Headline

Menjaga Warisan di Tengah Deru Kilang Sagu Panggak Laut Lingga

AriraNews.com, LINGGA — Bagi Sopiyan, 46 tahun, suara mesin dan aktivitas di kilang sagu bukan sekadar rutinitas pekerjaan. Di tempat itulah ia meneruskan sebuah cerita yang dimulai jauh sebelum dirinya mengambil alih usaha tersebut.

Kilang sagu di Desa Panggak Laut, Kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga, merupakan warisan usaha orang tuanya. Bertahun-tahun kemudian, Sopiyan masih berdiri di tempat yang sama, mengolah sagu dari batang yang tumbuh di tanah kelahirannya untuk dikirim ke berbagai daerah.

“Ini cuma meneruskan usaha almarhum, orang tua saja,” kata Sopiyan, Selasa (11/8/2026).

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di baliknya ada perjalanan panjang untuk mempertahankan usaha yang telah menjadi bagian dari kehidupan keluarganya.

Sopiyan, salah satu pembuat tepung sagu yang telah turun temurun menjalani usaha tersebut.

Setiap hari, batang-batang sagu yang telah ditebang menjadi bahan baku yang harus diolah. Dari sagu kotor, Sopiyan dan pekerjanya memprosesnya kembali hingga menjadi sagu bersih.

Sekali produksi, kilangnya mampu menghasilkan lebih dari dua ton sagu bersih. Sopiyan, kemudian menjelaskan secara singkat proses produksi, mulai dari pembelahan barang sagu, mengukur menggunakan mesin khusus, pengendapan sampai tiga tahap hingga menjadi sagu basah berwarna putih bersih.

“Satu Salo (wadah pengendapan terakhir) ini bisa untuk dua ton sagu basah,” ujarnya, sambil menunjuk bak yang bentuknya panjang sekitar 6 meter, tempat pengendapan terakhir dari proses produksi sagu basah.

Sagu itu kemudian bergerak meninggalkan Panggak Laut. Salah satu tujuan yang rutin adalah Jambi. Dari sana, sagu tersebut masuk ke rantai perdagangan yang lebih panjang, memenuhi kebutuhan pasar di luar Lingga.

“Yang betul-betul rutinnya ke Jambi,” kata Sopiyan.

Bagi Sopiyan, mata rantai itu adalah bagian dari kesehariannya. Ia tidak hanya mempertahankan sebuah bangunan kilang, tetapi juga mempertahankan usaha yang telah diwariskan kepadanya.

Bertahan dengan Modal Kepercayaan

Di tengah permintaan pasar yang sebenarnya cukup terbuka, persoalan modal menjadi tantangan utama Sopiyan. Selama menjalankan usaha, ia mengaku banyak mengandalkan modal sendiri dan kepercayaan dari pembeli.

“Saya sendiri meneruskan usaha dari zaman almarhum, bantuan langsung dari pemerintah belum ada,” katanya.

Apa yang dibangun dan dikelolanya selama ini, kata Sopiyan, sebagian besar berasal dari kemampuannya sendiri.

“Apapun yang saya bangun, apapun bentuk yang saya kelola sekarang ini, semuanya bermodal kepercayaan dan modal sendiri,” ujarnya.

Modal kepercayaan itu menjadi penting karena usaha sagu membutuhkan biaya untuk terus berputar. Ketika hasil penjualan diterima, uang tersebut kembali digunakan untuk menjalankan produksi berikutnya.

Bagi Sopiyan, persoalan bukan semata-mata soal ada atau tidaknya pasar. Permintaan justru datang dari berbagai daerah.

“Kalau pemasaran kita tergantung dari permintaan. Sagu ini permintaannya bukan dari Jambi saja. Dari daerah lain ada, dari Solo pun ada,” katanya.

Yang menjadi persoalan adalah bagaimana meningkatkan produksi dan nilai jual.

Sopiyan sebenarnya memiliki keinginan lebih besar. Ia ingin sagu yang dihasilkan tidak berhenti sebagai sagu bersih, tetapi dapat diproses menjadi tepung.

“Kalau dana ada, boleh dibuat apa saja. Alangkah baiknya kalau kita punya modal, kita buat langsung tepungnya, tempat pengeringnya,” katanya.

