Advertisement
Batam BP Batam Pendidikan

Groundbreaking Sekolah Terintegrasi Merah Putih di Rempang, Amsakar: Pendidikan Kunci Hadapi Kompetisi Global

Pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih di Rempang, Batam, resmi dimulai ditandai dengan ground breaking atau pemancangan awal yang disebut Kepala BP Batam Amsakar Achmad sebagai bagian dari catatan sejarah bagi Batam, Kamis (24/9/2026).

AriraNews.com, Batam — Pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih di Rempang, Batam, resmi dimulai ditandai dengan groundbreaking atau pemancangan awal yang disebut Kepala BP Batam Amsakar Achmad sebagai bagian dari catatan sejarah bagi Batam, Kamis (24/9/2026).

Hadir dalam acara tersebut, Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia, Ketua DPRD Batam, Kamaluddin, PJU Polda Kepri, Perwakilan Kodaeral, Kapolres Barelang, dan para Duputi di lingkungan BP Batam.

Amsakar mengatakan, pembangunan sekolah tersebut menjadi bentuk sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha di daerah. Ground breaking juga berlangsung bertepatan dengan peringatan HUT Provinsi Kepulauan Riau.

“Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, apa yang kita lakukan adalah catatan sejarah. Groundbreaking Sekolah Merah Putih bersamaan dengan HUT Kepri dan bersinergi dengan pelaku usaha di daerah,” kata Amsakar.

Data Center Bangun SWRO Mandiri, Kepala BP Batam: Investasi Tidak Boleh Menganggu Suplai Air Masyarakat

Dari Kiri: Ketua Pelaksana Pembangunan Yayasan Merah Putih, Robinson Tan, Ketua Yayasan Merah Putih, Eddy Hussy, Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia, dan Deputi Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, usai groundbreaking Sekolah Terintegrasi Merah Putih di Rempang.

Menurut Amsakar, BP Batam berperan dalam mempersiapkan lahan pembangunan sekolah, sementara pendanaan dilakukan melalui dukungan para pelaku usaha yang tergabung dalam Yayasan Merah Putih.

“BP Batam mempersiapkan lahan. Sinergi ini adalah hal pertama yang dilakukan. Di lain (daerah) pasti dibiayai (Presiden) Prabowo, tapi di Batam akan dilakukan oleh pelaku usaha,” ujarnya.

Sekolah Terintegrasi Merah Putih dibangun di atas lahan seluas 18 hektare di kawasan Rempang. Kawasan pendidikan tersebut dirancang terintegrasi untuk jenjang SD, SMP hingga SMA, dengan sejumlah fasilitas pendukung seperti asrama, kolam renang, lapangan olahraga, gedung serbaguna dan rumah ibadah.

Bagi Amsakar, pembangunan sekolah di kawasan hinterland menjadi penting karena Batam membutuhkan generasi muda yang mampu mengikuti perkembangan industri dan persaingan global.

“Yang kita lakukan di wilayah hinterland, wilayah pinggirnya Batam. Batam ini membutuhkan generasi unggul,” katanya.

Ia mengatakan, pertumbuhan industri Batam turut mengubah kebutuhan terhadap sumber daya manusia. Dunia kerja membutuhkan keterampilan yang selaras dengan sektor-sektor yang berkembang, mulai dari logistik, shipyard, manufaktur, teknologi informasi, programmer hingga tenaga teknik.

Sekolah Terintegrasi Merah Putih di Rempang Mulai Dibangun, Ditargetkan Rampung Akhir Tahun 2028

“Dengan perkembangan industri sekarang, diperlukan ilmu yang terkait dengan logistik, berkaitan dengan shipyard, industri manufaktur, IT, programmer, tenaga teknik. Dari beberapa ini sudah terlihat ke arah mana tenaga kerja,” ujarnya.

Karena itu, menurut Amsakar, pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan pola konvensional. Kemampuan yang dimiliki lulusan harus dapat menjawab kebutuhan dunia kerja.

