Batam

Penuhi Kebutuhan Air, Batam Bidik Sumber Air Baku dari Lingga

AriraNews.com, BATAM – Pemerintah Kota (Pemko) Batam mulai mendorong solusi jangka panjang untuk menjamin ketersediaan air baku seiring pertumbuhan penduduk, kawasan perumahan, dan aktivitas ekonomi yang terus meningkat. Salah satu opsi yang dinilai paling menjanjikan adalah mendatangkan sumber air baku dari Kabupaten Lingga.

Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengatakan pembahasan mengenai pengelolaan air di Batam telah dilakukan sedikitnya tiga kali bersama pihak terkait di tingkat pusat. Dalam pertemuan tersebut, ia meminta agar segera disusun roadmap pengelolaan air Batam yang tidak hanya berorientasi pada penanganan persoalan secara parsial, tetapi juga memberikan solusi jangka panjang.

“Setidaknya sudah tiga kali pertemuan. Saya lakukan di Deputi dengan Deputi dan bersama Direktur ABH dan SPAM. Saya minta tolong dibuat secepat mungkin roadmap soal tata kelola air di Batam,” kata Amsakar, Rabu (7/10/2026).

Menurutnya, selama ini penanganan persoalan air di Batam cenderung dilakukan ketika masalah muncul. Pola tersebut dinilai tidak cukup untuk menghadapi kebutuhan air yang terus meningkat.

Bawa, Kirim Hewan dan Tumbuhan Antar Wilayah Wajib Lapor Karantina

“Kami ingin ada solusi jangka panjang yang ditanggulangi,” ujarnya.

Amsakar menyebut setidaknya ada tiga hal utama yang harus masuk dalam roadmap pengelolaan air Batam. Pertama, revitalisasi jaringan perpipaan yang sebagian besar sudah berusia puluhan tahun.

Ia menyebut sejumlah jaringan pipa di Batam telah berumur lebih dari 25 tahun, bahkan ada yang mencapai 35, 45 hingga lebih dari 50 tahun. Jaringan yang dibangun pada dekade 1970-an, misalnya, kini telah berusia sekitar lima dekade.

“Kalau dia dibangun tahun 70, berarti umurnya sudah 50-an tahun. Kalau dibangun tahun 80, jaringan itu berarti umur pipanya sudah 40-an tahun. Kalau dibangun tahun 90, berarti umurnya sudah 30-an tahun,” jelasnya.

Kondisi tersebut membuat revitalisasi jaringan menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Namun, menurut Amsakar, pekerjaan tersebut membutuhkan basis data yang kuat untuk mengetahui kondisi jaringan secara menyeluruh.

“Revitalisasi ini membutuhkan data yang betul-betul kuat, karena tidak semua pipa-pipa itu dapat dideteksi,” katanya.

Amsakar Tegaskan APBD Batam 2027 Tak Sekadar Serapan Anggaran, tapi Harus Berdampak

Lingga Dinilai Punya Keunggulan Sumber Air

Selain revitalisasi jaringan, persoalan yang tidak kalah penting adalah memastikan ketersediaan air baku.

Amsakar mengatakan pertumbuhan Batam, baik dari sisi penduduk, perumahan maupun ekonomi dan investasi, otomatis meningkatkan kebutuhan air dari waktu ke waktu.

Saat ini Batam memiliki delapan waduk. Namun, satu di antaranya sudah tidak operasional sehingga praktis hanya tujuh waduk yang menjadi sumber air baku. Persoalannya, ketujuh waduk tersebut sangat bergantung pada kondisi cuaca dan curah hujan.

Karena itu, Pemko Batam mulai mencari sumber air baku alternatif. Dari sejumlah opsi yang pernah dikaji, sumber air dari Lingga dan Bintan menjadi dua alternatif yang dinilai memungkinkan.