Keinginan tersebut berkaitan dengan satu hal: nilai tambah.

Jika sagu dapat diolah lebih jauh dan dikemas dengan standar yang lebih baik, produk dari Panggak Laut berpeluang menjangkau pasar yang lebih luas.

Dari Batang Sagu Menjadi Penghidupan

Pemandangan di Panggak Laut menunjukkan bahwa usaha Sopiyan bukan cerita yang berdiri sendiri.

Sagu telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa secara turun-temurun. Kepala Desa Panggak Laut, Agung Yuda P., mengatakan terdapat sekitar 20 kilang sagu di desanya.

Kepala Desa Panggak Laut, Agung Yuda P

Bahan bakunya sebagian besar berasal dari desa itu sendiri.

“Batang sagunya dari Desa Panggak Laut,” ujar Agung.

Tanaman sagu memiliki karakter yang membuat masyarakat tetap dapat mengandalkannya sebagai sumber bahan baku. Setelah satu batang ditebang, dalam satu rumpun masih tumbuh tunas-tunas baru.

“Pohon sagu ini seperti pohon pisang, ditebang satu, dalam satu rumpun anak-anaknya ada lagi,” katanya.

Sebelum sampai ke kilang seperti milik Sopiyan, batang sagu melalui proses panjang. Batang dikupas, dipotong, kemudian diparut. Hasil parutan diolah untuk mengambil sari pati yang kemudian diendapkan.

“Endapannya nanti terkumpul di sini. Itulah jadi sagu kotor,” jelas Agung.

Dari proses itu, roda ekonomi desa ikut bergerak. Ada warga yang bekerja menebang, mengangkut, mengolah hingga memasarkan sagu.

Agung memperkirakan aktivitas sekitar 20 kilang dapat menyerap sekitar 40 hingga 50 persen masyarakat desa dalam mata rantai pekerjaan yang berkaitan dengan sagu. Desa Panggak memiliki sekitar 500 jiwa dengan 170 kepala keluarga.

“Satu kilang bisa lima orang, ditambah tukang tenang. Rata-rata bisa 40 persen, 50 persen dari penduduk di sini terserap,” ujarnya.

Ketika Bantuan Datang ke Sisi Hilir

Harapan itu perlahan menemukan jalan melalui pengembangan usaha hilir yang dikelola BUMDes Karya Mandiri.

Bank Indonesia (BI) Kepri memberikan dukungan kepada pengembangan pengolahan sagu melalui kerja sama dengan desa dan BUMDes. Salah satu fasilitas yang dibangun adalah tempat pengeringan.

Bagi Sopiyan, fasilitas tersebut merupakan langkah yang baik karena dapat mempertemukan hasil produksi kilang dengan proses pengolahan berikutnya.

“Bantuan pengeringan itu sebenarnya bagus juga, karena bahan bakunya dari saya. Mereka ambil dari sini, berarti ada kerja samanya,” ujarnya.

Direktur BUMDes Karya Mandiri, Mawardi, menjelaskan, sagu bersih dari kilang kemudian dibawa ke fasilitas BUMDes untuk dikeringkan.

“Dari sagu kotor diproses jadi sagu yang bersih. Kemudian kita bawa ke sini, kita keringkan, lalu kita kemas,” katanya.

BUMdes Karya Mandiri Desa Panggak Laut, meningkatkan nilai jual sagu basah menjadi sagu kering yang kemudian di pasarkan ke berbagai daerah.

Proses pengeringan masih memanfaatkan cahaya matahari. Saat cuaca panas, sagu dapat dikeringkan dalam waktu sekitar satu hari. Jika matahari tidak cukup terik, prosesnya menjadi lebih lama.

Setelah kering, sagu dikemas sesuai permintaan. Salah satu kemasan yang saat ini dipasarkan adalah ukuran satu kilogram dengan harga sekitar Rp5.000.

Produk tersebut telah dikirim ke Batam dan Tanjungpinang.

“Kalau ada yang minta, kita bikin kemasannya seperti itu,” ujar Mawardi.

Dukungan BI juga mencakup sejumlah peralatan dan pendampingan untuk pengembangan usaha.

Mawardi mengakui bantuan tersebut penting bagi BUMDes yang masih menghadapi keterbatasan modal.