“Gaya konvensional dan ilmu biasa saja tidak diperlukan oleh Batam. Apa yang kita lakukan saat ini untuk menjawab itu. Susah dapat kerja, skill yang kita miliki dengan sejalan dengan kebutuhan,” kata Amsakar.

Ia berharap Sekolah Terintegrasi Merah Putih dapat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak di kawasan hinterland, sekaligus menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi yang mampu bersaing.

“Mudah-mudahan dapat menampung anak-anak hinterland. Untuk menang dalam kompetensi global ini adalah pendidikan,” ujarnya.

Perwako Pariwisata Batam Disiapkan, Pelaku Usaha Ingin Ada Aturan Main yang Jelas

Amsakar kemudian mengajak seluruh pihak menjaga sinergi dalam pembangunan sekolah tersebut. Ia meminta dukungan terhadap pembangunan tidak diwarnai pembahasan yang kontraproduktif.

“Hari ini kita hadir bersama untuk menciptakan groundbreaking. Ayo satukan hati dan langkah. Kurangi diskusi yang kontraproduktif. Kebijakan ini berguna bagi anak-anak. Selama kita bertekad, insyaallah jalannya selalu ada,” katanya.

Amsakar Kenang Perjuangan Menempuh Pendidikan

Dalam kesempatan itu, Amsakar juga mengaitkan pembangunan sekolah tersebut dengan pengalaman pribadinya dalam memperoleh pendidikan.

Ia mengenang masa ketika harus menempuh perjalanan jauh untuk bersekolah di kampung halamannya di Kabupaten Lingga. Saat SD, Amsakar berjalan kaki sekitar empat kilometer. Ketika SMP, jarak yang ditempuh mencapai sekitar 16 kilometer dengan sepeda. Sementara saat SMA, ia tinggal bersama pamannya dan menempuh perjalanan sekitar enam kilometer dengan sepeda.

“Saya SD jalan 4 km, SMP 16 km naik sepeda, bolak balik 23 km. Masuk jam 1, jam 11 berangkat. SMA saya tinggal dengan paman 6 km naik sepeda,” tuturnya.

Keinginan melanjutkan pendidikan, kata Amsakar, kemudian membawanya merantau ke Pekanbaru pada 1985. Ia menjalani berbagai aktivitas untuk bertahan hidup, termasuk membuat makalah untuk orang lain, aktif berorganisasi dan mendapatkan beasiswa.

“Cara hidup di sana menjual otak, buat makalah orang, aktif berorganisasi. Kemudian saya juga dapat beasiswa dari Pak Harto. Kemudian lolos ASN dan terdampar di Batam,” ujarnya.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu latar belakang perhatian Amsakar terhadap akses pendidikan, terutama bagi anak-anak di kawasan hinterland. Ia mengenang masa kecilnya ketika bersama sembilan saudara lainnya bertahan hidup dari keluarga yang bergantung pada pekerjaan sebagai nelayan dan kondisi cuaca.

“Saya mendapat pendidikan berat. Kami 10 kakak-adik bertahan hidup dengan nelayan yang bergantung dengan cuaca,” katanya.

Dari pengalaman itu pula, Amsakar berharap anak-anak dari Galang, Bulang dan Belakang Padang memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik dan kelak turut mewarnai pembangunan Batam.

“Mimpi saya Indonesia Emas ada anak Galang, Bulang, Belakang Padang yang tampil. Dapat mewarnai perjalanan Batam ke depan,” kata Amsakar.

Ia berharap pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih dapat berjalan sesuai rencana dan ditargetkan selesai untuk diresmikan pada 2028.

“Mudah-mudahan 2028 bisa diresmikan,” pungkasnya.

Dibangun dengan Konsep Kawasan Pendidikan Terintegrasi

Ketua Pengurus Yayasan Merah Putih Eddy Hussy mengatakan groundbreaking menjadi penanda dimulainya perjalanan pembangunan sekolah yang dirancang sebagai kawasan pendidikan terpadu tersebut.

“Hari ini merupakan groundbreaking atau pemancangan. Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kota, BP Batam dan seluruh pihak yang mendukung,” kata Eddy.

