Headline

Tenun Engku Putri Membawa Cerita Melayu ke Pentas Dunia

AriraNews.com, Tanjungpinang – Di sebuah sudut kawasan Gurindam 12, Tanjungpinang, lembaran-lembaran kain tenun tumbuh menjadi cerita tentang kebudayaan, ketekunan, dan upaya menghidupkan kembali warisan Melayu Kepulauan Riau. Namanya Tenun Engku Putri.

Berada di Gedung Dekranasda Kepulauan Riau, tidak jauh dari Gedung Gonggong, tempat ini menjadi salah satu ruang bagi kain tradisi untuk menemukan kembali denyut kehidupannya. Lokasinya juga relatif mudah dijangkau. Dari Pelabuhan Sri Bintan Pura, pengunjung cukup berjalan kaki sekitar 200 meter dengan mengambil arah kanan setelah keluar dari pintu pelabuhan.

Bagi pelancong dari Batam, perjalanan menuju Tanjungpinang dapat ditempuh sekitar satu jam menggunakan kapal feri. Ongkos perjalanan saat ini sekitar Rp81 ribu.

Namun, perjalanan menuju Tenun Engku Putri sesungguhnya bukan hanya perjalanan menuju sebuah tempat. Ia seperti memasuki sebuah ruang tempat masa lalu dirajut kembali menjadi sesuatu yang baru.

Inflasi Kepri September Turun Jadi 3,49 Persen, Harga Emas, BBM dan Pangan Masih Jadi Perhatian
Irma Sari memeriksa kain yang telah selesai ditenun.

Di baliknya ada nama Irma Sari, perempuan kelahiran Medan yang telah menetap di Tanjungpinang sejak 1997. Ia tumbuh dan bersekolah di Tanjungpinang, sebelum melanjutkan pendidikan tinggi di Medan. Dari tangannya, bersama para pengrajin, kain-kain tenun Melayu dikembangkan dalam bentuk yang lebih kontemporer.

“Untuk nama Tenun Engku Putri dari kesepakatan bersama, karena nama Engku Putri sendiri sudah melekat dalam kebudayaan kita,” kata Irma Sari, saat ditemui di Gedung Dekranasda Kepri, Kamis (31/9/2026) siang. Saat datang lima orang pengrajin terlihat sedang serius menenun. Bunyi alat tenun silih berganti menghentak.

Hanya sekitar satu tahun sejak kembali bergerak dengan format kelompok usaha yang lebih mandiri di bawah lingkungan Dekranasda, Tenun Engku Putri telah membawa nama Kepulauan Riau melampaui batas wilayah. Karyanya pernah dipamerkan dalam peragaan busana di Paris pada tahun 2025

“Yang membawa ke Paris, Indina Putri Fadjar, dibuat sebagai outer,” ungkapnya.

Kain Tenun hasil karya Tenun Engku Putri bahkan telah sampai ke tangan sejumlah tokoh nasional. Salah satunya Yusril Ihza Mahendra.

“Pak Yusril saya sendiri yang jual ke beliau,” ungkap Irma.

Kredit UMKM Natuna Tumbuh 52,6 Persen, KUR Masih Jadi Sorotan

Bagi Irma, capaian tersebut bukan garis akhir. Justru di sanalah perjalanan sebenarnya dimulai. Mengangkat kembali warisan budaya Melayu, tak hanya dapat dikenal masyarakat, tapi juga bernilai ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan.

Cerita Tenun Engku Putri tidak dimulai pada 2025. Jejaknya telah ada sejak 2012, ketika kelompok tenun perempuan berada dalam naungan program pemberdayaan perempuan pemerintah daerah. Saat itu telah ada pengrajin dan kegiatan menenun, tetapi keterbatasan peralatan membuat aktivitas tersebut tidak berjalan secara berkelanjutan.

Sebagian pengrajin tetap bekerja dalam sistem yang disiapkan pemerintah. Namun sebagian lainnya terhenti karena tidak memiliki alat tenun.

