Lingga  

Rumah Pengrajin Tekat Encek Zulaika dan Tenun Lingga, Membawa Warisan Budaya ke Pasar Mancanegara

Avatar photo
Pemilik Rumah Tekat Encek Zulaika, Leni Rusnika, memperlihatkan hasil kerajinan yang telah jadi dan sudah ada yang memesannya jauh hari.

AriraNews.com, LINGGA — Dari sebuah rumah sederhana di Kampung Tembaga, kawasan Masjid Sultan Lingga, Kabupaten Lingga, produk kerajinan tangan karya perempuan setempat kini tak hanya dikenal di pasar lokal. Berkat ketekunan para pengrajin dan dukungan peralatan produksi dari Bank Indonesia (BI), usaha mereka berkembang hingga menembus pasar internasional.

Salah satunya adalah Rumah Tekat Encek Zulaika yang dikelola Leni Rusnika bersama para pengrajin di dalam kelompoknya. Usaha tersebut mulai dirintis sejak 2021 dan kemudian diresmikan oleh Bupati Lingga.

Leni mengembangkan kerajinan tekat atau yang lebih dikenal dengan Tudung Manto dengan memanfaatkan keterampilan yang sebelumnya ia pelajari dari seorang teman. Seiring bertambahnya pesanan, ia kemudian berinisiatif membentuk kelompok sendiri agar keterampilan tersebut dapat menjadi sumber penghasilan bagi ibu-ibu rumah tangga di sekitarnya.

“Belajar dari teman. Setelah sudah pintar dan pesanan semakin banyak, saya punya inisiatif membuat kelompok sendiri untuk membantu ibu-ibu rumah tangga supaya punya penghasilan sendiri,” ujarnya, saat menerima kunjungan sejumlah wartawan dari Batam dan Bank Indonesia Kepri, dalam rangka Road to Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026, Selasa (11/8/2026).

Pemilik Rumah Tekat Encek Zulaika, Leni Rusnika, memperagakan cara menekat kain dengan benang khusus dari perak yang nantinya menghasilkan Tudung Manto.

Kini, kelompok tersebut beranggotakan sekitar 12 orang. Para pengrajin tidak hanya bekerja di satu tempat, tetapi sebagian mengerjakan pesanan dari rumah masing-masing.

Dalam proses pengembangan usaha, Leni mendapat dukungan dari Bank Indonesia berupa bantuan mesin produksi. Bantuan tersebut terdiri dari lima mesin obras dan lima mesin jahit.

BACA JUGA:  Pantai Dungun Daik, Surga Tersembunyi di Lingga dengan Pasir Putih Membentang Lebih Satu Kilometer yang Masih Alami

Peralatan itu membuat kapasitas produksi kelompok menjadi lebih baik. Selain mengerjakan kerajinan tekat atau sulaman, kelompok tersebut juga memproduksi pakaian, termasuk baju kurung.

“Selain saya nekat, saya juga mendapat bantuan dari BI berupa mesin. Kami juga mengelola untuk membuat baju kurung,” kata Leni.

Produk yang mereka hasilkan kini telah dipasarkan ke luar Indonesia. Pesanan datang dari sejumlah negara, di antaranya Malaysia, Singapura, hingga Australia.

Pemasaran dilakukan secara daring dengan mengandalkan jejaring pertemanan di luar negeri. Sejumlah teman sekolah Leni yang tinggal di negara tersebut ikut membantu memperkenalkan dan mempromosikan produknya.

“Mereka tahu saya membuat ini, kemudian mereka yang membantu promosi di sana,” tuturnya.

Produk kerajinan tersebut dibanderol mulai dari sekitar Rp2,5 juta hingga Rp4 juta, tergantung jenis dan tingkat kerumitan pengerjaannya.

Meski telah menjangkau pasar internasional, proses produksi masih dilakukan secara bertahap karena para pengrajin juga memiliki pekerjaan lain. Dalam kondisi pesanan rutin, kelompok dapat mengerjakan beberapa produk dalam sebulan.

Leni berharap pendampingan Bank Indonesia dapat terus berlanjut, terutama dalam pengembangan kapasitas produksi dan pemasaran.