Dorong Anak Muda Melek Finansial, CIMB Niaga Hadirkan OCTO untuk Pejuang Mimpi

“Dalam pemikiran kami dan pernah dilakukan studi oleh perusahaan sebelumnya, yang paling memungkinkan di Lingga dan Bintan,” ujarnya.

Dari dua pilihan tersebut, Amsakar menilai Lingga memiliki prospek yang lebih baik untuk menjamin kebutuhan Batam dalam jangka panjang.

Menurutnya, Lingga memiliki sumber air yang relatif melimpah dengan debit tinggi. Tantangannya adalah biaya pembangunan infrastruktur untuk membawa air dari Lingga ke Batam yang membutuhkan investasi besar.

Sementara Bintan memiliki sumber air yang lebih terbatas, tetapi biaya pembangunannya relatif lebih murah.

“Di Lingga, sumbernya banyak, debit airnya tinggi, tapi cost-nya besar. Di Bintan, sumbernya terbatas, cost-nya murah,” kata Amsakar.

Namun, jika harus memilih berdasarkan keberlanjutan sumber air dalam jangka panjang, Amsakar cenderung memilih Lingga.

“Kalau kita memilih dua itu, jika memang ada investor yang sanggup atau APBN cukup, kita harus memilih Lingga. Karena ini memiliki ketersediaan jangka panjang yang relatif lebih terjamin,” tegasnya.

Pemko Batam juga telah melakukan komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Lingga dan masyarakat setempat. Pembahasan tidak hanya menyangkut potensi sumber air, tetapi juga skema pembiayaan serta kemungkinan keterlibatan mitra atau investor.

Amsakar mengatakan skema pembiayaan menjadi salah satu pekerjaan penting yang harus dituntaskan sebelum proyek tersebut dapat direalisasikan.

“Kami juga sudah tiga kali bertemu dengan bupati dan warga Lingga. Ini memikirkan bagaimana skema pembiayaan yang paling mungkin, mitra yang paling mungkin untuk masuk ke situ,” katanya.

Waduk Baru Bisa Memakan Waktu Bertahun-tahun

Selain mengambil air baku dari daerah lain, opsi lain yang turut dipertimbangkan adalah membangun waduk atau dam baru di wilayah Batam.

Namun, opsi ini membutuhkan waktu cukup panjang. Amsakar memperkirakan pembangunan waduk baru setidaknya membutuhkan waktu sekitar tujuh tahun hingga dapat beroperasi.

Bahkan, jika waduk yang dibangun memiliki luasan lebih besar, waktu yang dibutuhkan hingga sumber air tersebut dapat dimanfaatkan juga bisa semakin panjang.

“Kalau kita bangun waduk baru, dia baru dapat operasional paling cepat tujuh tahun. Kalau luasannya makin besar, dia menjadi air tawar itu lebih lama lagi tahunnya,” ujarnya.

Karena pertimbangan waktu tersebut, Amsakar menilai pencarian sumber air baku dari luar Batam menjadi opsi yang lebih masuk akal untuk menjawab kebutuhan jangka panjang.

SCADA Akan Dikembalikan untuk Pantau Gangguan Secara Real Time

Selain sumber air baku dan revitalisasi pipa, Pemko Batam juga menyiapkan sistem pemantauan jaringan agar gangguan dapat diketahui secara cepat.

Salah satu yang akan dikembangkan kembali adalah sistem SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition). Sistem ini diharapkan dapat membantu memantau kondisi jaringan secara real time sehingga gangguan seperti kebocoran dapat segera diketahui dan ditangani.

“Yang ketiga, opsi yang juga harus dipikirkan itu bagaimana agar ketika ada problem real time dapat dilihat. Jadi SCADA itu harus dibuat kembali,” kata Amsakar.

Saat ini, tim disebut tengah bekerja mengarah pada pengembangan kembali sistem tersebut, bersamaan dengan penanganan persoalan air yang sifatnya masih parsial di lapangan.