Irma sendiri pada awalnya tidak ditempatkan sebagai ketua. Ia hanya menjalankan tugas sebagai pengurus, termasuk sekretaris dan bendahara. Namun keadaan kemudian membawanya untuk mengambil tanggung jawab lebih besar.

Ia memilih bertahan. Sebab, baginya, kalau tidak ada yang memulai dan mau bertahan, tenun itu akan kembali terdiam.

DBH Natuna Dipangkas 50 Persen, Daerah Alami Tekanan Fiskal dan Gandeng OJK Jaga Ekonomi
Irma Sari.

Tahun 2025 menjadi titik kebangkitan baru. Dengan dukungan Bank Indonesia Perwakilan Kepulauan Riau, kelompok ini mendapatkan bantuan berupa alat tenun bukan mesin atau ATBM, perlengkapan pendukung, serta pelatihan.

Lima unit alat tenun menjadi bagian penting dari bantuan tersebut. Selain itu terdapat peralatan pendukung pemintalan dan proses produksi lainnya.

Pelatihan pun diberikan secara langsung. Para pengrajin belajar selama sekitar satu bulan untuk menguasai kembali teknik menenun menggunakan peralatan baru.

“Selain memberikan alat tenun, BI juga mendatangkan pelatihnya langsung,” ungkap wanita berkerudung tersebut.

Dari sekitar 20 orang yang mengikuti proses awal, kini tersisa delapan orang yang aktif dalam kelompok, terdiri dari lima pengrajin tenun dan beberapa tenaga pendukung.

Bagi perempuan berdarah Swiss ini, bantuan tersebut bukan sekadar pemberian alat. Ada proses pendampingan, pembinaan, dan pembentukan pasar yang membuat kegiatan menenun memiliki peluang untuk terus hidup.

Bank Indonesia juga menjadi salah satu pembeli produk yang dihasilkan. Bagi kelompok, kepastian pasar semacam itu penting karena hasil penjualan menjadi sumber perputaran ekonomi sekaligus pendapatan para pengrajin.

Ketika Tradisi Bertemu Kreativitas

Tenun Engku Putri tidak hendak mengulang masa lalu secara persis. Irma menyebut karya mereka sebagai tenun kontemporer.

Karena itu, motif dan warna terus dikembangkan. Kain tidak hanya diarahkan menjadi kain tradisional, tetapi dapat diolah menjadi kemeja, dress, outer, jaket, dan berbagai busana lainnya.

Di sinilah kreativitas pengrajin menemukan ruang. Namun kreativitas itu tetap memiliki batas yang dijaga oleh adat.

Sebelum menciptakan motif baru, Irma mengaku berkomunikasi dengan tokoh atau lembaga adat Melayu di sejumlah daerah di Kepulauan Riau. Ia ingin memastikan motif yang dikembangkan tidak bertentangan dengan ketentuan adat.

Pengrajin di Tenun Engku Putri.

Motif tumbuhan dan unsur alam menjadi sumber inspirasi yang kuat. Ada Bunga Kesemek, Bunga Tampuk Manggis, Pecah Delapan, Pecah Empat, Melur, Bunga Kecubung, Kapal Kajang, Kapal Jong, Bunga Matahari, Bunga Tabuar, Pucuk Rebung, Motif Anggur, Tempat Sirih Junjung hingga motif yang terinspirasi dari kehidupan pesisir Melayu. Kini, sudah lebih dari 30 motif dikembangkan.

Salah satu ciri yang hendak diperkuat adalah motif Kapal Jong, yang dianggap memiliki kedekatan dengan sejarah maritim masyarakat Melayu Kepulauan Riau.

Proses penciptaannya pun tidak sekadar mengambil bentuk kemudian menenunnya. Ada komunikasi dengan lingkungan adat terlebih dahulu.

“Sebelum diproduksi saya berkonsultasi dulu dengan Ketua LAM, ini boleh atau tidak. Setelah diizinkan baru kami produksi. Yang tak boleh itu dari LAM motif hewan,” kata Irma.

Bagi Irma, adat menjadi pagar, sementara kreativitas menjadi jalan.

