Batam  

Jumlah Permintaan Hewan Kurban di Batam Tahun 2026 Diperkirakan Menurun

Avatar photo
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Batam, Mardanis.

AriraNews.com, BATAM – Ketersediaan hewan kurban di Kota Batam menjelang Idul Adha dipastikan dalam kondisi aman, bahkan diperkirakan mengalami kelebihan stok. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Batam, Mardanis, menyebutkan tren permintaan tahun ini kemungkinan mengalami penurunan seiring kondisi ekonomi yang lesu.


“Secara ketersediaan pasti cukup, bahkan berlebih. Tapi tren tahun ini mungkin turun karena kondisi ekonomi,” ujar Mardanis saat berada di Batam Centre, Kota Batam, Kepri, Selasa (28/4/2026).

BACA JUGA:  Batam Pertahankan WTP 14 Tahun Beruntun, Amsakar Ingatkan OPD Tindak Lanjuti Catatan BPK

Ia memperkirakan jumlah hewan kurban yang tersedia mencapai sekitar 3.000 ekor sapi dan 6.000 ekor kambing. Hewan-hewan tersebut didatangkan dari berbagai daerah seperti Lampung, Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan pasokan terbanyak berasal dari Lampung.


Seluruh distribusi hewan kurban ke Batam dilakukan melalui jalur laut yang dinilai lebih aman. Setibanya di Batam, hewan-hewan tersebut langsung ditempatkan di kawasan Temiang untuk menjalani pemeriksaan.

BACA JUGA:  HARRIS Barelang Batam Hadirkan Yoga Tepi Laut, Beach Games untuk Liburan Keluarga Menyenangkan Selama Juni 2026

Untuk memastikan kesehatan hewan kurban, pemerintah membentuk tiga tim pengawasan yang terdiri dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, pihak karantina, serta Ikatan Dokter Hewan Batam. Tim ini bertugas melakukan pengecekan fisik terhadap hewan yang telah berada di kandang.


“Hewan yang sehat akan diberi label. Yang tidak memiliki label dinyatakan tidak boleh dijual,” tegasnya.

BACA JUGA:  Suplai Air di Taman Baloi hingga Sukajadi Terganggu, BP Batam Lakukan Perbaikan Darurat

Mardanis juga mengakui bahwa Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih menjadi perhatian. Namun, ia memastikan setiap hewan yang masuk ke Batam telah melalui uji laboratorium secara ketat.


“PMK itu masih ada, tapi semua hewan yang masuk sudah dicek di laboratorium. Kalau terindikasi PMK, tidak boleh masuk,” jelasnya.(emr)