AriraNews.com, Jakarta – Transformasi perusahaan yang tak pernah tidur, jadikan waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin saya pertama kali mengenakan seragam putih biru (1993) dengan penuh semangat dan harapan. Besok 1 Januari 2026, secara resmi saya memasuki masa pensiun dari perusahaan yang telah menjadi rumah kedua saya selama 32 tahun 6 bulan.
Telkom bukan sekadar tempat bekerja bagi saya. Di sinilah saya belajar tentang dedikasi, profesionalisme, dan arti sebuah kebersamaan. Dari teknologi analog hingga era digital, dari kabel kertas hingga fiber optik, dari teknologi wireline hingga wireless (mobile), dari penggelaran kabel darat, udara hingga kabel laut, dari telepon engkol hingga touchscreen, dari layanan telex hingga datacenter, dari telkomnet instan hingga broadband, layanan operator 108/117 hingga AI, dst..saya berkesempatan menjadi saksi sekaligus bagian dari transformasi besar industri telekomunikasi Indonesia.
Bersama rekan-rekan seperjuangan yang luar biasa, Telkom selalu menghadapi berbagai tantangan. Terkadang diminta siapkan proyek sangkuriang ataupun jualan yang bikin meriang karena dikejar target, hingga suka cita ketika berhasil menyelesaikan target bersama. Setiap momen itu kini menjadi kenangan berharga yang akan saya simpan selamanya.
Di titik refleksi ini, izinkan saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak. Kepada atasan yang pernah saya kecewakan, rekan kerja yang pernah saya sakiti—baik sengaja maupun tidak sengaja—dan kepada semua pihak yang pernah berinteraksi dengan saya.
Saya sadar, selama perjalanan karir yang panjang ini, pasti ada kata-kata yang kurang berkenan, sikap yang mungkin menyinggung, atau keputusan yang tidak memuaskan semua pihak. Sebagai manusia biasa yang penuh kekurangan, saya memohon keikhlasan untuk memaafkan segala kesalahan saya.
Tak lupa, terimakasih kepada Telkom yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berkarya dan berkontribusi. Terima kasih telah menjadi tempat saya menghidupi keluarga, mengembangkan diri, dan menemukan makna dari sebuah pengabdian.
Terima kasih kepada para atasan yang telah membimbing, mengarahkan, dan terkadang dengan tegas mengoreksi saya agar menjadi pribadi yang lebih baik.
Terima kasih kepada rekan-rekan seperjuangan yang selalu ada di saat suka maupun duka. Rekans bukan hanya rekan kerja, tapi sudah menjadi keluarga bagi saya. Tawa, cerita, bahkan perdebatan kita adalah bumbu kehidupan yang membuat perjalanan karir ini begitu berwarna.
Terima kasih kepada tim yang pernah saya pimpin. Kalian telah mengajarkan saya bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang memerintah, tapi tentang melayani dan memberdayakan.
*2026: Bukanlah Akhir, Tapi Awal yang Baru bagi saya.*
Meskipun baju seragam biru Telkom, harus saya lipat dan simpan dengan rapih. Pensiun bukan berarti berhenti berkarya. Di usia menuju 58 tahun, semoga saya masih diberi kesehatan dan semangat untuk terus berkontribusi, meski dalam bentuk yang berbeda.
Mari kita sambut 2026 dengan penuh optimisme! Apapun status kita—aktif berkarya, pensiun, atau sedang dalam transisi—yang terpenting adalah kita tetap produktif, positif, dan memberikan manfaat bagi sekitar.
Terakhir, saya ingin mengutip pesan yang pernah saya dengar: “*_Kita tidak diukur dari seberapa lama kita bekerja, tapi dari seberapa besar jejak positif yang kita tinggalkan_*.” Semoga jejak kecil saya di Telkom bisa memberikan manfaat, meski secuil.
Selamat Tahun Baru 2026!
Semoga tahun ini membawa kesuksesan, kesehatan, dan kebahagiaan untuk kita semua. Semoga Telkom semakin jaya, dan Indonesia semakin maju.
Mohon maaf lahir batin,
Terima kasih untuk segalanya,
Dan sampai jumpa di kesempatan berikutnya!
Tabik,
*Sabri Rasyid/Nik 680149*
Jakarta, 31 Desember 2025.