“Biarkan pengrajin berkreasi,” demikian semangat yang ia pegang. Selama tidak keluar dari batas yang telah disepakati, motif dapat dikembangkan melalui permainan warna, komposisi, dan bentuk.

Motif-motif Tenun Engku Putri tidak berdiri sendiri.

Ia lahir dari ruang kebudayaan Melayu yang luas dan saling berhubungan. Kepulauan Riau berada di jalur pesisir yang sejak dahulu terhubung dengan Malaysia, Singapura, Brunei, Sarawak, hingga wilayah-wilayah pesisir Sumatra.

Karena itu, Irma melihat tenun mereka sebagai bagian dari kebudayaan serumpun.

Di atas bentangan kain, hubungan geografis itu seperti menemukan bentuk lain, bukan dalam peta, melainkan dalam motif dan warna.

Tradisi kemudian tidak berhenti menjadi benda museum. Ia dikenakan. Ia bergerak bersama tubuh manusia. Ia hadir di peragaan busana, ruang pamer, pertemuan, hingga pasar.

Dan ketika sebuah kain dari Tanjungpinang dapat dikenakan di Paris, perjalanan itu seolah menunjukkan bahwa warisan lokal tidak harus kehilangan identitas untuk dapat berbicara kepada dunia.

Saat ini Tenun Engku Putri memiliki lima pengrajin utama.

Mereka tidak bekerja dengan sistem jam kantor yang kaku. Target produksi menjadi patokan. Ketika pesanan atau kegiatan pameran membutuhkan kain dalam jumlah tertentu, para pengrajin dapat bekerja lebih panjang untuk menyelesaikannya.

Kapasitas produksi pun terus meningkat. Pada awalnya, kelompok hanya mampu menghasilkan sekitar 10 kain dalam sebulan. Perlahan meningkat menjadi 20, kemudian hingga sekitar 40 kain per bulan dalam kondisi tertentu.

Namun tidak seluruhnya langsung terjual. Rata-rata penjualan berada di kisaran delapan hingga 10 kain per bulan. Harga kain berkisar Rp1 juta hingga Rp2 juta, tergantung bahan, motif, dan tingkat kerumitannya.

Para pengrajin istirahat dan santap siang.

Harga tersebut membuat pasarnya cenderung berada pada segmen tertentu. Sebagian besar pembeli datang dari Jakarta. Ada pula pembeli dari Singapura, Malaysia, Sarawak, dan Brunei yang mengenal produk melalui pemasaran daring maupun informasi dari mulut ke mulut.

Bagi Irma, pasar lokal Tanjungpinang dan Batam, atau Kepri umumnya memiliki tantangan tersendiri karena daya beli konsumen untuk kain dengan harga di atas Rp1 juta relatif terbatas.

“Kami sedang mencari bahan yang dapat menekan biaya produksi, sehingga nanti harganya lebih murah dan dapat dijangkau masyarakat,” ujarnya.

Karena itu, pameran menjadi salah satu ruang penting untuk memperkenalkan produk. Kain-kain tersebut juga pernah dibawa ke Jakarta dan berbagai kegiatan promosi lainnya.

“BI Kepri selalu mengikutkan kita dalam setiap kegiatan maupun pameran. Selain di GMP,  baru-baru kita juga ikut serta dalam pameran Pameran Kriyanusa 2026 di Jakarta,” ungkapnya.

Menenun Ekonomi dari Rumah Budaya

Di balik setiap helai kain, ada persoalan yang lebih besar, bagaimana kebudayaan dapat sekaligus menjadi sumber penghidupan.

Tenun Engku Putri mencoba menjawab pertanyaan itu.

Pendapatan dari kain yang terjual dibagi kepada pengrajin setelah kebutuhan produksi seperti benang dan keperluan lainnya disisihkan. Sistem tersebut membuat para pengrajin memperoleh manfaat langsung dari setiap kain yang mereka hasilkan.

“Alhamdulillah pendapatan pengrajin terus bertambah, dulu satu orang Rp300 ribu, sekarang sampai Rp800 ribu kadang lebih, tergantung penjualan,” katanya.

