Anambas,Ariranews.com– Sinyal flare yang ditembakkan dari liferaft menjadi penyelamat empat Anak Buah Kapal (ABK) TB AOM 787 setelah kapal tunda yang mereka awaki terbalik akibat dihantam cuaca buruk di perairan Kepulauan Anambas, Sabtu (25/7/2026). Berkat sinyal darurat tersebut, seluruh korban berhasil ditemukan dan dievakuasi dalam keadaan selamat oleh Tim SAR Gabungan.
Keberhasilan evakuasi ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya kelengkapan alat keselamatan di setiap pelayaran. Basarnas menegaskan, keberadaan flare dan perlengkapan keselamatan lainnya dapat menjadi penentu keselamatan jiwa saat terjadi keadaan darurat di laut, terutama di tengah meningkatnya risiko cuaca ekstrem di wilayah perairan Natuna dan Anambas.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Natuna, Abdul Rahman, menjelaskan TB AOM 787 berangkat dari Tanjung Balai Karimun pada Senin (21/7/2026) sore dengan tujuan Pulau Serasan, Kabupaten Natuna. Dalam perjalanan, kapal sempat mengalami kendala teknis sehingga kembali untuk melakukan perbaikan sebelum melanjutkan pelayaran.
Namun, pada Sabtu (25/7/2026) sekitar pukul 10.00 WIB, kapal dihantam gelombang tinggi dan angin kencang hingga akhirnya terbalik. Seluruh kru berhasil menyelamatkan diri menggunakan liferaft.
Harapan datang ketika MV Shanghai Voyager berbendera Republik Korea yang sedang berlayar dari Malaysia menuju Hong Kong melihat sinyal flare yang ditembakkan para korban dari atas liferaft.
“Menurut keterangan para ABK, mereka menyalakan flare sebagai tanda darurat. Pada percobaan kedua, sinyal tersebut berhasil terlihat oleh MV Shanghai Voyager,” ujar Abdul Rahman.
Setelah mengevakuasi para korban, MV Shanghai Voyager melaporkan kejadian tersebut kepada Basarnas. Informasi kemudian diteruskan kepada Kantor SAR Natuna melalui Basarnas Command Center (BCC) pada pukul 16.40 WIB.
Berdasarkan hasil koordinasi, Tim SAR Gabungan dan MV Shanghai Voyager menyepakati titik intercept di koordinat 03°26.50’N – 106°14.50’E. Pada pukul 23.30 WIB, empat ABK berhasil dipindahkan ke Kapal Puskesmas Keliling (Puskel) Anambas.
Keempat korban merupakan warga negara Indonesia, yakni Zulkifli selaku nahkoda, serta Tawakal, Arbain, dan Dodi sebagai ABK. Seluruhnya kemudian dibawa ke RSUD Tarempa untuk menjalani pemeriksaan medis dan dinyatakan dalam kondisi stabil.
Operasi penyelamatan melibatkan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas, Pos SAR Anambas, Polres Anambas, Koramil Tarempa, BPBD Anambas, dan Lanal Tarempa.
Abdul Rahman mengapresiasi sinergi seluruh unsur SAR Gabungan yang dinilai berjalan cepat dan efektif hingga seluruh korban dapat diselamatkan.
“Kondisi seperti ini dapat terjadi kapan saja. Untuk itu, penguatan kesiapsiagaan, kerja sama, dan koordinasi perlu terus ditingkatkan,” katanya.
Ia juga mengingatkan seluruh operator kapal agar mematuhi standar keselamatan pelayaran sesuai Konvensi SOLAS (Safety of Life at Sea) serta selalu memastikan alat keselamatan seperti flare, Emergency Position Indicating Radio Beacon (EPIRB), Search and Rescue Transponder (SART), senter LED, hingga cermin sinyal tersedia dan berfungsi dengan baik.
Selain itu, Abdul Rahman mengimbau seluruh pelaku pelayaran untuk rutin memantau informasi cuaca dari BMKG sebelum berlayar guna mengantisipasi potensi cuaca ekstrem yang dapat membahayakan keselamatan di laut.
Operasi SAR terhadap insiden TB AOM 787 resmi ditutup setelah seluruh korban berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat dan seluruh unsur yang terlibat kembali ke satuan masing-masing.
(Dod)










