Ariranews.com, Natuna – Kalimat “Kalau bukan kita yang bantu kampung kita, siapa lagi?” bukan sekadar slogan bagi Bang Wan Safri, atau yang akrab disapa BWS. Ia adalah sosok inspiratif yang kini dikenal luas sebagai pengusaha sukses sekaligus dermawan yang memilih pulang ke kampung halaman untuk membangun Natuna.
Di sebuah sore yang teduh di tepi laut Ranai, BWS membuka kisah hidupnya yang penuh perjuangan dari anak nelayan di Pulau Seluan hingga menjadi figur penting dalam gerakan sosial dan pembangunan daerah.
Dari Anak Nelayan Menuju Jalan Kesuksesan
Lahir dari keluarga sederhana, hidup Bang Wan Safri berubah sejak usia tiga tahun akibat perceraian orang tuanya. Ia kemudian dititipkan kepada kakeknya, Aki Tokesn, di Pulau Seluan.
“Ibu saya, almarhumah Partini, harus merantau ke Pinang dan Batam. Ayah pun menikah lagi dan tinggal di Sedanau,” kenangnya, Selasa 22/7/2025
Sejak kecil, ia terbiasa melaut hingga tiga malam lamanya. Bila tangkapan ikan bagus, ia membantu menjual; jika tidak, makan seadanya. “Kadang hanya ubi cincang dan nasi. Kadang-kadang hanya ubi saja,” kenangnya.
Pendidikan dalam Keterbatasan
BWS memulai pendidikan di SDN Seluan. Ia sangat menghargai jasa kepala sekolahnya, almarhum Wan Kasim, yang membebaskannya dari biaya sekolah dan bahkan memberi beras setiap bulan.
Saat kelas lima SD, ibunya menjemputnya ke Batam. Ia sempat belajar di MTs Sedanau, lalu mondok di Pesantren Darul Falah, dan menamatkan SMA di Hang Tuah Bengkong Polisi, Batam.
Untuk bertahan hidup, ia menginap di masjid, bekerja di minimarket sekolah, dan malamnya menjadi tukang ojek.
Dari Tukang Las ke Dunia Investasi
Usai SMA, BWS menjajal berbagai pekerjaan: membuka warnet, usaha tiket pesawat, hingga menjadi tukang las kapal di Tanjung Uncang. Titik balik datang saat ia bergabung dengan perusahaan broker valas asal Rusia. Dari seorang marketing, ia berkembang menjadi trader dan investor.
“Saat rezeki mulai datang, saya tidak lupa kampung halaman. Saya ikhlaskan diri untuk Natuna,” ucapnya mantap.
Bakti Nyata untuk Kampung Halaman
BWS aktif dalam kegiatan sosial: membagikan sembako, membantu renovasi rumah, memberi bantuan tunai untuk warga kurang mampu, hingga membuka lapangan kerja.
“Saya dokumentasikan bukan untuk pamer, tapi untuk memberi motivasi. Bantu kampung tidak harus jadi pejabat,” tegasnya.
Kini, ia mendirikan Yayasan Natuna Pulau Tujuh dan membuka apotek di Pulau Sedanau. Ia juga tengah mengupayakan agar program makan bergizi dari Presiden Prabowo dapat dinikmati masyarakat Sedanau dan sekitarnya.
“Program ini bagus, bisa menyerap tenaga kerja lokal dan bantu anak-anak makan sehat,” katanya.
Gerakan Pemuda Natuna dan Turnamen Rakyat
BWS juga menggagas berdirinya Gerakan Pemuda Natuna (GPN) sebagai wadah anak muda untuk bersuara dan ikut mengawasi program pemerintah. Pada Agustus mendatang, ia akan menggelar turnamen bola voli di Pantai Piwang, Ranai, dengan total hadiah Rp67,5 juta.
“Saya ingin anak muda punya ruang berekspresi dan masyarakat bangga dengan daerahnya,” ujarnya.
Komitmen untuk Nelayan dan Infrastruktur
BWS menegaskan bahwa jika diberikan rezeki lebih, ia ingin memulai program bantuan untuk para nelayan, mulai dari perlengkapan tangkap, budidaya laut, hingga perbaikan infrastruktur kampung.
“Saya pernah berada di titik paling lemah, jadi saya tahu rasanya. Dan saya percaya, kalau bukan kita yang bantu kampung, siapa lagi?” tandasnya.
Pesan untuk Para Pejabat dan Pengusaha
Menutup perbincangan, BWS menyampaikan pesan menyentuh bagi mereka yang telah berada dalam posisi nyaman:
“Saya bukan anak orang kaya. Saya besar karena peluh dan air mata. Tapi ketika hidup cukup, yang terbaik bukan menumpuk, tapi memberi,” pungkasnya. (dod)