Hasil kain Tenun Engku Putri setelah menjadi outer dan dijual di Dekranasda Kepri.

Irma memiliki harapan yang lebih jauh. Ia ingin pendapatan pengrajin dapat terus meningkat, sehingga pekerjaan menenun bukan hanya menjadi aktivitas pelestarian budaya, tetapi juga profesi yang memberikan kesejahteraan.

Di titik ini, tenun tidak lagi hanya berbicara tentang sehelai kain. Ia berbicara tentang manusia yang berada di belakangnya. Tentang perempuan yang memilih bertahan. Tentang tangan-tangan yang menarik benang satu demi satu. Tentang pengetahuan yang diturunkan dan dikembangkan. Tentang ekonomi yang berputar dari sebuah alat tenun sederhana. Dan tentang identitas budaya yang kembali diperkenalkan kepada dunia.

Untuk menghasilkan satu kain berukuran sekitar 2,5 meter dengan lebar 1,15 meter, waktu yang dibutuhkan sangat bergantung pada motif.

Motif sederhana dapat diselesaikan sekitar empat hari. Sementara motif dengan tingkat kerumitan tinggi, seperti Siri Junjung atau motif Kapal Jong, dapat membutuhkan waktu hingga sekitar 12 hari.

Waktu tersebut adalah bagian dari harga yang tidak selalu terlihat ketika seseorang membeli selembar kain. Ada kesabaran di sana dan ketelitian.

Dan ada pengetahuan tentang bagaimana benang harus bertemu agar membentuk motif yang telah dirancang.

Karena itu, ketika Tenun Engku Putri pernah hadir di Paris, yang dibawa sesungguhnya bukan hanya sebuah produk fesyen.

Yang ikut berangkat adalah cerita tentang Tanjungpinang, tentang Kepulauan Riau, tentang masyarakat Melayu pesisir, dan tentang sekelompok pengrajin yang berusaha menjaga warisan agar tidak kembali tenggelam.

Tenun Engku Putri mungkin baru menempuh langkah baru. Namun dari ruang sederhana di Gedung Dekranasda Kepri, benang-benang itu telah mulai menjalin perjalanan yang lebih jauh.

Dari tangan pengrajin di Tanjungpinang, menuju Jakarta, Singapura, Malaysia, Brunei, hingga Paris.

Sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa kebudayaan tidak selalu harus disimpan dalam diam. Kadang, ia harus ditenun kembali. Diberi warna. Diberi bentuk baru. Lalu dibawa berjalan menemui dunia.

Di balik kain Tenun Engku Putri yang tampak rapi dan penuh warna, ada pekerjaan panjang yang nyaris tak terlihat.

Penyusunan benang merupakan langkah pertama sebelum proses Tenun. Ada ribuan benang yang disusun menggunakan alat khusus.

Sebelum motif terbentuk, ribuan benang harus disusun dengan ketelitian. Untuk kain yang diperuntukkan sebagai bahan pakaian, jumlah benang yang digunakan bisa mencapai sekitar 3.700 helai pada bagian lebarnya.

Bagi mata yang belum terbiasa, susunan benang itu mungkin tampak sederhana. Namun bagi penenun, sedikit saja kesalahan dapat mengubah hasil akhir motif.

“Kelihatannya gampang. Tapi kalau sudah masuk motif, apalagi dua warna, paling susah,” kata Irma Sari.

Kesalahan kecil dapat membuat motif bergeser. Karena itu, pekerjaan menenun membutuhkan konsentrasi, ketelatenan, dan kesabaran.

Satu kain dengan motif sederhana dapat diselesaikan sekitar empat hari. Sementara motif yang lebih rumit membutuhkan waktu hingga 12 hari. Salah satu yang membutuhkan ketelitian lebih tinggi adalah motif Kapal Jong, yang kini justru menjadi salah satu identitas Tenun Engku Putri.

“Kalau dari luar negeri, yang banyak diminta itu Kapal Jong. Karena itu ciri khas kita,” ujar Irma.

