BI Kepri Dorong Inovasi Kuliner Lokal sebagai Solusi Inflasi, Masak Ikan Asam Pedas Pakai Cabai Kering Pecahkan Rekor MURI

Avatar photo
Berkolaborasi dengan Bank Indonesia Perwakilan Kepri, Hotel Santika Batam sukses mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas penyajian ikan asam pedas cabai kering terbanyak, yakni mencapai 1.118 porsi.

AriraNews.com, BATAM — Suasana meriah mewarnai perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3 Hotel Santika Batam yang digelar dengan tajuk “Pekan Rasa Melayu”, Jumat (24/10/2025), di pelataran Hotel Santika Batam, Batam Center.

Dalam momentum istimewa itu, berkolaborasi dengan Bank Indonesia Perwakilan Kepri, Hotel Santika Batam sukses mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas penyajian ikan asam pedas cabai kering terbanyak, yakni mencapai 1.118 porsi.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau, Ardhienus, mengatakan kegiatan ini menjadi wujud nyata kolaborasi lintas sektor yang sejalan dengan program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

“Melalui kegiatan ini, kita bersama-sama memperkuat komunikasi publik dan kampanye konsumsi produk olahan lokal sebagai bentuk dukungan terhadap pengendalian inflasi di daerah,” ujar Ardhienus dalam sambutannya.


BACA JUGA:   Perindah Tata Kota, PLN Batam Tanam Jaringan Listrik di Bawah Tanah

Ia menjelaskan, momentum ini juga sejalan dengan kinerja ekonomi Kepulauan Riau yang terus menunjukkan tren positif. Pada triwulan II tahun 2025, ekonomi Kepri tumbuh 7,14 persen (yoy), meningkat dari triwulan sebelumnya sebesar 5,16 persen dan lebih tinggi dari pertumbuhan nasional 5,12 persen. Sementara inflasi Kepri pada September 2025 tercatat 0,64 persen (mtm) atau 2,70 persen (yoy), menunjukkan efektivitas koordinasi antara BI, pemerintah daerah, dan TPID se-Kepri dalam menjaga kestabilan harga.

Ardhienus menekankan pentingnya inovasi dalam menjaga kestabilan pasokan dan harga pangan, terutama komoditas cabai yang kerap menjadi penyumbang inflasi. Salah satu solusinya adalah pemanfaatan cabai kering, yang dinilai lebih tahan lama dan memiliki harga stabil.

BACA JUGA:   Ingin Tetap Anggun dan Sehat di Umur 40-an, Ini Tips Dokter Spesialis RS KPJ Johor

“Kami ingin mengedukasi masyarakat bahwa masakan lezat tidak selalu harus menggunakan cabai segar. Cabai kering bisa menghasilkan cita rasa yang sama nikmatnya, sekaligus menjaga stabilitas harga dan mendukung kesejahteraan petani,” katanya.

Pemilihan menu ikan asam pedas cabai kering dalam pemecahan rekor MURI tersebut dinilai sarat makna. Selain mencerminkan kekayaan hasil laut Kepulauan Riau yang wilayahnya 96 persen berupa lautan, sajian itu juga menonjolkan identitas kuliner Melayu yang dikenal pedas dan kaya rempah.

Kegiatan ini juga menjadi tindak lanjut dari penerbitan buku “Khazanah Masakan Khas Melayu Menggunakan Cabai Kering” yang diluncurkan oleh BI Kepri bersama Batam Tourism Polytechnic pada tahun 2024. Buku tersebut menjadi tonggak inovasi kuliner lokal yang menggabungkan aspek ekonomi, budaya, dan pengendalian inflasi pangan.

BACA JUGA:   Semangat Menderu dari Tanjunguma untuk Ansar Ahmad

“Melalui kampanye penggunaan cabai kering ini, kami ingin masyarakat lebih bijak dan adaptif dalam pola konsumsi sehari-hari. Pengendalian inflasi bisa dimulai dari rumah sendiri,” tutur Ardhienus.

Selain memecahkan rekor MURI, acara Pekan Rasa Melayu juga menampilkan aneka kuliner khas Melayu serta promosi potensi ekonomi daerah berbasis kearifan lokal. Perayaan ini menjadi simbol sinergi antara dunia perhotelan, pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha dalam memperkuat ekonomi daerah melalui jalur budaya dan kuliner.

“Insya Allah, dengan niat baik dan kerja sama yang solid, ikhtiar ini akan membawa manfaat besar bagi masyarakat Kepulauan Riau dan Indonesia,” pungkas Ardhienus. (ara)