Lingga

Uang SKR di Museum Linggam Cahaya, Mata Uang Kepulauan Riau yang Bisa “Melipat” Sendiri

AriraNews.com, LINGGA — Bukan sulap, bukan sihir. Selembar uang lama yang diletakkan di atas telapak tangan perlahan bergerak, lalu bagian ujungnya terangkat hingga seolah-olah melipat sendiri. Keunikan itu menjadi salah satu daya tarik uang SKR atau uang KR, mata uang yang pernah digunakan di Kepulauan Riau dan kini menjadi bagian dari koleksi Museum Linggam Cahaya di Daik, Kabupaten Lingga.

Uang tersebut merupakan salah satu koleksi numismatika yang disimpan di museum. Selain memiliki nilai sejarah karena pernah menjadi alat pembayaran di Kepulauan Riau sebelum penggunaan rupiah secara nasional, uang SKR juga menyimpan keunikan yang membuatnya menarik perhatian pengunjung.

Staf Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga bidang Sejarah, Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Lazuardi, mengatakan koleksi uang SKR yang ada di Museum Linggam Cahaya merupakan uang asli yang diperoleh melalui hibah dari masyarakat.

“Uang ini menurut penghibah ke museum kita, ada beberapa lembar. Uang ini pernah dipakai sebagai mata uang di Kepulauan Riau dan orang lebih mengenalnya dengan uang SKR atau uang KR,” ujar Lazuardi pada rombongan wartawan dari berbagai media dari Batam saat mengunjungi museum dalam rangka Road to Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026, Selasa (11/8/2026).

Menurutnya, uang Kepulauan Riau tersebut digunakan pada masa peralihan sebelum masyarakat menggunakan rupiah sebagai mata uang yang berlaku secara nasional.

Lazuardi menyebut uang tersebut diterbitkan pada 1964 dan penggunaannya berlangsung relatif singkat, sekitar tiga hingga empat tahun, sebelum kemudian rupiah diberlakukan secara nasional.

“Ini tahun 1964. Lebih kurang sekitar tiga sampai empat tahun saja kita pakai ini. Kemudian baru diterbitkan uang rupiah yang berlaku untuk nasional, untuk semua daerah,” katanya.

Museum Linggam Cahaya, Daik, Lingga. Museum yang berada di Jalan Raja Muhammad Yusuf, Kampung Damnah, Tanda Hulu, Daik, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau itu menyimpan hampir 7.000 koleksi.

Museum Linggam Cahaya saat ini menyimpan sekitar empat hingga lima lembar uang SKR. Beberapa di antaranya memiliki kondisi fisik yang sudah agak menggulung karena usia.

Nominal uang yang menjadi koleksi museum juga beragam, di antaranya pecahan Rp1.000 dan Rp5.000. Lazuardi memastikan koleksi tersebut merupakan uang asli, bukan replika.

Namun, bukan hanya usia dan nilai sejarahnya yang membuat uang tersebut menarik. Ada fenomena unik ketika uang diletakkan di telapak tangan. Setelah beberapa saat, bagian uang mulai terangkat dan perlahan melipat.

“Kalau ditaruh di telapak tangan, dia akan berlipat,” kata Lazuardi sembari memperagakan keunikan uang tersebut.

Fenomena itu terjadi secara perlahan. Uang yang awalnya tampak diam di atas telapak tangan mulai mengencang, kemudian bagian tertentu terangkat hingga membentuk lipatan.

Keunikan tersebut menjadi salah satu alasan koleksi uang SKR menarik perhatian masyarakat. Bagi pengunjung, uang itu bukan sekadar benda lama, tetapi juga menjadi pengingat perjalanan sejarah penggunaan mata uang di Kepulauan Riau.

“Selain merupakan sejarah masa lalu, khususnya di Kepulauan Riau, dia punya keunikan,” ujar Lazuardi.

Menyimpan Ribuan Koleksi Sejarah

Uang SKR hanyalah satu bagian kecil dari kekayaan koleksi Museum Linggam Cahaya. Museum yang berada di Jalan Raja Muhammad Yusuf, Kampung Damnah, Tanda Hulu, Daik, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau itu menyimpan hampir 7.000 koleksi.