“Atas nama masyarakat Desa Panggak Laut, kami mengucapkan banyak terima kasih. Tanpa dukungan dari pihak-pihak tertentu, khususnya Bank Indonesia, mungkin belum bisa kami teruskan,” katanya.

Agar Warisan Tidak Berhenti

Sagu Panggak Laut kini perlahan bergerak ke arah yang berbeda. Jika sebelumnya masyarakat lebih banyak menjual sagu sebagai bahan baku, kini mulai muncul upaya mengolahnya menjadi tepung dan berbagai produk pangan.

Kepala Desa Panggak Laut, Agung Yuda, menyebut produk sagu dapat dikembangkan menjadi mi sagu, kue kering hingga pangan pengganti beras. Kelompok UMKM di desa juga mulai mengambil bagian dalam pengolahan produk tersebut.

Sebagian produk dipasarkan di sekitar Lingga, sementara lainnya dikirim ke Tanjungpinang dan Batam.

Namun, bagi Sopiyan, semua perkembangan itu kembali pada satu hal: bagaimana usaha yang diwariskan orang tuanya dapat terus bertahan.

Ia tahu tantangannya tidak sedikit. Modal masih terbatas. Fasilitas pengeringan yang memenuhi standar masih perlu diperkuat. Pengolahan menjadi tepung juga belum dapat dilakukan secara maksimal.

Tetapi selama masih ada permintaan dan bahan baku tersedia, kilang itu akan tetap berjalan.

Di Panggak Laut, batang-batang sagu terus tumbuh dalam rumpun. Sebagian ditebang untuk diolah, sementara tunas-tunas baru kembali muncul.

Seperti tanaman sagu yang terus menumbuhkan tunasnya, Sopiyan pun berusaha menjaga agar warisan keluarganya tidak berhenti pada satu generasi.

Dari tangan orang tuanya, usaha itu berpindah kepadanya. Dan kini, ia berharap kelak dapat diteruskan kembali, bukan hanya sebagai kilang sagu, tetapi sebagai usaha yang memiliki nilai lebih dan mampu membawa nama Panggak Laut lebih jauh.

“Sebenarnya pengennya kita punya barang,” kata Sopiyan.

Kalimat itu menjadi gambaran sederhana tentang harapannya: memiliki produk sendiri, mengolahnya sendiri, dan melihat sagu dari tanah kelahirannya memiliki nilai yang lebih tinggi.(qori)

Redaksi

Recent Posts

Dampak El Nino: BP Batam Ajak Masyarakat Jaga Ketahanan Air Bersama

AriraNews.com, Batam - Badan Pengusahaan (BP) Batam terus memaksimalkan pengelolaan air bersih sebagai langkah antisipasi…

19 menit ago

Pantai Dungun Daik, Surga Tersembunyi di Lingga dengan Pasir Putih Membentang Lebih Satu Kilometer yang Masih Alami

AriraNews.com, Daik — Bayangkan berdiri di atas hamparan pasir putih yang halus, memandang laut lepas…

3 jam ago

DBH PKB Natuna Tembus Rp1,16 Miliar, UPTD PPD Soroti Kepatuhan Pajak Kendaraan dan Potensi Pendapatan Daerah

Natuna,Ariranews.com – Penerimaan Dana Bagi Hasil (DBH) dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik…

8 jam ago

Menelusuri Jejak Sultan Mahmud Riayat Syah di Daik Lingga, Sang Pahlawan Nasional yang Bersemayam di Balik Masjid Jami

AriraNews.com, LINGGA — Di balik Masjid Jami' Sulthan Lingga di Daik, Kabupaten Lingga, tersimpan jejak…

22 jam ago

Tugu Khatulistiwa Lingga: Jejak Garis Nol di Bunda Tanah Melayu

AriraNews.com, Daik — Perjalanan menuju Daik, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, membawa wisatawan pada sebuah destinasi…

1 hari ago

Menyusuri Pesona Air Terjun Resun Daik, Oase Alam di Kaki Gunung Sepincan Lingga

AriraNews.com, Lingga - Suara gemercik air menjadi sambutan pertama ketika rombongan media Batam dalam perjalanan…

1 hari ago