Batam

Pengembangan Rempang Eco City Peluang Batam Jadi Pusat Hilirisasi Silika dan Panel Surya

AriraNews.com, Batam – Investasi Xinyi Group di Rempang Eco City berhubungan dengan proyek penghiliran pasir kuarsa atau silika yang menjadi bahan baku panel surya. Batam berpeluang menjadi kawasan pemasok panel surya dan semikonduktor untuk pasar ekspor.

Xinyi memilih masuk Rempang, Batam karena luasnya kebutuhan lahan untuk membuat pabrik kaca dan pansel surya. Mereka membutuhkan lahan seluas 2.000 hektare.

Rencana ini pernah terungkap ketika Menteri Investasi Bahlil Lahadalia berkunjung ke pabrik Xinyi di Wuhu, China. “Kita punya pasir kuarsa, silika, yang selama ini kita ekspor raw material (mentah). Dengan membangun ekosistem pabrik kaca dan panel surya, ini merupakan bagian hilirisasi di sektor pasir kuarsa,” ujar Bahlil.

Batam menjadi pilihan untuk membangun pabrik panel surya usai pemerintah mengincar peluang ekspor listrik ke Singapura. Panel surya menjadi pilihan karena Singapura menghendaki listrik dari sumber energi baru terbarukan.

Pemerintah kemudian memberikan syarat supaya ekspor listrik itu mendapat izin. Pemerintah menghendaki panel surya tersebut dibuat di dalam negeri. Batam, Kepulauan Riau, menjadi fokus utama pemerintah menentukan lokasi ekosistem panel surya dan PLTS.

Kesepakatan ekspor listrik EBT sudah disahkan pada 8 September 2023. Kementerian ESDM dan Singapura sepakat soal jual beli listrik sebesar 2 gigawatt. Ada delapan perusahaan yang mendapat izin. Sejauh ini, baru Pulau Bulan, Batam, yang dipastikan menjadi salah satu lokasi dibangunnya PLTS.

Dengan adanya rencana tersebut, Xinyi pun kini berpeluang menjadi pamasok panel surya. Xinyi akan berinvestasi senilai USD11,5 miliar atau setara Rp175 triliun.

Xinyi Glass adalah produsen kaca terbesar di dunia yang menguasai 26 persen pangsa pasar. Menurut Bahlil, Xinyi berminat menanamkan investasi karena Indonesia memiliki pasir kuarsa dan silika sebagai bahan baku kaca dan panel surya. “Sekitar 90 persen hasil produksi untuk kebutuhan ekspor, sisanya untuk dalam negeri,” ucap Bahlil.

Ekosistem Panel Surya dan Semikonduktor

Sedangkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan, menyampaikan pemerintah berencana melakukan hilirisasi terhadap pasir silika atau pasir kuarsa.

Luhut mengatakan bahwa rencana ini dilakukan untuk membangun industri panel surya dan berharap dapat membangun semikonduktor di Indonesia. “Anda tahu kita punya banyak silika. Jadi nanti kita akan membangun fotovoltaik, kemudian panel surya, kemudian pada akhirnya mungkin kita bisa membangun semikonduktor,” kata Luhut dalam sesi konferensi pers Indonesia Sustainability Forum (ISF) di Park Hyatt, Kamis (7/9/2023).

Luhut menjelaskan bahwa rencana hilirisasi pasir kuarsa ini untuk mengembangkan potensi energi terbarukan yang ada di Indonesia saat ini. Selain itu, hilirisasi juga akan menambah pendapatan dari Indonesia dan tidak hanya mengeskpor bahan mentah ke negara-negara lainnya tapi bahan yang sudah jadi.

“Kita tidak hanya mengeskpornya, kita juga bisa membangunnya di sini. Karena kita mempunyai banyak potensi energi terbarukan,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan, pemerintah berencana memberlakukan larangan ekspor komoditas pasir kuarsa.

Bahlil menyampaikan, cadangan pasir kuarsa di Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Guna meningkatkan nilai tambahnya, pemerintah mempertimbangkan untuk melakukan pelarangan ekspor.

“Tidak hanya di sektor nikel, kita ingin pasir kuarsa juga dikelola, tidak menutup kemungkinan kita juga mempertimbangkan akan melarang ekspor juga. Terserah orang mau protes, masa negara kita tidak boleh maju,” kata Bahlil.

Hilirisasi komoditas silika berpotensi mendukung pengembangan bahan baku industri semikonduktor.

Selama ini, pengembangan semikonduktor belum optimal sebab Indonesia belum memiliki industri pengolahan silika hingga menjadi wafer silikon, khususnya solar grade silicon (SGS).

Padahal, industri bahan baku semikonduktor memiliki prospek cerah sebagai penghasil devisa dan pencipta lapangan kerja yang besar. Untuk itu, hilirisasi silika menjadi wafer silikon dapat mendukung kemandirian industri photovoltaic (PV) module dan semikonduktor dalam negeri.

Berdasarkan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) Kemenperin, saat ini tercatat ada 21 perusahaan pengolahan pasir silika dengan kapasitas terpasang 738.536 ton per tahun dengan realisasi volume produksi dari 9 perusahaan pada 2022 sebesar 404.755 ton.(ski)

Redaksi

Recent Posts

Tingkatkan Kapasitas Kepemimpinan, Wakil Ketua I DPRD Natuna Ikuti Retreat Nasional di Akmil Magelang

Ariranews.com, Natuna – Dalam upaya meningkatkan kapasitas kepemimpinan, Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Natuna, Daeng…

5 jam ago

Uji Repeater di Gunung Ranai, SAR Natuna Perkuat Sistem Komunikasi Operasi

Ariranews.com, Natuna – Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Natuna melakukan uji fungsi repeater di Gunung…

7 jam ago

Dampak Domino Kenaikan BBM, ALFI Batam: Ongkos Transportasi Naik 100 Persen, Harga Sembako Batam Terancam Melonjak

AriraNews.com, Batam - Harga bahan pokok di Batam terancam melonjak tajam menyusul kenaikan signifikan harga…

1 hari ago

Pembangunan Rumah Wakaf Qur’an BWI Batam Dimulai

AriraNews.com, Batam - Di bawah hangatnya sinar matahari pagi, langkah awal pembangunan Rumah Wakaf Qur’an…

2 hari ago

PLN Batam dan DayOne Wujudkan Data Center Terbesar di Indonesia

AriraNews.com, Batam – PT PLN Batam bersama DayOne melaksanakan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik…

2 hari ago

Dukungan Penuh BP Batam, DayOne Bangun Data Center Kedua, PLN Batam Siap Bangun PLTS Kapasitas 200 MWP

AriraNews.com, Batam - Batam terus mempertegas posisinya sebagai destinasi utama investasi digital di Asia Tenggara.…

2 hari ago