AriraNews.com, Batam – Pembangunan rumah untuk warga yang terdampak pengembangan Rempang Evo-City telah dimulai, ditandai peletakan batu pertama, Rabu (10/1/2024).
Hunian baru tersebut diberi nama “Kampung Pengembangan Nelayan Maritime City” yang akan menjadi kampung percontohan di Indonesia sebagai kampung nelayan modern dan maju.
Bahkan pengerjaan bangunan empat rumah contoh yang berlokasi di Tanjung Banon telah rampung. Tinggal melengkapi fasilitas pendukung.
BP Batam berkomitmen untuk menyelesaikan pengerjaan empat rumah contoh tersebut dengan maksimal. Sehingga, pembangunan 961 unit rumah lainnya dapat segera dilaksanakan.
Kepala BP Batam, Muhammad Rudi mengatakan, dalam Kampung Pengembangan Nelayan Maritime City tersebut tidak hanya dibangun perumahan untuk masyarakat Rempang saja. Melainkan, kampung itu nantinya juga akan dibangun sejumlah fasum dan fasos yang dapat dinikmati oleh masyarakat kedepannya.

Di Kampung Pengembangan Nelayan Maritime City itu akan tersedia berbagai fasilitas pendidikan lengkap (SD, SMP hingga SMA). Fasilitas pendidikan dari jenjang pertama hingga SMA itu, nantinya akan dibangun untuk menampung seluruh anak-anak di Pulau Rempang.
Selain itu juga akan dibangun rumah ibadah seperti masjid dan gereja. Terakhir, juga ada fasilitas olahraga seperti lapangan bola dan pelabuhan berstandar nasional.
Namun, sejauh ini jumlah warga yang telah mendaftar program Rempang Eco-City tersebut baru sebanyak 387 Kepala Keluarga (KK).
Melihat data tersebut Perkumpulan Rempang Galang Bersatu (PRGB) menawarkan solusi untuk persoalan Rempang dengan konsep membangun Kawasan Budaya Rempang. Kawasan Budaya Rempang adalah pemukiman baru yang dibangun dengan desain perkampungan Melayu.

Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Rempang Galang Bersatu, Osman Hasyim
mengatakan, pergeseran masyarakat Rempang masih menyimpan sejumlah masalah. Masih banyak masyarakat yang memilih bertahan. Pembangunan rumah contoh belum menarik masyarakat yang akan digeser mau mendaftar.
Menurut Osman, ada banyak alasan warga tidak mau bergeser. Mulai dari soal ganti rugi, soal komunikasi yang kurang antara BP Batam dengan masyarakat tempatan hingga soal kehilangan identitas suku Melayu.
“Kami hadir sebagai penengah antara kebijakan pemerintah dengan masyarakat. Kami tawarkan konsep baru untuk mencari solusinya,” kata Osman, kepada wartawan, Rabu (15/5/2024).


Konsep yang ditawarkan dimulai dengan membangun kembali komunikasi dari awal antara pemerintah dengan masyarakat, membicarakan ulang soal ganti rugi hingga soal konsep Kawasan Budaya Rempang untuk pemukiman masyarakat dengan nuansa Melayu.
“Inilah yang kami inginkan. Tempat tinggal masyarakat yang baru tanpa menghilangkan identitas Melayu,” kata Sani, Ketua PRGB.
Menurut Sani, rumah contoh bakal menghilangkan identitas kebangsaan Melayu. Pasalnya, nuansa Melayu-nya sangat kurang.
“Perkampungan tua kami digusur, tentu kami tidak mau kehilangan identitas ke-Melayu-an kami di tempat baru. Jika konsep Kawasan Budaya Rempang ini dipakai, saya yakin banyak masyarakat yang bersedia untuk pindah,” tambah Sani.
PRGB tidak saja berbicara saran dan usul. Tapi mereka sudah melangkah jauh dengan konsep dan animasi Kawasan Budaya Rempang.
Pembangunan Kawasan Budaya Rempang ini tetap di lokasi yang sudah disediakan BP Batam, Tanjung Banon. Bedanya, rumah yang dibangun bukan mirip rumah contoh yang dibangun saat ini.
“Kita sarankan konsep perumahan perkampungan Melayu. Kalau konsep ini diterima, kita tidak saja dapat rumah tinggal, tapi juga dapat mewarisi budaya Melayu. Cara hidupnya tidak jauh dari tradisi yang ada. Kita juga menciptakan pusat ekonomi baru, pusat wisata. Dia menjadi perkampungan budaya, sehingga dengan anggaran yang sama, kita dapat tujuh manfaat, kalau konsep sekarang, kita hanya dapat rumah tinggal,” tambah Osman lagi.
Sementara Tokoh Pemuda Melayu Bang Along juga setuju dengan konsep yang ditawarkan Perkumpulan Rempang Galang Bersatu.
“Memang inilah yang kita suarakan dari kemarin. Dari dulu kita tidak menolak investasi. Tapi pemerintah harus juga mendengar keinginan masyarakat. Jangan hanya mendengar segelintir tokoh saja,” ujar Bang Long.
Konsep yang ditawarkan Perkumpulan Rempang Galang Bersatu juga didukung, budayawan Tarmizi Rumah hitam.
“Ini salah satu ide yang brilian,” ungkapnya.
Dia menilai konsep Kawasan Budaya Rempang yang dirancang PRGB dapat mengembalikan roh Melayu.
“Jangan buatkan rumah dari peradaban lain, tapi buatkan rumah dari peradaban kami (Melayu) juga,” ujarnya.
Konsep yang diusulkan PRGB menurut Tarmizi merupakan bagian dari pendekatan kebudayaan yang sebelumnya tidak dilakukan oleh pemerintah.
“Kalau dari awal dilakukan pendekatan kebudayaan, mengetahui kultur, menyentuh hati masyarakat, saya yakin tidak seperti saat ini,” kata Tarmizi. (ara)