Kapal Jong bukan sekadar bentuk yang ditempatkan di atas kain. Ia membawa ingatan tentang masyarakat Melayu yang hidup berdampingan dengan laut, tentang pelayaran, perdagangan, dan kehidupan pesisir yang sejak dahulu menjadi bagian penting dari Kepulauan Riau.

Di tangan pengrajin, sejarah itu kemudian diterjemahkan ke dalam benang.

Saat proses menenun berlangsung, suasana di ruang kerja berubah menjadi hening yang produktif. Bunyi alat tenun berpadu dengan gerakan tangan yang berulang.

Ada pengrajin yang telah berusia lebih dari 60 tahun. Bahkan sebagian tetap berusaha menenun meski kemampuan penglihatannya mulai terbatas.

Bagi Irma, usia bukan satu-satunya ukuran kemampuan seorang pengrajin. Yang lebih penting adalah kemauan untuk belajar dan ketekunan menyelesaikan pekerjaan.

Namun ada satu persoalan yang terus menghantuinya, mencari generasi muda.

Ia berharap lebih banyak anak muda tertarik mempelajari tenun. Sebab jika pengetahuan itu berhenti pada generasi sekarang, maka bukan hanya keterampilan yang hilang, melainkan juga sebuah bagian dari ingatan budaya.

“Saya mau cari yang umur 40 ke bawah. Susah,” kata Irma.

Persoalan regenerasi ini bukan hanya terjadi di Tenun Engku Putri. Menurut Irma, di beberapa daerah lain tradisi menenun lebih kuat karena telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Di Kepulauan Riau, kondisi tersebut berbeda.
Tenun belum menjadi budaya yang melekat dalam keseharian sebagian besar masyarakat seperti di sejumlah daerah di Sumatra.

“Contohnya di Toba atau Sumatera Barat, tenun ada di rumah-rumah masyarakat. Ibaratnya kita tinggal mengumpulkannya saja,” kata Irma.

Karena itu, memperkenalkan tenun kepada generasi muda menjadi pekerjaan penting berikutnya.

Di antara tangan-tangan yang kini menggerakkan alat tenun itu ada Umi Kalsum.

Perempuan berusia 53 tahun tersebut sebelumnya adalah ibu rumah tangga. Tidak ada pekerjaan tetap yang dijalaninya sebelum mengikuti pelatihan tenun.

Tahun 2025 menjadi titik perubahan. Ia mengikuti pelatihan yang didukung Bank Indonesia selama sekitar satu bulan. Dari sana, keterampilan yang awalnya dipelajari melalui pelatihan kemudian berkembang menjadi pekerjaan.

Kini Umi telah lebih dari setahun menjadi pengrajin Tenun Engku Putri.

“Sedikit banyak bisa membantu ekonomi keluarga lah,” katanya.

Penghasilannya tidak selalu sama. Pada masa awal, pendapatan yang diterima sekitar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu, bergantung pada penjualan dan pembagian hasil. Kini, dalam kondisi tertentu, penghasilannya dapat mencapai sekitar Rp800 ribu hingga Rp1 juta dalam sebulan.

Bagi Umi, angka itu memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar nominal.

Ia memiliki tiga anak. Anak keduanya telah menyelesaikan pendidikan, sementara anak bungsunya masih bersekolah di kelas dua SMK.

Suaminya tetap bekerja. Namun kebutuhan keluarga terus berjalan, termasuk biaya sekolah dan tempat tinggal. Karena itu, pekerjaan menenun memberikan tambahan yang berarti.

“Sebelumnya di rumah saja. Sekarang bisa membantu ekonomi keluarga,” ujarnya.

Di titik itu, kain yang ditenun Umi tidak hanya menjadi produk kebudayaan. Ia menjadi bagian dari dapur sebuah keluarga.

Warisan Melayu Menjadi Kekuatan Ekonomi Baru Kepri

Bank Indonesia (BI) mendorong penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kepulauan Riau (Kepri) melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan berbagai mitra strategis.

Dibukanya, Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026 di K-Square Mall, Batam, Rabu (16/9/2026) malam, bukan sekadar seremoni pembukaan, melainkan satu pesan penting: warisan Melayu tidak cukup hanya dijaga, tetapi harus terus dihidupkan dan diberi ruang untuk tumbuh mengikuti zaman.