Selain fasilitas pendidikan untuk jenjang SD, SMP dan SMA, kawasan tersebut akan dilengkapi lapangan olahraga, kolam renang, gedung serbaguna, masjid, gereja serta asrama bagi guru dan murid.

“Dalam pembangunan kami akan selalu berkoordinasi dengan BP Batam. Sekolah di sini cukup lengkap. Ada lapangan olahraga, kolam renang, gedung serbaguna, masjid, gereja dan asrama bagi guru dan murid,” ujarnya.

Eddy mengatakan desain kawasan telah disiapkan dengan melibatkan tenaga profesional. Konsultan pembangunan dipimpin PT Airmas dengan Riza sebagai senior arsitek, didukung konsultan infrastruktur, landscape, interior dan quantity surveyor (QS).

Ia memastikan dana yang dihimpun dari para donatur akan digunakan secara profesional dan pembangunan diawasi agar kualitas maupun waktu pengerjaan sesuai perencanaan.

“Para donatur, duit yang bapak ibu sumbangkan kami gunakan dengan profesional. Kami menerima kritikan dan kami akan mengawasi pembangunan ini dengan baik. Agar kualitas dan waktu sesuai dengan yang direncanakan,” katanya.

Sementara itu, Direktur Operasional PT MEG Michael Wilson mengapresiasi dukungan pemerintah pusat, pemerintah daerah dan para donatur terhadap pembangunan sekolah tersebut.

“Kami menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, donatur, pemda. Terima kasih atas komitmennya sebagai bagian Indonesia Emas. Tak hanya meletakkan batu pertama, tapi batu harapan dari setiap anak,” kata Michael.

Ia berharap ruang-ruang kelas di Sekolah Terintegrasi Merah Putih kelak melahirkan generasi muda yang mampu menggapai berbagai cita-cita dan memberikan kontribusi bagi bangsa.

“Kami berharap dari ruang kelas ini bisa melahirkan anak-anak yang sukses dan generasi muda bisa mencapai cita-citanya. Ada yang menjadi dokter, menteri, presiden, dan lain sebagainya. Kami akan selalu mendukung Sekolah Terintegrasi Merah Putih ini,” ujarnya.

Eddy menegaskan, sekolah tersebut tidak hanya ditujukan sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai lingkungan untuk membentuk karakter dan menyiapkan anak-anak menghadapi masa depan.

“Tak hanya tempat belajar, tapi tumbuh sebagai anak yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Anak-anak bisa belajar dan mengenali bangsa dan dirinya,” ujarnya.

Ia berharap pembangunan sekolah tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia yang tangguh sekaligus mampu menghadapi tantangan masa depan.

“Keberadaan sekolah ini, harapan kami menjadi bagian menyiapkan SDM yang tangguh dan menghadapi tantangan masa depan,” katanya.

Menurut Eddy, groundbreaking tersebut baru merupakan pemancangan awal dari perjalanan panjang pembangunan sekolah. Karena itu, ia meminta dukungan seluruh pihak agar Sekolah Terintegrasi Merah Putih dapat terwujud sesuai cita-cita.

“Groundbreaking merupakan pemancangan awal untuk perjalanan yang panjang. Kami juga memohon dukungan. Sekolah ini bisa terwujud, ada orang yang cukup berjasa, yaitu Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batam. Ini semoga menjadi contoh sekolah pertama di Indonesia. Tujuannya mulia, mencerdaskan bangsa. Saya berharap dukungan semua pihak,” tuturnya. (emr)

Berita Terbaru



Batam




Kepri




Berita Populer

01

CIMB Niaga Raih Dua Penghargaan Internasional di Bidang Pembiayaan Hijau

02

Sambut Kajati Kepri, Bupati Cen Sui Lan Tekankan Penguatan Sinergi dan Tata Kelola Pemerintahan di Natuna

03

Groundbreaking Sekolah Terintegrasi Merah Putih di Rempang, Amsakar: Pendidikan Kunci Hadapi Kompetisi Global

04

Data Center Bangun SWRO Mandiri, Kepala BP Batam: Investasi Tidak Boleh Menganggu Suplai Air Masyarakat