18 Stress Area Jadi Quick Win

Di tengah penyusunan solusi jangka panjang, Pemko Batam tetap menjalankan sejumlah langkah cepat untuk mengatasi persoalan distribusi air di wilayah yang mengalami tekanan layanan.

Amsakar mengatakan komitmen penanganan terhadap 18 stress area telah masuk dalam perencanaan pemerintah daerah dan menjadi salah satu prioritas.

Menurutnya, salah satu pekerjaan yang telah dilakukan berkaitan dengan peningkatan kapasitas Instalasi Pengolahan Air (IPA).

“Antara lain soal IPA itu sudah selesai. Dari 2 liter per second sudah menjadi 5 liter per second, kalau saya tidak salah,” ujarnya.

Selain itu, pembangunan jaringan pipa juga telah diarahkan hingga kawasan Sengkuang. Amsakar menyebut pekerjaan tersebut telah dituntaskan sesuai target yang sebelumnya dijanjikan.

“Kemarin alhamdulillah janji saya akhir bulan 9 itu selesai, betul-betul selesai,” katanya.

Penanganan di 18 stress area tersebut menjadi quick win Pemko Batam sembari pemerintah menyiapkan solusi yang lebih mendasar.

Untuk jaringan yang rawan mengalami kebocoran, pemerintah juga mulai mempertimbangkan pembangunan jalur alternatif dengan spesifikasi pipa yang berbeda, termasuk ukuran dan ketebalan pipa.

“Sambil pelan-pelan melakukan revitalisasi, antara lain arah ke Mukakuning. Karena kalau bocor, saya bilang langsung saja disiapkan jalur alternatif baru dengan besaran pipa yang berbeda, ketebalan pipa yang berbeda. Mudah-mudahan jangka pemakaiannya jauh lebih lama,” ujarnya.

Amsakar menegaskan seluruh langkah tersebut akan diarahkan dalam satu roadmap pengelolaan air Batam yang berbasis kajian akademik dan kondisi aktual di lapangan.

Menurutnya, roadmap tersebut harus mampu menjawab persoalan Batam hari ini sekaligus mengantisipasi kebutuhan air di masa mendatang.

“Dua hal yang saya minta supaya betul-betul dituntaskan roadmap-nya dengan kajian-kajian akademik yang sesuai dengan existing yang ada,” katanya. (emr)

Redaksi

Recent Posts

Bawa, Kirim Hewan dan Tumbuhan Antar Wilayah Wajib Lapor Karantina

AriraNews.com, Batam – Kepatuhan menjadi kunci dalam memastikan penyelenggaraan karantina berjalan efektif. Memahami aturan, memenuhi…

59 menit ago

‎Bantuan Sembako Presiden Tiba di Anambas, Bupati Aneng Dorong Penyaluran Secara Merata

AriraNews.com, ‎ANAMBAS — Bupati Kepulauan Anambas, Aneng, didampingi Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga…

1 jam ago

Amsakar Tegaskan APBD Batam 2027 Tak Sekadar Serapan Anggaran, tapi Harus Berdampak

AriraNews.com, BATAM — Pemerintah Kota (Pemko) Batam mengarahkan penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)…

2 jam ago

Dorong Anak Muda Melek Finansial, CIMB Niaga Hadirkan OCTO untuk Pejuang Mimpi

AriraNews.com, Batam - Tiga siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau…

4 jam ago

Kolaborasi Dua Chef Internasional Hadirkan Perayaan Natal dan Tahun Baru dengan Sentuhan Nusantara di Oakwood Grand Batam

AriraNews.com, Batam - Menyambut musim liburan yang penuh kehangatan dan kebersamaan, Oakwood Grand Batam menghadirkan…

6 jam ago

Kantor SAR Natuna Bekali Komunitas Maritim, Kemampuan Pertolongan Pertama Hadapi Darurat di Laut

Natuna, Ariranews.com — Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas B Natuna membekali komunitas maritim dengan…

6 jam ago