nadim.
“Keselamatan penerbangan, penumpang, awak pesawat dan seluruh personel bandara merupakan prioritas utama dalam setiap keputusan operasional,” ujar Anton.
Menurut Anton, kondisi ruang udara yang terdampak abu vulkanik dapat menjadi dasar bagi pihak bandara dan stakeholder penerbangan untuk melakukan penyesuaian operasional, mulai dari penundaan, pengalihan hingga pembatalan penerbangan.
“Apabila kondisi ruang udaranya tidak baik akibat abu vulkanik tadi, maka akan kita keluarkan keputusan operasional. Penyesuaian operasional juga kita lakukan, termasuk penundaan, pengalihan maupun pembatalan penerbangan,” katanya.
Pada Minggu, dari 70 penerbangan yang direncanakan melakukan lepas landas dan pendaratan di Hang Nadim, sebanyak 21 penerbangan rute Cengkareng terdampak kondisi ruang udara.
Ke-21 penerbangan tersebut terdiri atas 10 penerbangan kedatangan dan 11 penerbangan keberangkatan, dengan total 2.519 penumpang terdampak.
Sementara itu, sebanyak 49 penerbangan dengan 6.283 penumpang masih dapat beroperasi. Penerbangan tersebut merupakan rute selain Cengkareng, di antaranya Kuala Lumpur, Kualanamu, Pekanbaru, Pontianak, Padang, Palembang, Semarang, Yogyakarta International Airport, Surabaya hingga Natuna.
Gangguan pada rute Cengkareng tersebut melibatkan sejumlah maskapai. Citilink terdampak pada delapan penerbangan dengan sekitar 880 penumpang, Garuda Indonesia enam penerbangan dengan sekitar 654 penumpang, Super AirJet empat penerbangan dengan sekitar 584 penumpang, serta Batik Air tiga penerbangan dengan sekitar 401 penumpang.
PT BIB sebelumnya juga menyatakan terus berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan, BMKG, maskapai, ground handling, AirNav Indonesia serta stakeholder penerbangan lainnya untuk mendapatkan perkembangan terbaru mengenai kondisi abu vulkanik.
Anton mengatakan keputusan penundaan maupun pembatalan penerbangan dilakukan berdasarkan pertimbangan keselamatan penerbangan.
“Dasarnya biar teman-teman memahami, dasar kita melakukan penundaan atau pembatalan adalah safety,” tegasnya.
Selain melakukan penyesuaian operasional, PT BIB bersama maskapai dan stakeholder terkait menyiapkan penanganan bagi penumpang yang terdampak. Langkah tersebut antara lain melalui delay management, pemberian layanan kepada penumpang serta pencarian alternatif penerbangan.
PT BIB juga mengimbau calon penumpang untuk memeriksa status penerbangan melalui kanal resmi maskapai sebelum menuju Bandara Hang Nadim.
Penumpang yang penerbangannya telah dipastikan dibatalkan atau belum mendapatkan kepastian operasional juga diminta tidak terburu-buru datang ke bandara.
Di tengah perkembangan kondisi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, status operasional penerbangan di Hang Nadim masih menunggu perkembangan lebih lanjut dan koordinasi antar-stakeholder penerbangan.
Keputusan terkait penundaan, pengalihan maupun pembatalan penerbangan akan menyesuaikan kondisi ruang udara dan aspek keselamatan penerbangan. (emr)



