AriraNews.com, Internasional – Selain Sri Lanka sejumlah negara juga pernah mengalami hal yang sama. Negara-Negara tersebut gagal membayar utang luar negerinya. Akibatnya terjadi krisis di dalam negeri. Kelangkaan bahan pokok, bahan bakar, dan obat-obatan pun terjadi.
Berikut negara yang pernah gagal bayar utang luar negeri:
- Yunani
Yunani tak bisa membayar utang senilai US$138 miliar atau Rp1.987 triliun (kurs Rp14.400 per dolar AS) pada 2012 lalu.
Kemudian, Yunani disebut-sebut menyandang status bangkrut pada 2015 karena utang terus meningkat hingga US$360 miliar atau Rp5.184 triliun. Kenaikan utang membuat jumlah orang miskin di Yunani melonjak.
Jumlah tunawisma naik hingga 40 persen pada 2015. Sementara, pengangguran naik dari 10,6 persen pada 2004 menjadi 26,5 persen pada 2014.
Yunani kini mulai kembali ke pasar obligasi internasional sejak 2017. Negara itu sempat menghilang akibat krisis utang.
Tahun lalu, Yunani menerbitkan obligasi bertenor tujuh tahun, 10 tahun, dan 15 tahun. Negara tersebut memperoleh dana segar sebesar 12 miliar euro.
Dengan penerbitan obligasi pada 2020, rasio utang Yunani diprediksi mencapai 188,8 persen dengan nilai utang 337 miliar euro, naik dari posisi 2019 yang sebesar 331 miliar euro.
- Argentina
Argentina dinyatakan gagal bayar (default) karena tak bisa melunasi utang ke kreditur. Hal ini berawal dari kebijakan pemerintah Argentina yang mematok US$1 sama dengan 1 peso Argentina.
Namun, mata uang Argentina dengan dolar AS menjadi tidak akurat. Situasi itu menimbulkan kepanikan, sehingga banyak masyarakat yang menarik uang di bank.
Pada 2005 dan 2010, Argentina mengumpulkan seluruh kreditur untuk berdiskusi terkait restrukturisasi utang senilai US$100 miliar atau Rp1.440 triliun. Beruntung, mayoritas kreditur setuju dengan skema restrukturisasi yang ditawarkan Argentina.
- Zimbabwe
Zimbabwe terlilit utang hingga US$4,5 miliar atau Rp64,8 triliun pada 2008. Tingkat pengangguran Zimbabwe juga melonjak hingga 80 persen.
Masyarakat Zimbabwe berhenti menggunakan bank. Bahkan, mereka juga berhenti membayar pajak dan tak menggunakan mata uang nasional sebagai alat transaksi jual beli.
Zimbabwe juga mengalami hiperinflasi. Masyarakat tak lagi bisa menjangkau harga bahan-bahan pokok.
Dengan demikian, uang seperti tak berarti bagi masyarakat Zimbabwe selama harga barang terus melonjak. Mereka lebih memilih sistem barter.
- Venezuela
Pada 2017, Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan pemerintahannya tak bisa membayar seluruh utangnya. Ia mengaku Venezuela dan perusahaan minyak negara tersebut akan meminta restrukturisasi terhadap pembayaran utang.
Maduro mengatakan perusahaan minyak negara telah membayar utang sebesar US$1,1 miliar atau Rp1.584 triliun. Jumlah itu disebut-sebut cukup besar untuk untuk sebuah negara yang saat ini hanya memiliki dana US$10 miliar atau Rp144 triliun di bank.
- Ekuador
Ekuador menyatakan tak mau membayar utang pada 2008 lalu. Pemerintah mengatakan utang dari hedge fund asal AS tak bermoral.
Ekuador sebenarnya mampu untuk membayar utang yang mencapai US$10 miliar atau Rp144 triliun. Negara itu memiliki sumber daya alam cukup banyak
Namun, pemerintah lebih memilih tak membayar utang. Pemerintah saat itu mengklaim utang negara di masa lalu disebabkan aksi korupsi di pemerintahan sebelumnya.(emr)
Sumber: CNN Indonesia.








