Makam Sultan Mahmud Riayat Syah di Daik, Lingga. Makam ini kini banyak dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara.
AriraNews.com, LINGGA — Di balik Masjid Jami’ Sulthan Lingga di Daik, Kabupaten Lingga, tersimpan jejak salah satu tokoh penting dalam sejarah Melayu. Di tempat yang kini ramai didatangi wisatawan itu, Sultan Mahmud Riayat Syah, nama yang kini diabadikan menjadi Masjid Raya Sultan Mahmud Riayat Syah di Batam, bersemayam bersama keluarga dan zuriatnya.
Kompleks tersebut menjadi salah satu tujuan wisata sejarah bagi mereka yang berkunjung ke Daik. Bukan hanya karena terdapat makam seorang sultan, tetapi karena kawasan ini menyimpan cerita tentang Kesultanan Johor-Pahang-Riau-Lingga yang pernah memainkan peran penting dalam perjalanan sejarah kawasan Melayu.
Senin (10/8/2026), rombongan wartawan dari berbagai media di Batam menyambangi kompleks tersebut dalam agenda Road to Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026.
Staf Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga bidang sejarah, pelestarian cagar budaya dan permuseuman, Lazuardi, menjadi pemandu yang menjelaskan sejarah kawasan tersebut.
Menurutnya, kompleks pemakaman itu bukan hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir Sultan Mahmud Riayat Syah. Sejumlah anggota keluarga kerajaan dan zuriatnya juga dimakamkan di kawasan tersebut.
Di antaranya adalah Encik Maryam, salah satu istri Sultan Mahmud Riayat Syah sekaligus ibunda Sultan Abdurrahman Syah yang kemudian menggantikan takhta.
“Banyak zuriat beliau dan kalangan istana yang dimakamkan di kompleks ini,” kata Lazuardi.
Sultan Mahmud Riayat Syah merupakan Yang Dipertuan Besar Kesultanan Johor-Pahang-Riau-Lingga yang memerintah pada 1761 hingga 1812.
Namanya kemudian tidak hanya dikenang dalam sejarah kesultanan Melayu. Pada 2017, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Mahmud Riayat Syah.
“Di tengah masyarakat, ia juga dikenal dengan gelar Marhum Masjid. Gelar tersebut memiliki kaitan erat dengan masjid yang berada di kompleks pemakamannya,” ungkap Lazuardi.
Di kawasan itu berdiri Masjid Sultan yang berdasarkan keterangan Lazuardi dibangun pada 1212 Hijriah atau sekitar 1798 Masehi.
Menariknya, masjid tersebut ternyata telah lebih dahulu hadir dibandingkan makam yang kini menjadi tujuan wisata sejarah.
“Dulu sebenarnya masjid lebih dulu. Ketika beliau masih bertakhta, beliau membangun masjid,” ujar Lazuardi.
Masjid yang dibangun pada masa Sultan Mahmud Riayat Syah tersebut, menurut sejumlah sumber, menggunakan material kayu. Karena termakan usia, bangunan itu kemudian mengalami kerusakan.
Masjid selanjutnya dibangun kembali di lokasi yang sama pada masa Sultan Abdurrahman II Mu’azamsyah, sultan terakhir Kesultanan Riau-Lingga.
Bagi masyarakat yang datang ke kawasan tersebut, makam Sultan Mahmud Riayat Syah dan Masjid Jami seolah menjadi dua bagian dari satu cerita.
Masjid menjadi bangunan yang menyambut pengunjung sebelum memasuki kawasan makam. Sementara makam menjadi pengingat tentang sosok sultan yang pernah memimpin Kesultanan Johor-Pahang-Riau-Lingga.
“Orang lebih mengenal keduanya. Karena pintu masuknya adalah masjid, orang mengenal Masjid Jami. Tetapi beliau juga merupakan Marhum Masjid, Pahlawan Nasional dan seorang sultan. Jadi keduanya sangat dikenal,” kata Lazuardi.
Kawasan bersejarah itu berada di Kelurahan Daik, Kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau.
Lokasinya berada di kawasan Kampung Masjid yang berhadapan dengan Kampung Tembaga. Bahkan, nama jalan di kawasan tersebut juga disebut berkaitan dengan keberadaan masjid, yakni Jalan Masjid.
Jejak Sultan Mahmud Riayat Syah juga tidak berhenti pada batu nisan dan bangunan tua.
Keturunannya masih ada hingga sekarang, meski telah tersebar di sejumlah daerah. Sebagian keluarga berada di Jakarta, Tanjungpinang, Daik dan sejumlah wilayah lainnya.
Lazuardi menyebut, salah satu keturunannya bahkan kini berprofesi sebagai pilot dan menetap di Jakarta.
“Keturunan beliau masih ada. Warisnya sekarang ada yang menjadi pilot dan berada di Jakarta, kemudian keluarga-keluarga dari sebelah ibu dan lainnya,” ujarnya.
Kini, kompleks makam tersebut menjadi lebih dari sekadar tempat peristirahatan seorang raja.
Ia menjadi ruang tempat masa lalu dan masa kini bertemu, tempat wisatawan datang, melihat makam, menapaki halaman masjid, sekaligus mengenang perjalanan seorang sultan yang namanya tetap hidup dalam sejarah Melayu.
Dari Daik, jejak Sultan Mahmud Riayat Syah bahkan telah melampaui batas Pulau Lingga.
Namanya kini melekat pada berbagai tempat dan institusi, termasuk sebuah masjid megah di Batam. (emr)
AriraNews.com, Daik — Perjalanan menuju Daik, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, membawa wisatawan pada sebuah destinasi…
AriraNews.com, Lingga - Suara gemercik air menjadi sambutan pertama ketika rombongan media Batam dalam perjalanan…
Natuna, Ariranews.com – Tingkat kepatuhan masyarakat Kabupaten Natuna dalam membayar Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) masih…
AriraNews.com, Batam – Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) menampilkan peran, fungsi, serta berbagai inovasi dalam…
Natuna,Ariranews.com— Semangat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia terus digaungkan dari wilayah perbatasan…
AriraNews.com, Johor – Gaji tak dibayar, paspor hilang, dianiaya majikan, ditipu, hingga sakit saat bekerja…