Ariranews.com, Batam: Komunitas pedagang air isi ulang Tanjungsengkuang protes terhadap murahnya air galon Mindy Rp 5 ribu per galon. Hal itu dianggap akan mematikan usaha mereka yang hanya skala rumahan karena harga jual yang sama.
“Sudah tiga bulan terakhir ini kami dirugikan. Harga mereka jual di bawah kami Rp5 ribu pergalon, selain itu juga mereka memberikan galon gratis dan juga gratis 1 kalau beli 10 galon,” ucap Fahrul, koordinator depot air minum isi ulang, saat Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi I DPRD Batam, Senin (5/4/201) siang.
Kata dia, apabila pemerintah tidak bisa menanggulangi permasalahan ini, dikhawatirkan banyak depot isi ulang air minum yang tutup. Dampaknya sambung Fahrul, akan merusak ekonomi UKM dan akan ada pengangguran lagi.
“Kami disini bukan mau cari kaya, tapi kami mencari makan. Saya sendiri ada dua orang yang bekerja, kalau dikalikan satu Batam ada puluhan ribu depot air minum isi ulang, ada berapa ratusan pengangguran di Batam,” ujarnya.
Kata Fahrul, mereka tidak melarang perusahaan air Mindy beroperasi. Tapi, jangan sampai mematikan usaha kecil.
Sementara, Anggota Komisi I DPRD Batam, Muhammad Fadhli memahami kegelisahan komunitas air galon rumahan tersebut. Menurut dia Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam mencarikan solusinya, contohnya membuat kebijakan untuk harga eceran terendah untuk usaha skala besar.
“Kami minta pihak Disperindag ada buat suatu regulasi harga. Agar perusahaan Mindi tidak mematikan UKM depot air minum,” kata Muhammad Fadhli.
Menurut Fadhli, harusnya PT Wahaya Tirta (Mindy) bisa menjadi perusahaan air minum lokal berskala nasional. Selain itu juga, perusahaan air minum ini saingannya bukan depot isi ulang air minum rumahan, tapi bersaing dengan perusahaan air minum sejenisnya.
“Kalau harga mereka sama dengan harga depot isi ulang, ini bisa mematikan UKM kita di Batam. Ada ribuan depot air minum di Batam, kalau sempat mereka tutup maka akan menambah lagi pengangguran disini,” ujarnya.
“Siapapun boleh cari untung, tapi jangan seenaknya membuat harga. Kalau terjadi aksi demo dan dilihat sama investor lainnya mereka akan risih dan mungkin juga tidak jadi investasi di Batam,” Fadhli menegaskan.
Sementara, Legal PT Wahana Tirta, Nur Wafiq Warodat mengatakan secara teknis harga Rp5 ribu per galon yang dijual pelaku UMKM tersebut bisa dikatakan mendapatkan keuntungan 400 persen. Karena, setiap 1 kubik air bisa mengisi 50 galon air minum yang nantinya akan dijual ke masyarakat.
“Mereka rugi dari mana, produksi 1 galon itu mungkin tidak sampai Rp1000. Masa kami jual air galon yang sumber airnya di Batam mahal buat warga Batam sendiri,” ucapnya.
Kata Nur, sebelum didistribusikan ke konsumen, perusahaannya sudah melalui beberapa uji klinis. Mereka juga sambungnya, sudah ada sertifikat SNI yang dikeluarkan dari Medan dan juga ada izin edar dari BPOM.
“Kita tidak mau ambil resiko, kami semuanya tertib, izin lengkap. Selama kami beredar, tidak pernah satupun masyarakat yang komplin. Bahkan masyatakat mendukung kami, pernah ada kejadian mobil kami dihalangi, tapi masyarakat turun membantu dan membela kami,” katanya.(emr)