Pesan itulah yang kini dilakoni Irma Sari dan pengrajin tenun, sulam, mau pun batik yang ada di Provinsi Kepri. Mereka juga terlibat dalam GMP tahun 2026 ini.

Memasuki penyelenggaraan tahun ke-7, GMP 2026 kembali mempertemukan kebudayaan dengan denyut ekonomi. Tenun, songket, fesyen, kuliner, kerajinan, hingga berbagai produk UMKM tidak ditempatkan semata sebagai artefak budaya, tetapi sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang memiliki peluang menembus pasar yang lebih luas.

GMP 2026 mengusung tema “Penguatan Warisan Melayu untuk Transformasi Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan.”

Pembukaan Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026 di K-Square Mall, Batam, Rabu (16/9/2026) malam.

Tema tersebut menempatkan budaya sebagai kekuatan ekonomi baru. Identitas Melayu yang selama ini melekat pada Kepulauan Riau diterjemahkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan daya saing.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti, yang membuka GMP 2026 secara virtual, menyebut warisan budaya Melayu bukan sekadar identitas, tetapi dapat menjadi pembeda produk Kepri di pasar internasional.

Destry Damayanti, mengatakan pengembangan UMKM menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Kepri.

Menurut Destry, tema yang diusung dalam GMP tersebut relevan dengan karakteristik Kepri. Warisan budaya Melayu, kata dia, tidak hanya menjadi identitas daerah, tetapi juga dapat menjadi sumber nilai tambah yang membedakan produk-produk Kepri di pasar domestik maupun internasional.

“Warisan budaya Melayu bukan hanya identitas daerah, tapi juga sumber nilai tambah yang membedakan produk Kepri di pasar domestik maupun internasional,” ujar Destry.

Posisi strategis Kepri yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia dinilai menjadi modal penting untuk memperluas pasar ekspor sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Destry berharap kegiatan GMP tidak berhenti sebagai ajang promosi budaya dan UMKM, tetapi mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan transaksi, pembentukan kemitraan bisnis, serta perluasan akses pembiayaan bagi pelaku usaha di Kepri.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Destry menyebut perekonomian Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Pada triwulan II 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,3 persen, sementara inflasi tercatat 3,2 persen.

Ia juga menyampaikan bahwa ekonomi Kepri pada periode tertentu tumbuh hingga 6,99 persen dan menjadi yang tertinggi di wilayah Sumatera. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh sejumlah sektor, antara lain industri pengolahan, konstruksi, pertambangan, dan perdagangan.

“Capaian ini menunjukkan besarnya potensi ekonomi Kepri yang perlu terus kita jaga dan terus kita tingkatkan ke depannya,” katanya.

Destry menilai digitalisasi dan akses pembiayaan telah membuka peluang yang semakin luas bagi pelaku UMKM di Kepri.

Hingga Juli 2026, sekitar 96 persen merchant QRIS di Provinsi Kepri merupakan UMKM. Sementara itu, transaksi QRIS antarnegara yang dilakukan wisatawan telah mencapai sekitar Rp170 miliar.

Dari sisi pembiayaan, kredit kepada UMKM mencapai Rp17,3 triliun atau tumbuh 10,1 persen secara tahunan.

Menurut Destry, data tersebut menunjukkan mulai terhubungnya pasar, teknologi, dan pembiayaan bagi UMKM. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan keterhubungan tersebut benar-benar mampu meningkatkan omzet dan skala usaha.

“Pasar, teknologi, dan pembiayaan mulai terhubung. Tantangan berikutnya adalah memastikan koneksi tersebut benar-benar dapat meningkatkan omzet dan skala usaha UMKM,” ujarnya.

BI, lanjut Destry, akan terus memperkuat implementasi QRIS antarnegara untuk meningkatkan kenyamanan wisatawan dalam bertransaksi sekaligus memperkuat posisi Kepri sebagai destinasi yang adaptif terhadap perkembangan ekonomi digital.