Museum tersebut mulai berdiri pada 2002. Pada awalnya, museum ini bernama Mini Museum. Nama Linggam Cahaya kemudian dipilih berdasarkan sejumlah usulan masyarakat yang dihimpun oleh panitia.

Nama “Linggam Cahaya” memiliki makna yang berkaitan dengan kegemilangan dan kecemerlangan tamadun Melayu, sekaligus menjadi simbol bagi museum sebagai tempat yang memancarkan cahaya kegemilangan dari berbagai khazanah yang tersimpan di dalamnya.

Koleksi museum terdiri dari berbagai jenis. Salah satunya adalah historika, yakni benda-benda yang memiliki nilai sejarah tinggi. Di antaranya terdapat keris, terapang, bengkung Panglima Kawal Encik Sulaiman, teko perak Sultan Abdurrahman Muazzam Syah, hingga kancing baju Sultan Lingga-Riau.

Ada pula koleksi numismatika berupa berbagai jenis mata uang, baik mata uang Republik Indonesia maupun mata uang dari negara lain. Uang SKR tahun 1964 menjadi salah satu koleksi yang mewakili jenis tersebut.

Selain itu, Museum Linggam Cahaya memiliki koleksi keramologika berupa tembikar dan piring, termasuk keramik dari Dinasti Song dengan karakteristik warna hijau seladon.

Koleksi lainnya berasal dari jenis teknologika, seperti telepon, gramofon atau peti menyanyi yang berada di lantai dua museum. Museum juga menyimpan koleksi filologika berupa manuskrip, kitab, dan berbagai naskah yang memiliki nilai penting untuk penelitian dan pembelajaran sejarah.

Dengan ribuan koleksi tersebut, Museum Linggam Cahaya tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenalkan perjalanan sejarah dan kebudayaan Melayu, khususnya di Lingga dan Kepulauan Riau.

Museum Linggam Cahaya dibuka mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB pada hari kerja. Museum juga dapat dikunjungi pada Sabtu dan Minggu, meski waktu pelayanan pada akhir pekan terkadang terbatas. Pada hari libur nasional dan hari besar seperti Idulfitri, museum ditutup. (qori)

Redaksi

Recent Posts

Facial Wajah di Premium Dermalove Batam: Rahasia Kulit Bersih, Sehat, dan Glowing dengan Penanganan Profesional

AriraNews.com, Batam - Di tengah aktivitas sehari-hari, kulit wajah terus terpapar debu, polusi, sinar UV,…

3 jam ago

Kemenko Polkam, BSSN, dan Telkom Perkuat Kolaborasi Nasional Hadapi Ancaman Era Komputasi Kuantum

AriraNews.com, Jakarta - Pemerintah mulai mempercepat langkah antisipasi menghadapi potensi ancaman keamanan siber seiring perkembangan…

4 jam ago

Dampak El Nino: BP Batam Ajak Masyarakat Jaga Ketahanan Air Bersama

AriraNews.com, Batam - Badan Pengusahaan (BP) Batam terus memaksimalkan pengelolaan air bersih sebagai langkah antisipasi…

5 jam ago

Menjaga Warisan di Tengah Deru Kilang Sagu Panggak Laut Lingga

AriraNews.com, LINGGA — Bagi Sopiyan, 46 tahun, suara mesin dan aktivitas di kilang sagu bukan…

6 jam ago

Pantai Dungun Daik, Surga Tersembunyi di Lingga dengan Pasir Putih Membentang Lebih Satu Kilometer yang Masih Alami

AriraNews.com, Daik — Bayangkan berdiri di atas hamparan pasir putih yang halus, memandang laut lepas…

8 jam ago

DBH PKB Natuna Tembus Rp1,16 Miliar, UPTD PPD Soroti Kepatuhan Pajak Kendaraan dan Potensi Pendapatan Daerah

Natuna,Ariranews.com – Penerimaan Dana Bagi Hasil (DBH) dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik…

13 jam ago