Advertisement
Ekonomi Kepri Natuna

DBH Natuna Dipangkas 50 Persen, Daerah Alami Tekanan Fiskal dan Gandeng OJK Jaga Ekonomi

Sekda Natuna saat memimpin rapat koordinasi Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) bersama OJK Kepri dan perbankan di Kantor Bupati Natuna.

Natuna, Ariranews.com – Pemerintah Kabupaten Natuna menghadapi tekanan fiskal setelah Dana Bagi Hasil (DBH) yang diterima daerah terdampak kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat dengan pemangkasan sekitar 50 persen. Kondisi tersebut dinilai berpengaruh terhadap ruang fiskal pemerintah daerah sekaligus berpotensi memperlambat perputaran ekonomi masyarakat.

Untuk menjaga aktivitas ekonomi tetap bergerak, Pemkab Natuna menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kepulauan Riau dan jajaran perbankan melalui penguatan akses pembiayaan masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta sektor perikanan.

Upaya tersebut dibahas dalam rapat koordinasi Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) bersama OJK Kepri dan perbankan di Kantor Bupati Natuna, Kamis (1/10/2026). Rapat dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Natuna, Boy Wijanarko.

Dalam rapat tersebut, Boy mengatakan tekanan fiskal masih menjadi salah satu tantangan utama pemerintah daerah dalam menjaga aktivitas ekonomi masyarakat.

‎12 Tahun Rawat Mangrove Senggalong, Arpandi Apresiasi Kunjungan Bupati Anambas

Menurutnya, kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat turut berdampak terhadap penerimaan daerah, termasuk DBH yang selama ini menjadi salah satu sumber penting dalam menopang kemampuan fiskal Kabupaten Natuna.

“Dengan adanya efisiensi yang begitu masif dari negara, dana bagi hasil kita juga terdampak. Sekarang dipotong sekitar 50 persen,” kata Boy.

Selain pemangkasan DBH, Pemkab Natuna juga masih menunggu pembayaran kurang bayar untuk tahun anggaran 2023 dan 2024.

Menurut Boy, kondisi tersebut turut memengaruhi kemampuan fiskal daerah. Padahal, apabila pembayaran kurang bayar tersebut telah diterima, dana tersebut dapat kembali berputar dan memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

“Kurang bayar kita belum dibayarkan untuk 2023 dan 2024. Ini menjadi perhatian kita. Belum dibayar cukup sehingga memengaruhi fiskal dan pertumbuhan ekonomi di masyarakat. Karena kalau itu dibayarkan, perputaran ekonomi juga akan lebih cepat,” ujarnya.

Boy menjelaskan, kemampuan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Natuna masih relatif terbatas. Karena itu, dukungan transfer dari pemerintah pusat tetap memiliki peran penting dalam menjaga ruang fiskal daerah.

Ditanami 150 Mangrove, Pantai Senggalong Diproyeksikan Jadi Wisata Konservasi‎

Di sisi lain, aktivitas ekonomi Natuna saat ini masih cukup banyak ditopang oleh belanja aparatur sipil negara (ASN). Kondisi tersebut membuat keterlambatan pembayaran hak-hak ASN berpotensi memberikan dampak berantai terhadap pelaku usaha dan UMKM.

“Kalau TPP kita belum cair sampai tiga atau empat bulan, itu akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi, terutama UMKM. Karena perputaran ekonomi kita juga masih banyak ditopang oleh ASN,” katanya.

Atas kondisi tersebut, Boy mendorong seluruh pemangku kepentingan, mulai dari OJK, perbankan, lembaga jasa keuangan, pelaku UMKM hingga sektor perikanan, untuk mencari skema bersama yang dapat mempercepat perputaran ekonomi daerah.

Selain persoalan fiskal, akses pembiayaan masyarakat menjadi salah satu perhatian dalam pembahasan TPAKD. Boy berharap perbankan dan lembaga jasa keuangan dapat memperluas dukungan pembiayaan bagi UMKM dan nelayan sesuai kebutuhan serta kemampuan masyarakat.

Menurutnya, akses pembiayaan yang sehat dan aman diperlukan agar masyarakat memperoleh modal usaha tanpa terjebak pada pinjaman yang memiliki risiko maupun beban yang tidak dipahami sejak awal.

PLN Batam Komitmen Dukung Pertumbuhan Data Center dan Ekonomi Digital

Boy juga menyoroti keberlanjutan aktivitas ekonomi sektor perikanan yang menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat Natuna.

Karena itu, pemerintah daerah menilai perlu dilakukan diversifikasi dan penguatan sektor ekonomi lainnya agar aktivitas masyarakat tetap berjalan ketika sektor tertentu mengalami perlambatan.

Boy berharap kolaborasi Pemkab Natuna dengan OJK, perbankan dan lembaga jasa keuangan tidak hanya berorientasi pada penyaluran pembiayaan, tetapi juga mampu memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat hingga tingkat desa dan kelurahan.

Upaya tersebut, kata dia, dapat dikaitkan dengan pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih dan Koperasi Merah Putih yang diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi secara berkelanjutan.

“Kita ingin bagaimana mengakselerasikan seluruh pertumbuhan ekonomi ini supaya seiring dan sejalan. Jangan sampai ekonomi mandek, karena kalau mandek, sirkulasi keuangan dan perputaran ekonomi juga ikut mandek,” kata Boy.

Ia menegaskan, Pemkab Natuna terbuka terhadap pembahasan bersama OJK dan pelaku industri jasa keuangan untuk mencari solusi yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.

“Kita buka diskusi bagaimana win-win solution ke depan untuk pertumbuhan ekonomi kita lebih cepat, khususnya di desa maupun kelurahan,” ujarnya.

Tekanan fiskal akibat pemangkasan DBH serta belum dibayarkannya kurang bayar tahun anggaran 2023 dan 2024 menjadi tantangan bagi Pemkab Natuna dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.

Penguatan UMKM, sektor perikanan, serta perluasan akses pembiayaan melalui perbankan menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk menjaga perputaran ekonomi dan daya beli masyarakat di tengah ruang fiskal yang semakin terbatas.

(Dod)

Berita Terbaru



Batam




Kepri




Berita Populer

01

Jom Jelajah Johor 2026: Dari Danga Bay, Menikmati Tembikar hingga Festival Kopi Kluang

02

‎12 Tahun Rawat Mangrove Senggalong, Arpandi Apresiasi Kunjungan Bupati Anambas

03

Ditanami 150 Mangrove, Pantai Senggalong Diproyeksikan Jadi Wisata Konservasi‎

04

PLN Batam Komitmen Dukung Pertumbuhan Data Center dan Ekonomi Digital