“Harapannya BI terus membimbing saya, jangan bosan-bosan dan memberikan bantuan lagi,” katanya.

BACA JUGA:  Tugu Khatulistiwa Lingga: Jejak Garis Nol di Bunda Tanah Melayu

Rumah Tenun Lingga

Pengembangan kerajinan berbasis budaya lokal juga dilakukan di Rumah Tenun Lingga. Kelompok yang dipimpin Ismawati ini berada di bawah pembinaan Dekranasda Lingga dan mendapat dukungan Bank Indonesia. Rumah produksi Rumah Tenun Lingga tepat di depan Museum Linggam Cahaya, di Jalan Raja Muhammad Yusuf, Kampung Damnah, Tanda Hulu, Daik, Kabupaten Lingga.

Di tempat tersebut, para pengrajin memproduksi kain tenun menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Saat ini tersedia lima unit ATBM yang digunakan untuk mendukung aktivitas produksi.

Ismawati, Pimpinan Rumah Tenun Lingga, memperlihatkan hasil kain tenun yang telah jadi dan bernilai jutaan rupiah per lembarnya.

Ismawati mengatakan para pengrajin yang bekerja di Rumah Tenun Lingga bukan pegawai pemerintah. Mereka merupakan masyarakat dan pengrajin yang mendapatkan penghasilan dari hasil kain yang diproduksi.

“Tidak digaji. Mereka mendapatkan dari hasil kain,” ujar Ismawati.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat, termasuk anak muda yang masih bersekolah, terbuka selama mereka memiliki kemauan untuk belajar dan bekerja.

Keberadaan Rumah Tenun Lingga sekaligus menjadi ruang untuk mempertahankan keterampilan menenun sebagai bagian dari identitas budaya daerah. Di tengah perkembangan produk kerajinan kekinian, para pengrajin tetap membawa unsur tradisi Lingga dalam karya yang mereka hasilkan.

Salah seorang pengrajin di Rumah Tenun Lingga, dengan teliti merangkai benang motif di alat tenun bukan mesin (ATBM).

Dukungan peralatan produksi dari Bank Indonesia menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat aktivitas para pelaku UMKM tersebut. Bantuan tidak hanya mendorong peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga membuka peluang bagi produk kerajinan Lingga untuk dikenal lebih luas.

BACA JUGA:  Menelusuri Jejak Sultan Mahmud Riayat Syah di Daik Lingga, Sang Pahlawan Nasional yang Bersemayam di Balik Masjid Jami

Dari tangan para pengrajin di Kampung Tembaga, karya berbasis tradisi kini bergerak melampaui batas daerah. Produk yang lahir dari rumah-rumah sederhana di Lingga mulai menemukan pasar hingga ke mancanegara.

Kabupaten Lingga, yang dikenal sebagai
Bunda Tanah Melayu, memiliki warisan sejarah Kesultanan Riau-Lingga, kekayaan budaya, serta potensi sumber daya lokal yang menjadi fondasi dalam membangun ekonomi yang berakar pada nilai -nilai kearifan lokal.

Pelestarian dan penguatan warisan Melayu tidak hanya menjadi upaya menjaga identitas budaya, tetapi juga dapat menjadi penggerak transformasi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan melalui pengembangan sektor UMKM, ekonomi kreatif, pariwisata, serta industri berbasis budaya.

Sejalan dengan tema Gebyar Melayu Pesisir (GMP) tahun 2026 “Penguatan Warisan Melayu untuk Transformasi Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan”, pengembangan ekonomi daerah perlu diarahkan pada optimalisasi potensi lokal yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Warisan budaya Melayu menjadi diferensiasi yang mampu
meningkatkan daya saing produk unggulan daerah, baik berupa kuliner, kriya, fesyen,
maupun produk berbasis sumber daya alam lokal. Dengan mengintegrasikan nilai budaya ke dalam aktivitas ekonomi, masyarakat tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi, tetapi juga terdorong untuk menjaga keberlanjutan budaya dan lingkungan sebagai aset pembangunan jangka panjang. (qori)