Batam

Swasembada Energi, Batam di Persimpangan: Energi Hijau, Industri, dan Krisis Air

AriraNews.com, Batam – Wacana transisi menuju energi baru dan terbarukan (EBT) terus menguat dalam beberapa tahun terakhir. Narasi tentang energi hijau terdengar indah dan menjanjikan masa depan yang bersih serta berkelanjutan. Namun dalam praktiknya, Indonesia, khususnya Batam, masih jauh dari transformasi penuh menjadi daerah berbasis energi hijau.

Hal tersebut diutarakan Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Batam, Dr Suyono Saputra dalam diskusi publik bertema “Swasembada Energi” yang digelar di salah satu kafe di Batam,  Selasa (24/2/2026).

“Bisa kita lihat sampai sekarang proyek EBT di Batam, berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya yang pernah direncanakan belum terealisasi,” ungkapnya.

Menurut Suyono, EBT hingga kini belum sepenuhnya bisa diandalkan sebagai tulang punggung sistem energi nasional. Teknologi seperti solar cell memang semakin populer, tetapi efektivitasnya masih menghadapi tantangan besar. Biaya investasi awal yang tinggi, terutama untuk sistem penyimpanan baterai, menjadi kendala utama.

Ribuan Warga Hadiri Belakang Padang Bershalawat Jilid 2, Amsakar Ajak Warga Teladani Rasulullah

“Tanpa dukungan teknologi penyimpanan yang efisien dan murah, energi surya sulit menjadi sumber energi yang stabil dan kontinyu,” kata Suyono.

Di atas kertas lanjutnya, setelah masuk tahap operasi, tarif listrik berbasis EBT bisa menjadi relatif murah. Namun, fase menuju ke sana membutuhkan investasi besar dan dukungan infrastruktur yang tidak sederhana.

“Inilah sebabnya, meskipun banyak pihak menyukai konsep EBT, implementasinya masih bergantung pada kesiapan finansial dan teknologi,” ujar Suyono, yang juga merupakan Dosen Universitas Internasional Batam.

Di tengah dinamika tersebut, dia melihat Batam mengambil jalur yang lebih pragmatis. Ekspansi jaringan pipa gas (PNG) dinilai cukup progresif dan memberikan keuntungan strategis bagi daerah ini. Posisi Batam sebagai jalur utama distribusi gas membuat kota ini memiliki akses langsung terhadap pasokan energi gas bumi. Perusahaan seperti Perusahaan Gas Negara (PGN) dapat memanfaatkan kondisi ini untuk memperluas program jaringan gas rumah tangga (jargas).

Tak hanya itu, Batam juga menikmati konektivitas jaringan gas hingga ke Singapura, memperkuat posisinya sebagai simpul energi regional. Keunggulan geografis ini menjadikan Batam relatif lebih siap dalam menjamin pasokan energi berbasis gas dibanding banyak wilayah lain.

Di sektor kelistrikan, Batam juga mengalami pertumbuhan signifikan. Sejumlah sumber listrik baru bermunculan, mulai dari kawasan industri Batamindo di Setokok, Panbil di Tanjung Sauh, hingga penguatan kapasitas oleh PLN Batam. Diversifikasi ini menunjukkan bahwa kebutuhan energi industri yang terus meningkat diimbangi dengan pembangunan infrastruktur pembangkit baru.

Erupsi Anak Gunung Krakatau, Minggu Pagi Lima Penerbangan di Bandara Hang Nadim Batam Dibatalkan

Sementara, Direktur Eksekutif Batam Labor and Public Policy (BALAPI) Rikson P Tampubolon, yang juga menjadi narasumber dalam diskusi tersebut menilai di balik geliat energi tersebut, Batam menghadapi persoalan lain yang tak kalah krusial: paradoks air bersih. Di satu sisi, sektor industri membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar untuk menopang aktivitas produksi. Di sisi lain, kebutuhan air bersih masyarakat belum sepenuhnya terpenuhi secara merata. Ketimpangan ini menciptakan tekanan ganda terhadap pengelolaan sumber daya air di wilayah yang terus tumbuh pesat ini.

“Ini yang menjadi PR pemerintah saat ini. Industri butuh air bersih sedangkan saat ini kebutuhan air bersih untuk masyarakat di Batam belum terpenuhi secara merata,” kata Rikson.

Situasi Batam menggambarkan realitas transisi energi Indonesia secara lebih luas. Semangat menuju energi hijau memang ada, tetapi kesiapan infrastruktur, pembiayaan, serta kebutuhan dasar masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah besar.

“Untuk saat ini, gas bumi dan sistem energi konvensional masih menjadi penopang utama, sementara EBT tetap menjadi visi jangka panjang yang memerlukan konsistensi kebijakan dan investasi berkelanjutan,” kata Suyono.(emr)

PT BIB Bawa Bandara Hang Nadim Batam Raih Akreditasi Customer Experience Level 3 dari ACI World
Redaksi

Recent Posts

Simfoni Ketulusan Ady Indra Pawennari Bersama KJK Menjaga Taji dan Martabat Pers

Oleh: Ridarman Bay(Wartawan Senior Kepri) AriraNews.com, OPINI - Tiga puluh dua tahun melakoni profesi sebagai…

20 menit ago

Ribuan Warga Hadiri Belakang Padang Bershalawat Jilid 2, Amsakar Ajak Warga Teladani Rasulullah

AriraNews.com, Batam - Ribuan masyarakat memadati Lapangan Indra Sakti, Kecamatan Belakang Padang, Sabtu (5/9/2026) malam,…

1 jam ago

Erupsi Anak Gunung Krakatau, Minggu Pagi Lima Penerbangan di Bandara Hang Nadim Batam Dibatalkan

AriraNews.com, Batam - Erupsi Anak Gunung Krakatau pada Sabtu (5/9/2026) berdampak terhadap operasional sejumlah penerbangan…

2 jam ago

PT BIB Bawa Bandara Hang Nadim Batam Raih Akreditasi Customer Experience Level 3 dari ACI World

AriraNews.com, BATAM — Bandara Internasional Hang Nadim Batam berhasil menembus jajaran terbatas bandar udara di…

3 jam ago

Kunjungan Wisman Batam Meroket, hingga Juli 2026 Nyaris Tembus 1 Juta Kunjungan

AriraNews.com, BATAM — Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Kota Batam mencapai 143.523 kunjungan pada Juli…

1 hari ago

DPRD Tangsel Pelajari Strategi Batam Bangun Infrastruktur dan Perizinan untuk Jaga Iklim Investasi

AriraNews.com, Batam - Strategi Batam menarik dan menjaga investasi melalui pembangunan infrastruktur menjadi perhatian DPRD…

1 hari ago