Dalam pengembangan UMKM, BI bersama pemerintah daerah dan para mitra akan memperkuat tiga pilar utama, yakni korporatisasi, peningkatan kapasitas, dan pembiayaan.

Program pendampingan akan disesuaikan dengan kebutuhan serta potensi masing-masing daerah agar memberikan hasil yang lebih konkret bagi pelaku usaha.

Salah satu capaian yang telah diperoleh di Kepri adalah pelaksanaan business matching ekspor dengan calon pembeli dari Singapura, Malaysia, Brunei, dan Australia.

Kegiatan tersebut menghasilkan kesepakatan deal of income senilai Rp1,84 miliar.

Destry menekankan bahwa capaian tersebut perlu ditindaklanjuti agar kesepakatan yang telah terbentuk dapat berkembang menjadi transaksi yang berulang dan berkelanjutan.

“Hal ini tentu harus kita dorong agar transaksinya bisa terjadi berulang kembali,” katanya.

Sementara, Kepala Perwakilan BI Provinsi Kepri, Rony Widijarto Purubaskoro menegaskan bahwa warisan budaya Melayu tidak cukup dipelihara secara pasif. Warisan tersebut perlu diolah menjadi industri kreatif yang mampu menciptakan nilai tambah.

“Mulai dari penenun, penjahit, hingga desainer lokal, semua terlibat dalam rantai ekonomi yang inklusif ini,” tutur Rony.

GMP merupakan salah satu cara BI Kepri mendorong penguatan warisan budaya Melayu sebagai salah satu sumber penciptaan nilai tambah ekonomi melalui pengembangan UMKM, ekonomi kreatif, kuliner, fesyen, dan pariwisata, sekaligus memperluas digitalisasi dan akses pasar bagi pelaku usaha di Kepulauan Riau.

Dalam kesempatan yang sama Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kepri, Misni menyampaikan sinergi bersama BI dinilai membuahkan hasil nyata pada percepatan UMKM naik kelas, yang persentasenya meningkat signifikan dari 30,21 persen menjadi 35,46 persen di tahun 2025.

“Penyaluran pembiayaan UMKM yang melampaui target akan memberikan multiplayer effect bagi perekonomian Kepri. Terima kasih kepada BI yang terus menjadi ‘bapak angkat’ bagi UMKM di Kepulauan Riau,” ujar Misni.(qori)

Redaksi

Recent Posts

“Laga Para Juara” Berlanjut di PalembangFinal Regional AXIS Nation Cup 2026 Southern Sumatra Siapkan Wakil ke Panggung Nasional

AriraNews.com, PALEMBANG – PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (XLSMART) melalui brand AXIS menggelar Final Regional…

6 jam ago

Dua Personel SAR Natuna Lolos Seleksi Nasional, Tembus Basarnas Special Group IV

Natuna, AriraNews.com — Dua personel Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Natuna berhasil lolos seleksi tingkat…

20 jam ago

Amsakar Dorong Penguatan Sinergi Pemerintah dan Masyarakat untuk Pembangunan Batam

AriraNews.com, Batam – Pemerintah Kota Batam mendorong penguatan kolaborasi dengan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan pembangunan…

23 jam ago

Tanam Mangrove Bersama Dekranasda, Bupati Aneng Dorong Pelestarian Lingkungan

‎AriraNews.com, ‎ANAMBAS - Bupati Kepulauan Anambas, Aneng, menghadiri kegiatan penanaman pohon mangrove bersama Dewan Kerajinan…

1 hari ago

Boga Bali, Tempat Favorit Warga Johor Bahru Nikmati Ragam Cita Rasa Nusantara

AriraNews.com, Johor Bahru - Aroma rempah yang kaya menjadi pembuka pengalaman bersantap di Boga Bali,…

1 hari ago

Inflasi Kepri September Turun Jadi 3,49 Persen, Harga Emas, BBM dan Pangan Masih Jadi Perhatian

AriraNews.com, BATAM — Inflasi Kepulauan Riau (Kepri) pada September 2026 tercatat 3,49 persen secara tahunan…

1 hari ago